Makna Yadnya dan Brata Penyepian bagi Manusia Modern

Om Swastiyastu

Kehidupan manusia di jaman modern lebih kental mengacu pada tuntunan manajemen yang dianggap modern yaitu manajemen kualitas, yaitu manajemen yang terus menerus ingin menghasilkan kualitas yang lebih baik dan lebih baik. Siklus dari manajemen modern dikenal dengan siklus Deming yaitu perencanaan atau Plan, pelaksanaan atau Do, penilaian atau Check, dan perbaikan atau Action yang sering disingkat dengan (PDCA).

Perkembangan teknologi yang begitu pesat disertai dengan pemberdayaan teknologi dengan manajemen yang modern tersebut sering kali menjebak umat manusia pada kehidupan yang lebih mengedepankan kepentingan sesaat, dangkal, terkotak-kotak menjadi kepentingan individu dan kelompok. Timbulnya kepentingan tersebut membuat pikiran, perasaan, perkataan, perbuatan, dan kreativitas termasuk kecerdikan manusia terbakar oleh api kekuasaan dan kemenangan dalam pencapaian kepentingan individu atau kelompok yang sangat sering melupakan tata krama dan etika kehidupan. Egoisme, keserakahan, tipu muslihat, kelicikan, kebohongan, dan bahkan sering menjadi sangat tega untuk menyakiti dan membunuh orang lain bahkan keluarga sendiri serta merusak rumah atau alam lingkungan sendiri hanya untuk memenuhi tuntutan kepentingan tersebut. Kondisi seperti ini kalau tidak dikendalikan secara terus menerus akan dapat merusak tatanan kehidupan manusia di jaman modern, serta akan terjadi proses dehumanisasi dimana manusia akan semakin kehilangan harkat kemanusiaanya.

Tidak hanya dijaman modern, dijaman dahulu di Asia Timur terjadi kondisi yang saling menonjolkan kepentingan individu dan kelompok sehingga peperangan antar suku terus terjadi, saling menguasai dan saling menindas. Itu semua disadari karena manusia tidak mampu mengendalikan pikiran, perkataan, perbuatan, perasaan, kreativitasnya sehingga dibakar oleh api kepentingan yang dangkal. Dan keadaan itu berakhir setelah kemudian pada tahun 78 masehi seorang raja yaitu Raja Kaniska I dinobatkan menjadi raja di Asia Timur. Beliau sangat adil dan bijaksana dan memahami sangkan paraning dumadi, memahami jalan Dharma yaitu jalan kebenaran yang pernah diterapkan oleh suku bangsa Saka dalam rangka mencapai kehidupan yang tentram, damai dan harmonis. Beliau sangat memahami bagaimana suku bangsa Saka pada jaman dahulu menerapkan jalan kehidupan Dharma sehingga suku bangsa Saka sangat terkenal dengan kehidupan yang tentram, damai, dan harmonis serta dengan peradaban yang tinggi. Maka mulai saat itulah Raja Kaniska I berperan sebagai Guru Wisesa (pemerintah) yang dengan penuh pengabdian menuntun dan memberi contoh kepada seluruh rakyatnya untuk hidup dengan jalan yang benar hingga mampu mengendalikan api yang membakar keserakahan, kerakusan, kelicikan, keloba-tamakan, kepentingan yang dangkal, dan menghentikan segala perselisihan atau peperangan yang kerap terjadi antar suku bangsa. Mulai saat itulah kehidupan mereka antar negara, antar suku di Asia Timur menjadi tentram, damai dan harmonis. Karena keberhasilan dalam memenangkan kehidupan pada jalan kebenaran tersebut maka mulai tahun 78 masehi diperingati menjadi awal dari tahun Saka. Mulai saat itulah setiap menyambut tahun Saka dilaksanakan yadnya dan tapa brata penyepian yaitu yang makna utamanya adalah pengendalian diri dengan melakukan catur brata penyepian. Sejarah telah menunjukkan betapa besar makna dan arti pengendalian diri yang merupakan inti dari tata krama kehidupan dijalan Dharma yang mampu merubah kehidupan manusia dari kehidupan yang penuh perselisihan, peperangan, dan dendam menjadi kehidupan yang tentram, damai dan harmonis.

