Pengalaman Spiritual Tak Terlupakan

Panitia Rapat Koordinasi Nasional IX KMHDI menyiasati dengan cerdas kemungkinan kejenuhan peserta. Menyadari bahwa peserta akan mengalami kelelahan setelah menjalani rangkaian acara, panitia membawa para peserta dari berbagai daerah di Indonesia itu untuk menikmati keelokan alam Lombok. Semua itu dibalut dalam kemasan tirta yatra dan bakti sosial ke tempat-tempat suci Hindu.

Acara yang dilangsungkan di hari terakhir (5/9) itu tidak tanggung-tanggung membawa peserta ke empat lokasi berbeda. Tiga pura besar yang tersebar di Lombok dikunjungi, yakni Pura Pancaka, Pura Suranadi, dan Pura Batu Bolong. Di tengah-tengah acara, anak-anak KMHDI juga berkunjung ke Pura Bukit Catu di daerah Suranadi dengan tujuan utama melakukan bakti sosial.

Pura Pancaka menjadi objek pertama yang disinggahi. Lokasinya yang berada di tengah kota membuat perjalanan menuju pura menjadi sangat singkat. Tak sampai 10 menit dari Wisma Nusantara, tempat berlangsungnya Rakornas IX, para peserta yang berjumlah 68 orang tersebut telah mencapai areal pura. Persembahyangan, yang dipimpin oleh pemangku setempat, menjadi menu utama disini.

Melanjutkan perjalanan, rombongan KMHDI yang menggunakan fasilitas dua unit truk dan satu bus, menuju ke lokasi kedua, yakni Desa Suranadi. Dibutuhkan waktu yang cukup lama untuk mencapai desa yang banyak dihuni umat Hindu ini. Akses menuju desa pun cukup sulit. Namun hal tersebut tidak sedikit pun menyurutkan semangat peserta.

Pura Bukit Catu di Dusun Pemunut Desa Suranadi Kecamatan Narmada, Lombok Barat, yang menjadi tempat bakti sosial, didatangi terlebih dahulu. Warga lokal ternyata tak kalah antusiasnya menyambut kedatangan peserta. Bahkan kepala dusun disitu secara khusus mengumpulkan warganya di areal pura. Yang unik, warga disitu ternyata menggunakan bahasa Bali sebagai alat untuk berkomunikasi. Alhasil ramah tamah pun terjadi antara anggota-anggota KMHDI dan warga setempat. Kepala dusun Pemunut juga sempat menceritakan secara singkat sejarah Pura Bukit Catu. Acara bakti sosial ditutup dengan pemberian dana punia dan sembako yang secara simbolis diterima pemuka masyarakat setempat. KMHDI melalui salah satu presidiumnya, Anom Gautama, menyampaikan penghargaan kepada penduduk lokal. Menurutnya, orang-orang KMHDI bisa banyak mengambil pelajaran dari pertemuan singkat ini. "Kami belajar banyak tentang arti ketulusan dan kebersamaan", sebut Anom.

Selewat tengah hari, peserta menuju lokasi tirta yatra ketiga, yaitu Pura Suranadi. Disini peserta tak hanya melakukan persembahyangan, namun juga melakukan mandi keramat. Ya, pura yang memiliki beberapa areal terpisah ini menyimpan suatu tempat yang unik, yakni mata air keramat. Konon katanya, tempat pemandian ini dapat menyucikan orang-orang yang mandi disitu. Anggota-anggota KMHDI yang datang dari luar daerah tentu tidak ingin melewatkan kesempatan tersebut begitu saja. Banyak yang melakukan ritual mandi keramat tersebut dan mengaku merasakan kesegaran tersendiri.

Pura terakhir adalah Pura Batu Bolong di daerah Senggigi, Kecamatan Batu Layar Lombok Barat. Selain persembahyangan, keindahan panorama Senggigi menjadi daya tarik utama bagi para peserta. Keindahan pantai yang dipadu dengan pemandangan alam di Pura Batu Bolong membuat semua peserta tak bisa menahan diri untuk mengabadikan momen tersebut. Suasana sore yang ditandai dengan panorama matahari tenggelam menyempurnakan rangkaian tirta yatra itu. Sungguh suatu pengalaman spiritual yang tak akan terlupakan.

Komentar Anda