Mengapa Gender?

Agenda mama hari ini:
05.00 Bangun pagi (tukang sayur biasa lewat jam segini, inget beli ayam buat bikin kare)
05.30 Setrika baju buat hari ini (seragam pramuka kakak, rok ijo mama, kemeja biru garis-garis papa)
06.00 Mandi (jangan lupa sebelum mandi bangunin kakak dan bikin air panas buat mandi si kecil)
06.30 Bikin sarapan
06.45 Bangunin si kecil plus mandiin
07.00 Berangkat ngantar kakak sekolah, dan si kecil ke rumah mertua
08.00 Kantor (ingat selesaikan laporan sebelum jam makan siang)
12.00 Jemput kakak sekolah, antar ke rumah mertua
12.30 Ambil STNK di kantor Samsat
13.00 Balik ke kantor
17.00 Jemput anak-anak (mampir supermarket, susu si kecil habis)
18.00 Mandiin si kecil (inget masukin cucian ke mesin cuci, td pagi nggak sempat)
18.30 Masak makan malam
19.00 Kakak punya PR matematika dan bahasa inggris, minta dibantuin
20.00 Nongol sebentar di banjar buat ngayah bikin jajan soalnya odalan yang kemaren nggak bisa ngayah karena kakak sakit
21.00 Akhirnya semua bobo, harus ikut bobo soalnya si kecil masih suka bangun malam – malam, nangis minta susu.

***

Sebagian besar dari kita setidaknya bisa menarik hubungan antara kehidupan kita sehari-hari dengan jadwal di atas. Sebagian dari kita dibesarkan dalam model keluarga seperti ini. Sebagian lagi berpikir “Apa begini ya masa depan saya?” atau bahkan sebagian lagi berpikir andai saya bisa punya istri seperti itu, tetap memperhatikan kewajibannnya sebagai ibu sementara dia juga bekerja. Ada yang mungkin sama sekali tidak merasakannya secara pribadi, “Ibu saya ibu rumah tangga kok, tapi saya tahu tetangga sebelah sepertinya begitu”.

Kalau diminta memberikan tanggapan soal jadwal ini, beberapa tanggapan berikut mungkin muncul : “Apa yang salah? Bukannya memang seharusnya begitu?”. Atau ada yang menawarkan solusi “Kok repot amat, cari aja pembantu”. Ada yang lebih simpatik, “Wah ternyata kalau diterjemahkan dalam bentuk time schedule kayak begini ibuku/aku/istriku ternyata lebih sibuk dari kelihatannya ya.” Jadi ibu dan wanita bekerja sekaligus ternyata tidak gampang.

Aplikasi Analisis Gender
Mari kita bedah satu persatu tanggapan ini dengan menggunakan pisau analisis sosial yang disebut sebagai ”analisis gender”. Dasar pijakan tanggapan pertama adalah konsep fungsionalisme pro status quo, selama masyarakat masih dapat berfungsi dengan baik dalam aturan main yang ada maka tidak ada pentingnya mengubah aturan tersebut. Bukannya memang seharusnya begitu? Dari dulu juga begitu. Masalahnya, apa iya tuntutan masyarakat kita saat ini sama seperti dulu, sehingga kita masih bertahan bergantung pada aturan main yang lama? Apa masyarakat kita bisa berfungsi sama baiknya seperti dulu ketika aturan dasar soal peran gender dibuat? Menggunakan dasar berpikir yang sama, tujuan kaum fungsionalis yaitu pembentukan masyarakat yang fungsional pada dasarnya tidak akan tercapai dengan mempertahankan tatanan yang sama. Sebuah tatanan akan lestari jika semua pihak merasa telah diperlakukan secara adil. Tatanan gender yang patriarkhis, yang berpusat semata pada keunggulan maskulin, yang kemudian karenanya terpaksa merendahkan posisi yang lain, jelas menjauhkan kita dari titik equilibrium sehingga kelestarian tatanan ini patut dipertanyakan.

Tanggapan kedua : anggap saja ada si Sum. Si Sum biasanya, anak perempuan umur 15 tahun paling banter tamat SMP atau ibu rumah tangga yang penghasilan suaminya tidak cukup atau mungkin janda. Ketika keluarga ini menikmati bantuan dari si Sum. Siapa yang membantu keluarga si Sum? Kenapa si Sum cuma sekolah sampai SMP dan jadi pembantu rumah tangga? Bandingkan nasib si Sum dengan saudara laki-lakinya. Kalau si Sum adalah seorang ibu, bayangkan siapa yang pagi-pagi menyiapkan sarapan buat anak si Sum sebelum berangkat sekolah? Siapa yang bantu anak si Sum bikin PR? Fenomena ini yang menjadi dasar hukum kekekalan kemiskinan. Sekali anda miskin, dalam sistem yang tidak berpihak pada pemberdayaan kaum miskin, anda akan selamanya miskin. Dalam sistem ini kemiskinan secara otomatis menggandakan dirinya sendiri. Riset membuktikan semakin banyak waktu berkualitas yang di curahkan orang tua untuk anaknya maka semakin besar kesempatan seorang anak untuk menjadi orang yang berhasil di masa depan. Ini bukan rocket science, semua orang tahu itu tapi hukum ini justru kabar buruk buat anak si Sum karena dia tidak punya previlige untuk menikmatinya. Ini adalah contoh dari ungkapan perempuan makan perempuan. Untuk memenuhi tuntutan peran kultural yang dibebankan kepadanya, perempuan kelas menengah mengeksploitasi perempuan dari kelas sosial ekonomi dibawahnya.