Dibalik semua keberhasilan tersebut ada suatu filsafat kehidupan yang sangat mendasar yang terkandung dalam yadnya dan brata penyepian yang masih sangat relevan dalam kehidupan dijaman modern. Kehidupan Dharma menuntun kita umat manusia selalu harus menjalani siklus kehidupan Dharma agar selalu dapat terhindar dari jebakan hidup yang merusak kedamaian dan keharmonisan. Siklus kehidupan Dharma yaitu Satyam-Cit-Ananda-Moksartham. Satyam artinya setiap manusia haruslah secara rutin dapat melakukan perenungan, instrospeksi, ngulat sarira untuk memahami secara dalam makna kebenaran yang dituntun oleh Dharma yang tidak lain pada tahap ini manusia harus membangun kebajikan dihati masing-masing. Cit adalah proses dimana manusia terbangun pemahaman, terbangun kebajikan dihati, maka ia harus membangun kesadaran dan keyakinan atau sraddha dan bhakti yang tinggi dalam dirinya masing-masing. Kesadaran, keyakinan, atau sraddha inilah sebagai pondasi yang kuat untuk kehidupan yang bertata krama. Kemudian tahap ketiga adalah ananda yaitu manusia harus menjalankan kehidupan yang bertata krama, santun, beretika dituntun oleh konsep Tri Kaya Parisudha. Pikiran, perkataan dan perbuatan harus dituntun oleh kebenaran yang telah diyakini sesuai jalan Dharma untuk mencapai kehidupan yang ananda atau bahagia. Kemudian langkah yang keempat adalah moksartham yaitu kehidupan yang tidak terikat oleh kepentingan duniawi yang penuh ketulusan untuk dapat menuju sangkan paraning dumadi. Yadnya dan tapa brata penyepian yang dilakukan umat Hindu setiap tahun adalah merupakan langkah pertama dalam siklus kehidupan Dharma yaitu langkah Satyam. Nyepi artinya sepi, kosong, tidak terikat, bersih, dan suci. Disaat itulah manusia melepaskan diri dari segala ikatan duniawi, mengosongkan diri dari beban duniawi, menyepikan diri dari segala hingar bingar duniawi, membersihkan diri dari godaan duniawi, dan menyucikan diri segala dosa duniawi. Umat Hindu melalui yadnya dan brata penyepian berusaha tidak diikat dan tidak dikendalikan oleh kepentingan duniawi, namun harus hidup harmonis dengan penuh cinta kasih dengan alam, dengan Tuhan sang pencipta, dan dengan mahluk ciptaan Tuhan. Konsep kehidupan yang harmonis dengan Tuhan, mahluk lain, dan alam semesta ini oleh umat Hindu disebut Tri Hita Karana. Dalam usaha melepaskan diri dari ikatan duniawi, ikatan alam semesta umat Hindu bukanlah harus memusuhi alam, namun justru dengan cinta kasih, yaitu dengan membersihkan dan menyucikan alam dan segala perlengkapannya, karena alam adalah ciptaan Tuhan yang diyakini sebagai ibu dan bapak dari manusia yang memberikan kehidupan pada umat manusia. Sehingga alam sebagai ibu dan bapak dari umat manusia juga wajib mengingatkan kepada umat manusia jika ia membuat kesalahan yaitu menyalahi tata krama kehidupan Dharma. Karena keyakinan dan sraddha seperti itulah umat Hindu dalam menjalankan yadnya penyepian diawali dengan melasti yaitu pergi kelaut atau kesumber air untuk ngambil tirta amerta suci untuk sumber kehidupan umat manusia. Air yang bersih dan suci yang berada ditengah samudra atau pada sumber air adalah merupakan sumber utama dari kehidupan. Dalam kehidupan modern, yadnya melasti ini mengandung pesan bahwa umat manusia dimanapun dia berada dia harus selalu menjaga kebersihan dan kesucian air karena air yang bersih dan suci adalah sumber kehidupan umat manusia. Semua ini tidak lain maknanya menjaga laut, sungai dan semua sumber air tetap bersih. Manusia modern, industri di jaman modern ini harus mengolah limbahnya sedemikian rupa agar tidak mengotori sungai, laut dan sumber-sumber air karena semua itu sebagai sumber kehidupan. Jika itu tidak dijaga bersih maka tentu akan sulit dapat air minum, aliran sungai terganggu dan akan terjadi banjir, sungai dan laut yang kotor mengakibatkan ikan-ikan tercemar dan lain sebagainya. Yadnya melasti yang dilaksanakan begitu sakral dan indah yang didalamnya mengandung makna ganda yaitu: disamping dapat mencerminkan keluhuran dan keindahan budaya juga menuntun terwujudnya sebuah tata krama kehidupan yang harmonis dengan lingkungan yang diyakini oleh umat Hindu sebagai ibu dan