BANGGA ?

Setelah tidak lama jadi pengangguran terselubung di era millennium ini, saya bertemu dengan seorang warga negara Paman Sam yang menawarkan pekerjaan yang ruarbiasa. Bayangkan, saya akan bekerja dari satu tempat ke tempat lain dengan penerbangan kelas satu, bekerjasama dengan anggota tim yang berasal dari seluruh dunia dan akhirnya, akan memperoleh upah minimum perhari yang sama dengan gaji PNS sebulan. Dengan ludah menetes-netes saking ngiler-nya langsung saya sambar kesempatan baik itu.

Tempat kerja saya adalah sebuah badan internasional yang menjadi rentenir bagi negara-negara berkembang, … gile cing, … keputusan saya akan berpengaruh terhadap nasib jutaan orang, ini baru dahsyat dan membanggakan.

Pertamakali bertemu dengan teman-teman satu tim, saya harus mengerahkan seluruh kemampuan bahasa Inggris yang terbatas. Dari 28 orang yang bekerja satu tim dengan saya, hanya ada 2 orang Inlander, sisanya berasal dari negeri antah berantah. Ada yang ibunya dari Timur Tengah, bapaknya dari Scandinavia dan dia sendiri berwarga negara Kanada. Ada lagi yang cantiknya minta ampun, Anna Kournikova aja kalah, cuma beda potongan rambut aja, dan sexinya itu bikin mata jadi tidak berkedip, tapi masalahnya si cantik ini namanya susah dibaca karena lebih banyak huruf matinya dibandingkan huruf hidupnya, jadi saya putuskan untuk tidak mendekatinya… he, he, he, ….

Dari lantai 16 salah satu gedung paling bergengsi di segitiga emas Jakarta, saya menerima penugasan ke wilayah-wilayah tertentu. Wilayah kerja saya adalah 7 daerah konflik di Nusantara, dari yang paling Barat sampai yang paling Timur, dari yang paling berdarah-darah sampai yang agak berdarah. Entah datang darimana keberanian saat itu untuk bersedia ditugaskan di tempat orang makan orang seperti itu, mungkin lebih banyak karena dorongan petualangan dan tentunya ketololan yang memang menjadi cacat lahir saya, he, he, he ,….. Akhirnya, tanpa menghitung risiko terlalu banyak saya segera berangkat.

Nah, disini masalah mulai timbul dan kebanggaan di dada mulai menyurut.

Masalah Pertama, situasi keamanan masih belum pulih, masih banyak senjata tempur yang beredar di masyarakat sipil, sementara pihak yang dijamin oleh undang-undang untuk berhak membawa senjata ternyata tidak terlalu dapat diandalkan. Lupakan dulu film Hollywood dimana kalau sang jagoan membidik kaki maka yang terkena adalah kaki. Di daerah konflik, orang-orang yang pegang senjata kalau membidik kaki, yang terkena malah kepala, syukur-syukur kalau kepala orang yang dibidik, dalam banyak kasus, seringkali yang kena malah kepala orang disebelahnya. Senjata perorangan bikinan sendiri sangat populer di daerah konflik, ada yang disebut rakitan, ada yang disebut locokan dll, masalahnya, senjata-senjata ini tidak standar karena larasnya dibuat sendiri dan tidak berulir, sementara kemampuan penggunanya juga tidak karu-karuan ditambah dengan situasi mental yang sedang trigger happy. Alamak, kalau sudah dengar suara tiang listrik yang dipukul bertalu-talu, jantung rasanya mau copot dan celana jadi basah, he, he, he, …

Masalah Kedua, pemerintahan sipil belum berjalan normal. Situasinya lebih mirip seperti seperti Wild Wild West di jaman Lucky Luke, siapa kuat, dia berkuasa. Orang yang punya uang bukan hanya bisa membeli property yang diinginkan, dia bahkan bisa membeli nyawa orang lain yang diinginkan.

Untunglah, (kwa, kak, kak, kak… ini asli penyakit orang Indonesia, sudah terjepit situasi semacam ini masih bisa bilang UNTUNG) logat saya yang Bali udik ditambah dengan tulisan di KTP yang terbaca Hindu menyelamatkan saya dalam banyak situasi. Kalau yang sedang ribut dari penganut agama ini melawan penganut agama itu, maka saya mengaku beragama Hindu, dan selamatlah nyawa yang cuma sepotong ini. Kalau yang bertempur suku ini melawan suku itu maka saya mengaku suku Bali dan sekali lagi selamatlah saya. Entah bagaimana dengan nasib orang Agnostik yang terjebak dalam situasi semacam itu, he, he, he, ….

Masalah Ketiga muncul dari kesadaran yang terlambat bahwa saya sesungguhnya sedang bekerja di sebuah badan internasional yang bertahun tahun sudah memeras ibu pertiwi (sok nasionalis dikit boleh kan ?). Uang gaji yang saya terima ternyata tidak dipotong pajak oleh NKRI tapi dipajaki oleh londo yang bermarkas di Washington karena kontrak saya adalah dengan institusi yang bermarkas disana. Dan ternyata apa yang disebut dengan BANTUAN, senyatanya adalah HUTANG yang harus dibayar oleh anak cucu saya. Gile bener, ternyata gw jadi anak buah kompeni cing, …

Untuk masalah yang pertama, berhadapan dengan orang-orang yang sedang mengalami ketegangan mental, pelan-pelan sanggup saya atasi, seganas-ganasnya orang, biarpun sedang bawa kelewang bergerigi atau bawa SKS yang sudah terkokang, kalau dihadapi dengan perasaan tenang dan dengan komunikasi yang jujur, ternyata melunak juga. Ternyata benar kata orang bijak, kejujuran terbaca dari mata dan gerak tubuh kita. Karena saya tidak punya kepentingan apapun kecuali mencoba membangkitkan perekonomian yang terpuruk di daerah konflik (keren ya ? he, he, he, … hidup narsis), maka saya santai-santai saja dan rupanya ini dimengerti oleh pihak-pihak yang terlibat dalam konflik. Perbincangan santai dari hati ke hati ternyata dapat membuka jalan ke nurani seseorang.

