Tuturan Bahasa tanpa Batas


There is only one language..
language of heart..
hanya ada satu bahasa di dunia ini, satu bahasa yang tidak terbatasi oleh apapun, bahasa hati.. Apabila kita mau meluangkan sedikit saja waktu untuk merenung, akan tampak sebuah keganjilan daripada bahasa yang bibir kita biasa ucapkan. Seringkali, apa yang ada dalam hati, yang ingin diucapkan melaui perantara ‘bibir’, seringkali pula, orang lain salah menangkap daripada apa maksud yang sebenarnya ingin disampaikan.
Sebagai contoh keterbatasan kata – kata. Apabila Anda ingin menjelaskan rasa pisang kepada orang lain, adakah kata yang memiliki makna sama persis dengan apa yang ingin Anda sampaikan? bagaimanakah rasa pisang? apakah manis? berarti seperti gula..apakah kecut? berarti seperti jeruk.. Jadi, dapatkah kita menemukan sebuah kata yang tepat untuk merepresentasikan rasa buah pisang..? saya pikir, setidaknya sampai detik dimana saya bertutur melalui tulisan ini, tidak ada kata yang demikian..
Dari ilustrasi kecil diatas, saya hanya sedikit merangkai apa yang saya bisa tangkap dari bahasa alam yang ada di sekitar kita. Saya terkagum akan bahasa ketulusikhlasan daripada setangkai bunga. Pada saat bunga belum bermekaran, apakah pernah kita memujinya? namun pada saat bunga telah mekar, dengan semerbak aroma wanginya, kita memujinya. Namun, apakah bunga pernah menuntut pujian dari bibir kita..? apakah dengan pujian yang kita lontarkan, bunga itu akan tampak semakin indah dan wangi..? tidak. Tapi, apakah makna bahasa diam yang diperagakan oleh bunga kepada kita yang dapat kita terjemahkan.? Bunga, dengan tulus ikhlas menyebarkan semerbak aroma wanginya dan keindahannya yang mempesona, namun ia sama sekali tidak pernah menuntut apapun dari kita..Pujian yang seringkali kita lontarkan, hanyalah menjadi bahasa kemunafikan kita..
Bunga, dengan tulus dan ikhlas, telah bertutur kepada kita semua, dengan bahasa ‘diam’nya. Sedangkan kita, yang terlalu sering bergulat dengan keterbatasan bahasa yang hanya bisa membatasi makna atau maksud yang sebenarnya..
Kata – kata, hanyalah pembatas, dan juga seringkali dapat menjadi penambah maupun pengurangan makna yang sesungguhnya. Kata – kata sering melebih – lebihkan ataupun mengurangi sesuatu. Bahasa hati yang sesungguhnya, setiap insan dapat memahami, tidak pernah kita gunakan. Bahkan, seekor anjing pun, mahir menggunakan bahasa hati. Coba perhatikan kesetiaan seekor anjing kepada majikannya. Saya pikir, kesetiaan daripada apa yang telah ditunjukan oleh seekor anjing, merupakan bahasa cinta daripada anjing, yang tidak dapat berkomunikasi dengan bahasa verbal, bahasa seperti kita. Namun, seekor anjing lebih mahir menggunakan bahasa hati, ketimbang kita, yang menjadi terkekang oleh sempitnya bahasa verbal kita.
Sebuah senyuman, seringkali lebih dapat menjadi representasi yang sangat tepat ketimbang kata – kata yang dapat diucapkan..Tatkala hati sedang ‘sumringah’ dengan sebuah kedatangan ‘tamu’ yang bernama kebahagiaan, sebuah senyuman yang lebar pun menghiasi wajah, sudah dapat menjelaskan apa yang sedang dirasakan..tatkala kedatangan ‘tamu’ bernama penderitaan, hati sering terasa pilu, senyuman miris juga terpajang pada wajah. Dari sini pula, ada pernyataan seorang sahabat yang sangat bijak menuturkan..Tatkala kebahagiaan merasuki, kita belajar menerimanya dengan tersenyum, namun, tatkala penderitaan menyapa, kita juga belajar untuk menerimanya dengan senyuman..Karena semuanya, kebahagiaan ataupun penderitaan, merupakan hadiah rutin dari Tuhan untuk kita..
Sebuah ungkapan klise, cinta, seringkali terbatasi oleh kata – kata yang digunakan untuk menjelaskannya. Tatkala cinta, diungkapakan dengan kata – kata yang digunakan, hal ini hanyalah mengekang cinta dalam ruangan yang sempit.Tapi, biarkanlah cinta menggunakan bahasa hati, agar cinta mendapat ruang yang seluas – luasnya untuk bertutur dan bernyanyi kepada kita.. Sebuah kekuatan terbesar di dunia ini, kekuatan diatas pikiran dan pengetahuan, kekuatan cinta..Dunia mengalami perubahan dari zaman ke zaman, juga dihiasi dengan cinta. Bagaimanakah, bila bumi (mungkin dalam hal ini, lebih tepatnya Tuhan, dengan garis takdir-Nya) benar – benar mencintai kita, umat manusia, dengan ‘menghentikan’ (mungkin kata ini lebih halus daripada memusnahkan) dominasi keluarga Dinosaurus di bumi..?
Kembali kepada konteks tuturan bahasa hati. Mungkin, adakalanya kita menggunakan bahasa hati, untuk berkomunikasi..Orang tua kita, Anda dan saya, menggunakan bahasa hati yang tidak verbal untuk bertutur kepada kita, bahwa mereka mencintai kita setulus hati..Mereka lebih sering menggunakan bahasa hati. Sebagai contoh kecil, apa yang telah mereka berikan kepada kita, dan untuk apa pula mereka rela membanting tulang demi kita anak – anaknya.? Semua itu adalah kata – kata cinta dalam bahasa hati mereka kepada kita..Bukankah, bahasa hati yang mereka gunakan, lebih bermakna ketimbang kata – kata kosong yang seringkali menjadi daratan yang dibatasi oleh luasnya samudera makna..?
Sebenarnya, untuk apakah saya menulis tulisan ini, apabila kita bisa menggunakan bahasa hati untuk berkomunikasi…? sebenarnya, tulisan ini, hanyalah bahasa yang saya gunakan, untuk menggantikan suara dari bibir saya yang seringkali ‘terkontaminasi’ oleh berbagai macam pikiran negatif..Tapi, bila kita semua (walaupun tidak akan pernah sempurna) telah bisa berkomunikasi dengan bahasa hati, yang tidak mengenal abjad, namun dapat menjelaskan apa makna yang paling sebenarnya dan paling luas. Seperti tuturan sajak singkat ini..

"Kereta, bukanlah kereta bila belum dijalankan,
Genta, bukanlah genta bila tiada dibunyikan,
Nyanyian, bukanlah nyanyian bila tiada dinyanyikan,dan,
Cinta, bukanlah cinta, bila tiada dilaksanakan,
bukan di ucapkan…"

"Biarkan hati, bertutur kepada kita yang tiada sempurna ini, melalui bahasa yang tiada berabjad, namun dapat kita pahami, juga dengan hati.."

Komentar Anda