BERUNTUNG

Setelah kehilangan data disertasi yang sangat amat berharga, saya jadi merenung betapa beruntungnya saya
Nyawa saya masih melekat dan saya masih sehat
Saya punya istri cantik yang mencintai saya
Saya punya anak-anak lucu yang cerdas
Saya punya orangtua yang sangat mendukung
Saya punya saudara-saudara yang selalu disamping saya
Saya masih punya tabungan untuk membeli nasi bungkus, segelas teh hangat dan sebungkus rokok Surya 12
Saya punya pekerjaan
Dan tentunya, …
Saya punya teman-teman konyol yang baik hati dan selalu ngeriwuki, … he, he, he, …

Saya mungkin tidak kaya, tidak terlalu cerdas walaupun agak ganteng (kwa, kak, kak, ka, …. ) tapi satu hal yang saya tahu adalah saya amat beruntung dalam hidup ini
Seorang teman yang baik hati, yang berpikir bahwa saya sedang stres memberi (atau memerintah ?) untuk bertobat dan berdoa kepada Tuhan disertai dengan evaluasi gratis tentang masalah ke-Tuhan-an dalam diri saya

Saya bingung
Apa urusannya kehilangan laptop di bus malam dengan Tuhan dan Agama ?

Dalam konsep saya :
Sayalah yang ceroboh dan tidak waspada sehingga laptop dan data disertasi saya hilang
Sayalah yang salah dan saya harus menerima konsekuensi kesalahan saya
Betapa mahalpun konsekuensi itu, harus saya tanggung
Bukankah setiap orang lahir sendirian dan akan mati sendirian ?
Hidup kita adalah tanggung jawab kita
Saya tidak mau menyalahkan orang lain
Dan juga tidak mau berurusan dengan hal-hal muskil
Ijinkan saya merasa beruntung dengan diri saya
Tanpa berurusan dengan Tuhan dan agama-agama

Bukan saya bermaksud sombong dan meremehkan Tuhan maupun agama tapi satu hal yang saya tahu selama hidup saya adalah :
Saat saya kesulitan bukan Tuhan atau agama yang membantu saya
Yang membantu saya adalah ALAM dan MANUSIA
Karena itu ijinkan saya untuk mencintai alam dan menghormati manusia saja

Teman yang lain menyarankan agar saya mencari kedamaian dengan mendekatkan diri pada orang yang ahli agama
Waduh, konsep apalagi ini ?

Siapakah orang yang ahli dengan agama ?
Adakah satu orang di dunia ini yang paham dengan Tuhan ?
Pertanyaan terlalu jauh ?
Oke, siapakah orang di dunia ini yang memahami roh (yang katanya ada dalam diri kita dan menghidupi kita) ?
Saya lanjutkan dengan semua konsep keagamaan yang lain
Sampai saat ini ternyata :
Saya belum pernah menemukan orang yang bisa mengerti dan membuktikan semua konsep agama yang dianutnya

Rasanya saya beruntung karena dari kecil telah mengalami persentuhan dengan banyak konsep agama, ke-Tuhan-an dan ideologi selain yang dimiliki oleh orang tua saya.
Saya beruntung karena saya tidak ekslusif

Konsep tentang agama dan Tuhan umumnya bersifat transenden sehingga sebenarnya seluruh konsep ini tidak berhubungan dengan siapa orang yang kita tanya atau dengan berapa banyak jumlah bacaan keagamaan kita.

Bagi saya beragama adalah tentang perilaku sehari-hari
Tidak penting apakah seseorang bersembahyang atau tidak
Tidak penting apakah seseorang percaya atau tidak percaya pada Tuhan
Tidak penting apakah seseorang pernah membaca kitab suci atau tidak
Bagi saya, yang penting adalah :
Apakah saya mencintai alam dalam bentuk tindakan nyata seperti menggunakan prinsip reuse dan recycle, hemat energi dll ?
Apakah saya mengerti orang lain dan dimengerti oleh orang lain ?
Apakah saya berusaha membantu orang lain ?
Apakah saya sudah berusaha berpikir yang benar, berbicara yang benar dan bertindak yang benar sehingga tidak menyakiti orang lain ?
Apakah saya sudah berusaha menolong orang lain ?
Apakah saya sudah menghormati orang lain dan alam semesta ?

