GENERASI MILD




Jika kita mau memperhatikan keterkaitan antara pola fikir masyarakat dengan media massa seperti sebuah aliran yang paralel. Tidak dapat diambil sebagai sebuah kesimpulan apakah media massa yang membentuk pola fikir masyarakat atau pola fikir masyarakat yang membentuk media. Tentunya kita tidak sedang membicarakan umur diantara keduanya.

Terlepas dari kemampuan manusia untuk mempertahankan diri dari lingkungan di luar dirinya, pengaruh media sangat besar dalam membentuk kondisi aktual masyarakat. Pola fikir sebagai bagian yang abstrak dari faktor pembentuk kebudayaan, hanya dapat dilihat dari wujud kongkretnya berupa produk budaya yang diciptanya dari hasil olah cipta rasa dan karsa yang dimilikinya. Karena itu ide, konsep, norma, nilai aturan adalah merupakan wujud kongkret dari pola fikir yang abstrak tadi.

Mempelajari pola fikir ini, hanya dapat dilakukan melalui penggabungan wujud-wujud kongkret yang dimilikinya menjadi suatu gambaran utuh.

Tentunya kemampuan untuk membaca ini menjadi salah satu faktor penting bagi trendsetter. Dengan tujuan yang lebih praktis kemampuan untuk membaca informasi ini menjadi modal dasar bagi suatu pihak. Produsen barang misalnya.

 

Generasi muda dan rokok

Kenapa rokok menjadi kajian yang menarik untuk mempelajari pola fikir masyarakat? Siapa yang dapat menunjukkan sejarah rokok? Siapa orang pertama kali merokok? Kenapa orang akhirnya memutuskan untuk merokok?

Tentu saja saat ini kita masih mendengar beberapa sebutan yang dijadikan alasan seseorang untuk merokok. Dulu Sampoerna menggunakan beberapa pimpinan perusahaan besar sebagai aktor iklannya. Image kehidupan penuh tantangan menjadi keseharian para eksekutif tersebut menjadi hal yang menarik untuk diikuti. Seakan-akan para produsen rokok ingin berkata “ Anda dapat menjadi seperti mereka tanpa harus menjadi eksekutif suatu perusahaan, tapi hanya dengan mengisap rokok kami!”

Ada hal positif yang disajikan dalam periklanan tersebut yaitu menjadi orang berhasil seperti eksekutif perusahaan besar adalah suatu kebanggaan.

Dan kalau kita beranjak pada masa kini, ada hal yang lebih menarik. Usaha perusahaan rokok untuk menggaet kaum muda atau kaum remaja sebagai sasaran segmen pasar barunya bukan terjadi 2-3 tahun kemarin dimana iklan-iklan rokok banyak diisi oleh kaum remaja dan generasi muda. Sampoerna (lagi) telah mengawali usahanya untuk mengubah paradigma masyarakat bahwa merokok jenis low tar low nikotin juga merupakan suatu kebanggan yang memberikan image tertentu. Usaha ini dimulai pada tahun 1994. Bahkan demi menggapai angan-angan ini mereka harus menghentikan salah satu produksi rokoknya untuk memberikan peluang bagi rokok mild memperoleh pangsa pasar. Namun image yang ada saat itu adalah rokok ringan tidak macho, dan hidup tanpa tantangan. Image yang tertanam inilah yang membuat peluang rokok ini kecil.

Usaha-usaha yang dilakukan secara sporadis di setiap negara dimana menjadikan generasi muda sebagai segmen pasar baru dan potensial membawa arus besar bagi trend yang berjalan. Periklanan makin kreatif  menyentuh keseharian pergaulan generasi muda. Setiap aktivitas hampir bisa dijadikan bahan iklan. Saat sekolah, saat nyantai, saat party dan seabreg lagi.

Ada beberapa alasan yang mendasari kenapa generasi muda sangat potensial untuk disasar: pertama, generasi muda memiliki waktu yang lebih panjang untuk merokok dibandingkan dengan generasi tua. Kedua, generasi muda mudah mengadopsi nilai-nilai ataupun kebiasaan yang menjadi ciri khas suatu kelompok, sehingga apabila kebiasaan suatu kelompok adalah merokok dengan merek tertentu, akan ada kecendrungan untuk mengubah ke merek tersebut.

 

Dengan berpegang pada alasan kedua, produsen rokok berani mengeluarkan uang yang lebih banyak hanya untuk menempelkan merek dagangannya pada suatu event. Makanya sekarang sudah mulai terbangun trademark dimana dunia anak muda mulai dari olahraga hingga musik, disponsori oleh produk rokok. Dimana ada aktivitas anak muda, disitu ada merek rokok yang mendampingi.

 

Generasi muda dan tv

Saat dunia remaja dijadikan sasaran pasar oleh semua produsen barang, hal yang pertama harus dilakukan oleh produsen adalah membentuk image produknya. Image adalah suatu gambaran yang timbul dalam pikiran ketika suatu simbul berusaha divisualisasikan. Televisi sebagai salah satu media untuk membentuk image ini memegang peranan yang sangat besar dan juga berpengaruh paling efektif. Bagaimana tidak, sebuah media yang sangat lengkap terdiri atas audio dan video, akan sanggup menyuarakan semua maksud kita kepada orang lain, tentunya dengan motif tertentu.