Tanggapan ketiga : Terima kasih karena Anda telah membuka diri Anda untuk masuk ke diskusi yang lebih jauh. Benar bahwa menjadi ibu sekaligus wanita bekerja bukan hal yang mudah dalam debat gender ini yang disebut sebagai beban ganda. Ini yang dinilai sebagai hasil palsu model kesetaraan gender yang setengah-setengah. Perempuan bisa memasuki dunia kerja tetapi tidak diijinkan secara kultural untuk membagi tanggung jawab rumah tangganya dengan pasangannya, karena sang pasangan juga punya peran kultural yang tidak bisa dipertukarkan, misalnya tugas memperbaiki genteng bocor. Ini akar ketimpangan gender yang diadvokasi oleh status quoist. Ini juga dasar eksploitasi berlapis model masyarakat kapitalis dengan perempuan miskin sebagai dasar piramida eksploitasi ini.

Mengapa Gender ?
Berbagai ketimpangan dan ketidakadilan yang bisa digarisbawahi dari sebuah contoh sederhana ”agenda mama hari ini” tidak akan muncul kepermukaan kalau kita tidak membedahnya dengan pisau ”analisis gender”. Akar analisis ini adalah pembedaan antara konsep sex atau jenis kelamin (laki-laki dan perempuan) yang secara biologis terberi (nature) dan konsep gender yang merupakan hasil konstruksi sosial (nurture) yang membedakan gender feminim dan maskulin. Mengutip pandangan feminist eksistensialis ”you are born as a female but you are learned to be a women”. Tiga jawaban mendasar yang ditawarkan analisis gender menyoal mengapa ketimpangan ini masih terjadi adalah :
1) Ngototnya pelekatan peran feminim kepada jenis kelamin perempuan dan peran maskulin pada jenis kelamin laki-laki membuat timbulnya reaksi bahwa diskusi gender adalah diskusi menentang kehendak alam.
2) Model penghargaan terhadap masing-masing peran yang bersifat tidak proposional. Perubahan sistem nilai yang bersifat jauh lebih ekonomi sentris, membuat peran feminim (domestic/ rumah tangga) kehilangan ranah berpijak.
3) Rendahnya penghargaan terhadap potensi perempuan akibat pelekatan peran domestik yang notebene dinilai lebih rendah membuat rendahnya representasi perempuan di ruang publik yang kemudian membuat suara dan potensi perempuan semakin tidak terdengar. Ini yang disebut peminggiran sistematis terhadap posisi perempuan.
Kembali lagi kepada perdebatan dasar kita soal ketimpangan gender, intinya gender adalah bentukan budaya bukan masalah hukum alam. Dengan demikian, diskusi gender pada dasarnya adalah diskusi budaya. Ini bukan soal laki-laki versus perempuan, tapi soal mencari equilibrium baru, aturan main baru yang lebih adil bagi kedua belah pihak yang memungkinkan masyarakat kita berfungsi dengan lebih baik. Ketidakadilan bisa ada tapi tak terdeteksi. Analisis gender adalah alat untuk memotret ketimpangan ini dan merubahnya. Perubahan ini telah terjadi, karena saya yakin sebagian dari kita juga telah jadi saksi mata terhadap kenyataan lain “jadwal ibu/istri/saya bukan seperti itu, karena saat ibu/ istri/saya memasak untuk sarapan, ayah/suami/saya yang memandikan anak-anak”.

Tulisan ini jelas bukan sebuah tulisan komprehensif tentang diskursus teori gender dan evolusinya. Bukan juga kajian detail tentang bagaimana aplikasi analisis gender menawarkan pembongkaran ideologi kapitalis atau analisis kritis terhadap sejarah manusia termasuk agama. Tulisan ini hanyalah pengantar untuk memulai memandang kenyataan terdekat kita dengan cara yang sedikit berbeda dengan memperhitungkan faktor “pentingnya kesetaraan gender”. Karena masyarakat kita butuh pendekatan baru untuk memastikannya dapat berfungsi dengan lebih baik dan menghasilkan generasi penerus yang lebih baik, generasi yang paham bahwa pada dasarnya perempuan adalah juga manusia yang punya hak sekaligus kewajiban yang setara dalam memastikan keberfungsian sebuah keluarga dan masyarakat.

dr. Yessi Crosita O.
Alumni KMHDI
dikutip dari: http://buletinwiweka.blogspot.com
Komentar Anda