Bagi saya yang penting adalah tindakan nyata, bukan omongan dan bukan simbol-simbol yang menyilaukan mata (yang seringkali hipokrit).
Sungguh aneh rasanya melihat seseorang yang selalu berteriak-teriak menyebut nama Tuhan-nya atau kemana-mana selalu menyelipkan kitab sucinya sementara tindakannya tidak menjadi lebih baik dari hari ke hari dan malah justru makin munafik karena punya tameng agama sebagai pelindung tindakannya
Jujurlah
Berterus-teranglah
Akui apa adanya
Saya tidak suka memakai topeng dan merasa tidak nyaman bergaul dengan orang-orang yang berbicara di balik topeng
Saya bangga dan merasa beruntung dengan apa yang saya miliki saat ini, saya tidak menginginkan sesuatu yang bukan milik saya, saya tidak iri dengan orang lain, saya berusaha jujur dan apa adanya dan sungguh, bagi saya, dunia ini terasa lebih ringan

Maafkan saya apabila telah mengguncang bumi tempat teman-teman berpijak dan membuat semua yang teman-teman yakini terasa tanpa makna dan tanpa arti.
Sungguh, bukan maksud saya menghina keyakinan teman-teman
Maafkan saya, bukan itu maksud saya

Yang ingin saya bicarakan adalah tentang keberuntungan
Betapa beruntungnya kita karena memiliki ayah, ibu, nenek, kekasih, anak, kawan, sahabat dan semua manusia lainnya
Merekalah tempat kita berpijak seperti halnya kitalah tempat mereka berpijak
Bagi saya, lebih baik saya mengurusi dan menyayangi manusia-manusia terdekat dengan saya, untuk kemudian berlanjut ke manusia lain yang lebih jauh, untuk kemudian mengurusi dan menyayangi alam
Dibandingkan
Bersembahyang dan berceloteh tentang Tuhan

Dalam hubungannya dengan keyakinan dan bukan dengan dunia materi, tidak ada ukuran apapun yang dapat digunakan untuk mengkuantifisir keyakinan orang lain
Tidak ada ukuran yang bisa digunakan untuk mengukur orang lain dalam masalah agama dan ke-Tuhan-an
Tidak kitab suci, tidak juga orang suci, apalagi orang-orang yang mengaku suci. Keyakinan adalah masalah rasa, masalah selera.
Dalam perspektif ini, pilihan atas keyakinan adalah sama dengan pilihan atas makanan.
Ada orang yang suka dan siap membeli sup sirip ikan hiu, yang bagi saya tidak layak dibeli karena terlalu mahal harganya
Saya selalu mencoba untuk memisahkan antara masalah dunia materi dengan masalah keyakinan karena dasar-dasar ukurannya berbeda dan tidak bisa dicampuradukkan
Sekali saja kita mencampuradukkan masalah ini, maka kita akan kehilangan hubungan dengan realitas

Kawanku yang baik, kenapa anda merasa berhak untuk menyuruh orang lain bersembahyang dan bertobat ?
Apakah tindakan anda sudah sesuai dengan kata-kata anda ?
Sudahkah anda lebih suci dari orang yang anda minta untuk bersembahyang ?
Otoritas apa yang anda punya sehingga merasa berhak untuk menghakimi bahwa orang itu telah "neko-neko" terhadap Tuhan ?

Berhati-hatilah kawanku yang baik, karena pada saat kita menuding orang lain dengan jari telunjuk, empat jari yang lain sedang menunjuk ke arah diri kita sendiri

Kawanku yang baik, terimakasih atas ajakan, himbauan dan evaluasi ke-Tuhan-an yang telah anda berikan pada saya
Maafkan saya,
Saya punya pendapat yang berbeda
Dengan segala hormat ijinkan saya mengajak anda untuk berhenti menghakimi dalam masalah keyakinan karena kebudayaan dan peradaban tidak akan bergerak maju apabila hanya diisi dengan penghakiman atas keyakinan
Bagi saya tindakan nyata lebih baik daripada kata-kata tanpa makna

Saya memang bukan orang yang sempurna
Saya menyukai Asia Carrera seperti halnya saya menyukai Mahatma Gandhi dan Rommel
Saya suka merokok seperti halnya saya juga suka bekerja sukarela demi kemanusiaan
Namun saya merasa cukup beruntung dan saya bangga dengan hidup saya
Ijinkan saya untuk bangga dengan apa yang saya miliki dan saya yakini
Karena tanpa kebanggaan itu, rasanya siapapun tidak akan memiliki apa-apa

Salam Anti Penghakiman terhadap Keyakinan seseorang
Made Surya Putra

Komentar Anda