bapak manusia karena ia sebagai sumber kehidupan umat manusia, yang semua itu dilandasi oleh filsafat kebenaran Dharma. Setelah itu persis sehari sebelum hari Nyepi dilaksanakan ”tawur kesanga” yaitu penyucian atau pembersihan alam dengan segala kelengkapannya sehingga alam dengan segala isinya selalu dapat menjaga dan memberi kehidupan pada manusia. Pada yadnya tawur tersebut manusia memberikan rasa bhakti dan cinta kasihnya pada alam yang juga dilaksanakan begitu sakral dan indah. Arti operasionalnya di jaman modern adalah bahwa manusia tidak boleh merusak alam sembarangan, manusia harus menjaga kelestarian alam, menjaga keberadaan dan keseimbangan tumbuh-tumbuhan karena tumbuh-tumbuhan dapat menyeimbangkan atau mengendalikan air tanah, dapat mengendalikan CO2 sehingga tidak merusak lapisan ozon. Jika tumbuh-tumbuhan sudah tidak seimbang maka CO2 tidak terkendali dan akan mengakibatkan pemanasan global, dimana es di kutub akan mencair dan air laut akan naik. Disamping itu jika tumbuh-tumbuhan tidak seimbang maka aliran air tanah akan tidak terkendali, ketahanan tanah jadi lemah sehingga terjadi banjir dan longsor. Manusia modern juga harus memahami pesan lain yang tersirat dalam Tawur Kesanga tersebut yaitu setiap rumah harus punya halaman dan halaman harus ditanami pohon yang berbunga, yang berbuah, yang berumbi agar halaman menjadi indah dan tumbuh-tumbuhan menjadi seimbang secara ekologi. Maka itu, dalam yadnya baik waktu melasti, tawur kesanga, dan yadnya yang lain menggunakan kembang, buah-buahan, daun-daunan, umbi-umbian, dan air yang bersih. Semua persembahan yang dilakukan secara tulus dalam yadnya penyepian tersebut dan juga yadnya yang lain dimaksudkan untuk membangun kebajikan di hati manusia, membangun tatakrama dalam kehidupan manusia, dan membangun budaya yang indah dan luhur. Persis pada hari Nyepi, umat Hindu selama 24 jam melakukan pengendalian diri secara total melalui Catur Brata Penyepian yaitu : amati geni, amati karya, amati lelungaan, dan amati lelanguan. Amati geni artinya mematikan api yang ada di dalam diri manusia yang dapat membakar atau merusak kehidupan yaitu egoisme, keserakahan, kemarahan, iri hati, kebencian, pikiran, keinginan yang berlebihan, dan juga berpuasa. Untuk itu, disamping mematikan api yang ada dalam diri untuk menjaga kehidupan yang harmonis dengan alam agar mendukung manusia mematikan api pada dirinya, maka api yang ada di alam pun ikut dimatikan selama 24 jam. Brata yang kedua adalah amati karya yang artinya tidak melakukan kegiatan berkarya dalam bentuk apapun agar betul-betul dapat melepaskan diri dari segala ikatan dan kepentingan duniawi. Itu juga melatih manusia untuk betul-betul bisa melaksanakan segala kehidupan dengan tulus iklas tanpa pamrih. Brata ini juga sering disebutkan sebagai pengendalian raga. Brata yang ketiga adalah amati lelungaan artinya kita tidak bepergian baik jiwa, pikiran, maupun raganya. Brata ini melatih manusia untuk memahami sang diri, menyatukan bayu-sabda-idep, menyatu dalam kekuatan samadhi sehingga pikiran, jiwa, dan raga menjadi bersih tanpa beban suatu apapun. Dengan pikiran, jiwa, dan raga yang bersih dan bersatu maka manusia akan mempunyai kekuatan besar dan terkonsentrasi untuk dapat menjalani kehidupan dengan segala tantangannya dan akan selalu dituntun pada jalan yang benar. Brata ini akan membentuk moral dan karakter yang baik dan positif sehingga dapat mengendalikan stress yang kerap muncul di jaman modern ini. Moral dan karakter yang baik sangat penting sebagai kekuatan hidup pada jaman modern. Seperti dikatakan John C. Maxwell ”no one can stop people with good attitude to success; and no one can help people with bad attitude to success”. Brata yang keempat adalah amati lelanguan yaitu mengendalikan rasa atau emosi untuk tidak bergejolak, untuk selalu dapat tenang dan sabar dalam menghadapi segala persoalan. Dengan ketenangan dan kesabaran seseorang akan mendapat kecerdasan dan kebijakan. Brata ini juga melatih dan menuntun agar kita dalam kehidupan dapat selalu eling, waspada, hidup wajar, sederhana, bisa prihatin, dimana semua ini tidak lain adalah olah rasa.