Tapi rupanya tidak semua orang di daerah konflik bisa mengatasi masalah yang pertama itu. Ijinkan saya bercerita tentang suatu daerah kecil yang sangat terpencil. Untuk menuju wilayah ini, saya terbang 1,5 jam dari Cengkareng, transit dulu di markas sop Konro, ganti pesawat kecil dan terbang 1 jam. Mendarat di landasan pendek dan ganti naik speedboat selama 1,5 jam. Puas dikocok-kocok speedboat, di dermaga sudah menunggu mobil yang langsung mengantar sampai habis jalan aspal dan dilanjutkan dengan naik sepeda motor selama 40 menit. Alamak jan, jauhnya daerah ini, namun ajaibnya, disini juga ada pertempuran, sisanya bisa dilihat dari banyaknya bekas rumah yang terbakar dan makam-makam tak bernama. Sejak naik speedboat, saya ditemani oleh seorang liaison officer dari pemerintah setempat dan rupanya orang ini pernah terlibat dalam salah satu penyerbuan. Awalnya saya tidak mengerti kenapa wajahnya pucat pasi dan gerak tubuhnya sangat gelisah saat memasuki wilayah terpencil itu. Ternyata rasa bersalah dan ketakutan akan bayangan sendiri tidak dapat disembunyikan walaupun sebenarnya tidak terjadi apapun saat saya berada disana, penduduk asli sangat baik dan menyuguhi kami dengan penganan yang lezat (gratis lagi, he, he he, … ). Tak berapa lama saya pamit dan segera kembali dengan kawan liaison officer ini karena tidak tega melihat kegelisahannya.

Rupanya ada saat-saat dimana nurani tidak dapat kita bohongi.

Oke, masalah yang kedua, tentang pemerintahan sipil yang tidak berdaya. Ini lebih berat karena ternyata bukan cuma kompeni yang bangsat, saudara sesama Inlander yang kebetulan menjadi raja lokal juga banyak yang sama bangsatnya. Selera makan raja-raja lokal ini sangat aneh, bukan cuma bisa makan nasi dan lauk pauk, ternyata mereka juga bisa makan peluru, makan bensin bahkan jatah pengungsi konflik juga diembat. Anjrit, saya menyumpah serapah tapi ternyata tidak punya kekuatan untuk merubahnya. Kekuatan mereka besar dan jaringannya luas. Jangan bayangkan raja lokal hanya berpengaruh di daerah terpencil, ternyata mereka meninggalkan jejak uang di Senayan. Badan dan nyawa saya selamat tapi sungguh jiwa saya melarat karena berkubang dalam kekacauan ini (sok idealis dikit boleh kan ?) yah, … seperti post_title film Indonesia, Bernafas Dalam Lumpur, Beranak Dalam Kubur, he, he, he, ….

Dan hantaman terkeras datang dari masalah ketiga karena saya jadi anak buah kompeni untuk memeras negeri sendiri. Saat rapat dengan orang-orang Washington, yang beberapa diantaranya adalah orang-orang yang sangat baik, saya berpikir ulang tentang fungsi saya dalam mesin besar kapitalisme ini. Daya tarik uang memang dahsyat, lha bagaimana tidak dahsyat, kalau dengan mengumpulkan uang per diem aja kita bisa beli mobil. Kantor mentereng di segi tiga emas Jakarta (pintu kantornya lapis tiga Bro, katanya untuk keamanan), fasilitas kelas satu (berminggu-minggu menginap di hotel bintang 5, sampai kenal dengan General Manager sak tukang parkir hotelnya), pokoknya serem dan gagah. Tapi rasanya saya bukan jenis orang cerdas yang bisa membohongi nurani, ketololan justru membimbing saya untuk resign dari pekerjaan yang asyik ini.

Ternyata di titik ini, tidak ada lagi kebanggaan yang tersisa di dalam hati. Dengan berat hati harus saya akui bahwa saya tidak bisa dan tidak terbiasa jadi orang serem yang gagah dan mentereng. Thanks to Marx and Angel, akhirnya saya menemukan satu lagi cacat lahir saya, he, he, he, …. Setelah kembali ke jalanan, saya mencoba menganalisis tentang apa yang terjadi pada diri ini. Akhirnya saya menemukan satu kesimpulan

Penghargaan terhadap diri sendiri tidak datang dari perhiasan luar dan juga tidak datang dari keterpesonaan orang terhadap diri kita. Kebanggaan internal dan penghargaan terhadap diri sendiri ternyata datang dari tercapainya tujuan-tujuan nurani yang berfokus kepada kontribusi bagi kemanusiaan.

Alamak jan, ternyata jadi serem bener kesimpulan mengenai kebanggaan diri ini, tapi ya begitulah hasil analisis saya. Entah benar, entah tidak. Semoga saja benar, karena kalau tidak benar, berarti saya harus mencari lagi dan jangan-jangan harus nyemplung lagi ke daerah konflik, he, he, he, … . sungguh pengalaman yang tidak ingin saya ulangi lagi (kecuali duitnya, kwa, kak, kak, kak … )

Salam Merenung di pagi yang gerah di Malang
Made Surya Putra

Komentar Anda