Apa yang terlihat di televisi saat ini tidak jarang diributkan oleh pemirsanya sendiri. Dan anehnya, tayangan dengan nilai pendidikan rendah justru memperoleh rating tinggi. Tentu adalah keberhasilan para pemegang media dalam upaya menggiring pemikiran masyarakat. Oleh karena itulah, pada titik ini kita akan mulai merasakan betapa dahsyatnya serangan informasi dalam segala aspek kehidupan masyarakat.

Apa yang nampak dari generasi muda yang tergambar melalui iklan, sinetron dan tayangan lainnya?

Tidak salah kalau kita menyebut gaya hidup generasi muda saat ini layaknya rokok mild. Hidup ringan, rendah motivasi, cuek dengan sekitar, hidup penuh gengsi, suka party dan Anda dapat menambahkan gambaran diri Anda sendiri.

Anda pasti ingat tayangan salah satu merek minuman ringan dimana seorang guru yang dijadikan permainan oleh anak didiknya. Dan pelecehan itu dianggap sebagai kelucuan.

Pengaruh tayangan sudah nampak jelas didepan mata dimana perilaku remaja kian bergeser dari norma ketimuran (kalau boleh dianggap sebagai norma kemapanan) yang mungkin bagi mereka (remaja-red) adalah nilai yang lebih rendah daripada nilai yang berlaku di kelompoknya, ataupun pedoman yang sangat tidak mengenakkan untuk diikuti karena tidak sesuai dengan jiwa keremajaannya yang “mild”. They said: “I don’t care, enjoy aja”

Memang media hanya menjual mimpi. Media dengan motivasi pendidikan hanya memperoleh sasaran pasar yang sangat kecil. Karena itu, saat media mencoba mengajukan format tayangan dengan pola pikir yang baru, masyarakat belum tentu siap ataupun mau diajak untuk berpikir kearah itu. Sehingga kompromi terjadi diantaranya dengan mengisi tayangan-tayangan dengan porporsi tertentu antara tayangan bermotivasi pendidikan dan tayangan bermotivasi hiburan semata.

 

Adalah sebuah permasalahan besar saat ini dimana dunia pendidikan telah dijarah untuk di eksploitasi menjadi komoditi siaran tanpa mau memandang misi pendidikan untuk menumbuhkan karakter yang berbudaya dan beradab. Mana mungkin tayangan yang isinya hanya berkelahi untuk memperebutkan idola dapat menjadi panutan yang baik bagi anak sekolah, saat latar belakang itu yang diangkat sebagai bahan cerita utama. Mana mungkin akan tertanam dalam pikiran remaja sekolah untuk membelajarkan diri dalam berkarakter luhur jika yang diperlihatkan dalam tayangan adalah anak sekolahan yang selalu melawan gurunya? akankah ada kemungkinan lahirnya generasi dengan motivasi hidup yang gigih, jika yang ditayangkan adalah remaja dengan kehidupan penuh fasilitas yang menggampangkan hidup dan tidak jarang ide-ide yang muncul dalam menyelesaikan massalahnya tanpa pemikiran yang panjang.

Namun adalah hal yang tidak adil jika kita hanya berpikir pada sisi suram dari generasi muda. Karena saat kita membicarakan sisi suram generasi muda, akan sangat mudah dibantah. Karena mereka akan mempertanyakan posisi kita saat membicarakan kondisi generasi muda. Pijakan yang kita pakai untuk menilai mereka pastilah bukan pijakan mereka. Karena itu akan ada klaim yang saling mengkutub. Siapa yang seharusnya menilai dan dinilai? Siapa yang lebih berhak terhadap dunia saat ini? Tentu saja generasi muda akan mengklaim waktu sekarang adalah waktu mereka. Sehingga mereka yang menentukan aturan.

Lalu bagaimana dengan para generasi tua kita?

Memang mereka akan lebih banyak hanya berkiprah pada tataran normatif, untuk memberikan rambu-rambu. Sayang rambu-rambu itu belum terintegrasi dengan baik dalam lingkungan dimana generasi muda beraktivitas. Yang kita harapkan adalah tidak munculnya sikap yang apatis dari generasi tua dan sikap apriori dari generasi muda. Bagaimanapun generasi muda harus menerima tongkat estafet dari generasi tua. Dan tentunya kita tidak berharap generasi muda terlambat untuk menggembleng dirinya bagi massa depan dirinya kelak.

Hah…membicarakan generasi remaja penuh dengan warna-warni, namun kita juga harus merasa khawatir jika apa yang dialami remaja kita justru menjadikan warna hidupnya menjadi kian suram?


Gede Arda




  • Presidium PP KMHDI periode 2006-2008
  • Dosen Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Udayana

Sumber : Majalah Rwa Bhinneda Edisi Ke-3

Komentar Anda