Keempat brata penyepian tersebut akan menuntun manusia untuk membangun kesadaran Dharma, membangun kebajikan, membangun kesadaran, membangun keyakinan, menguatkan sraddha umat Hindu, menanamkan tata krama yang benar dalam kehidupan. Setelah hari Nyepi umat Hindu melaksanakan Dharma Shanti yaitu mulai menjalani kehidupan dengan tata krama yang benar yang dilandasi kesadaran, kebajikan, dan sraddha yang dibangun melalui catur brata penyepian.

Pembangunan negara yang ajeg di jaman modern ini sangat sulit karena penuh tantangan dan penuh dengan persaingan. Dengan kebajikan yang ada di hati setiap manusia modern yang dihasilkan dari pelaksanaan, yadnya dan tapa brata penyepian maka diyakini pembangunan suatu bangsa akan bisa lancar dan ajeg, seperti dikatakan dalam sastra sebagai berikut.

Jika ada yadnya dan tapa brata, maka akan ada kebajikan di hati;

Jika ada kebajikan di hati, maka akan ada ketentraman dalam rumah tangga;

Jika ada ketentraman dalam rumah tangga, maka akan ada keajegan negara dan bangsa.

Dengan tapa brata penyepian, umat Hindu akan diharapkan dapat meningkatkan sraddha dan dapat santun dan teguh menegakan kebenaran untuk mencapai kehidupan yang mulia dan terhormat di jaman modern ini seperti dikatakan dalam sastra.

Dengan tapa brata seseorang akan mencapai diksa;

Dengan diksa seseorang akan mencapai daksina;

Dengan daksina seseorang akan mencapai sraddha;

Dengan sraddha seseorang akan mencapai satyam;

Dengan satyam seseorang akan mencapai kemuliaan Tuhan.

Dengan yadnya dan tapa brata penyepian diharapkan umat Hindu akan selalu mempunyai kekuatan dan bekal yang paling berharga dalam menjalani kehidupan di jaman modern yaitu kebajikan di hati, tata krama yang baik, dan budaya yang indah dan luhur.

Om Shanti Shanti Shanti Om

Prof. Ir. I Nyoman Sutantra MSc.PhD.
Ketua Walaka PHDI Surabaya
dikutip dari: http://buletinwiweka.blogspot.com
Komentar Anda