Revitalisasi Nasionalisme, Dari Mataram Untuk Indonesia

Nasionalisme yang kita miliki saat ini sering kali muncul dalam wujud yang keliru. Kita bereaksi saat apa yang kita miliki diambil orang lain. Kita baru merasa memiliki justru disaat kita terancam kehilangan. Namun, ketika tidak ada yang mengusik, kita cenderung tidak terlalu peduli.

Paling tidak, itulah anggapan dari Suma Mihardja, salah satu narasumber pada Seminar Nasional yang diadakan oleh Kesatuan Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia (KMHDI) pada Kamis (3/9). Ia banyak menyentil isu masalah budaya Indonesia yang terus mendapat rongrongan. Suma Mihardja menegaskan bahwa ketimbang ngotot mengakui, kita semestinya belajar untuk lebih menghargai dan menghayati budaya milik kita sendiri karena sebenarnya sebuah budaya baru akan bernilai agung ketika kita memiliki keterikatan emosional disitu.

Acara bertajuk "Refleksi Pemuda Dalam Membangun Bangsa Perspektif Nilai Nilai Nasionalisme Dan Pendidikan" itu memang intens menyoroti masalah nasionalisme dari berbagai sudut pandang. Bertempat di Gedung LPMP Mataram, Nusa Tenggara Barat, seminar nasional ini sebenarnya merupakan salah satu agenda dari rangkaian pelaksanaan Rapat Koordinasi Nasional IX 2009 Mataram – NTB. Selain dihadiri oleh anggota Pimpinan Daerah dan Pimpinan Cabang KMHDI seluruh Indonesia, gedung LPMP juga dipenuhi oleh undangan dari organisasi mahasiswa lain yang terdapat di Mataram dan Lombok.

Menimpali Suma Mihardja, hadir pula dua narasumber lain dengan perspektif yang berbeda, yakni I Made Susila Adnyana dan I Nyoman Widiarsana. I Made Susila Adnyana, yang merupakan Komandan Landasan Udara Lombar, menekankan pentingnya pertahanan nasional dengan penguatan empat pilar NKRI, yaitu Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, Sumpah Pemuda, dan Bhinneka Tunggal Ika. Sementara Widiarsana, salah satu alumni KMHDI, lebih mengangkat masalah pendidikan, terutama tentang pendidikan budaya, agama, dan budi pekerti yang sesungguhnya esensial namun tidak mendapat porsi yang semestinya. Ia juga mengkritik keras kecenderungan yadnya umat Hindu yang hanya terpaku pada pembangunan pura sampai melupakan bidang pendidikan. Padahal menurutnya salah satu yadnya yang paling mulia adalah Jnana Yadnya.

Hal menarik justru terjadi setelah seminar. Untuk pertama kalinya, KMHDI mengadakan Forum Group Discussion (FGD) bagi para peserta. Peserta seminar dibagi menjadi beberapa kelompok yang bertugas untuk mendiskusikan seminar tersebut. Masing-masing kelompok mewakili perspektif yang berbeda, baik dari Hankam, Hannas, Wanas, Pendidikan, Budaya, dan Nasionalisme. Tiap kelompok di akhir diskusi memaparkan hasil diskusinya untuk kemudian ditanggapi oleh peserta lainnya. Hasil dari diskusi ini akan dijadikan pertimbangan oleh pengurus pusat KMHDI sebagai rekomendasi eksternal untuk pemerintah Indonesia.

Komentar Anda