PERESMIAN PURA AGUNG GIRI KERTHA BHUWANA #2

PERESMIAN PURA AGUNG GIRI KERTHA BHUWANA
“ BAKTI DAN KETULUSAN UMAT HINDU KOTA KUPANG “
Peliput :
= Kadek Ratna / PD KMHDI NTT =
Part. 2


Keesokan harinya (8 Juni 2008) diadakan upacara Metatah (Potong Gigi) dengan jumlah peserta 77 orang dan Menek Kelih yang diikuti oleh 6 orang peserta. Upacara tersebut berlangsung di pelataran Nista Mandala Pura Agung Giri Kertha Bhuwana. Menurut lontar Kalapati, tujuan melaksanakan Upacara Potong Gigi adalah untuk mengendalikan sadripu. Sadripu adalah enam musuh yang ada di dalam diri setiap manusia, yaitu hawa nafsu (kama), serakah (lobha), kemarahan (krodha), kemabukan (mada), kesombongan (moha), serta cemburu, dengki, iri hati (matsarya). Sebagai simbol dari pengendalian sadripu tersebut adalah dengan memotong (menggosok/meratakan) enam buah gigi, yaitu dua gigi taring, dan empat gigi seri di rahang atas.

Makna yang tersirat dari mitologi Kala Pati, Kala Tattwa dan Semaradhana, adalah agar manusia selalu waspada untuk tidak tersesat dari ajaran agama (dharma) sehingga kelak di kemudian hari roh yang suci dapat mencapai Sorga Loka dan bersama roh suci para leluhur bersatu dengan Brahman/Sang Hyang Widhi. Dalam lontar Semaradhana tersirat bahwa dalam pergaulan kehidupan muda mudi sehari-hari hendaknya diatur agar tidak melewati batas-batas kesusilaan.
Upacara potong gigi, umumnya disatukan dengan upacara Ngereja Sewala (Menek Kelih), yaitu upacara syukuran karena si anak sudah menginjak dewasa, meninggalkan masa anak-anak menuju masa remaja.
Upacara potong gigi dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut :

  • Setelah Sulinggih ngarga tirta, mereresik dan mapiuning di Sanggar Surya, maka mereka yang akan melakukan Upacara Potong Gigi dilukat dengan padudusan madya, kemudian mereka memuja Hyang Raditya untuk memohon keselamatan dalam malaksanakan upacara.
  • Potong rambut dan merajah, dilaksanakan dengan tujuan untuk mensucikan diri sendiri dan menandai adanya peningkatan status sebagai manusia, yaitu meninggalkan masa kanak-kanak menuju masa remaja.
  • Naik ke bale tempat potong gigi, dengan terlebih dahulu menginjak caru sebagai lambang keharmonisan, mengetukkan linggis tiga kali (Ang-Ung-Mang) sebagai simbol memohon kekuatan kepada Brahman/Hyang Widhi, dan di ketiak kiri menjepit caket sebagai simbol kebuilatan tekad untuk mewaspadai sad ripu.
  • Selama gigi dipotong/diratakan/digosok, air kumur dibuang di sebuah kelungah nyuh gading agar tidak menimbulkan keletehan.
  • Mebeakala sebagai sarana pensucian dan menghilangkan mala untuk menyongsong kehidupan masa remaja.
  • Mapedamel berasal dari kata ‘dama’ yang artinya bijaksana. Tujuan mapedamel setelah potong gigi agar si anak dalam kehidupan masa remaja, dan seterusnya menjadi orang yang bijaksana yakni tahan menghadapi suka duka kehidupan, selalu berpedoman pada ajaran agama Hindu, mempunyai pandangan luas, dan dapat menentukan sikap yang baik karena memahami apa yang disebut dharma maupun adharma. Secara simbolis ketika mepedamel, hal-hal yang dilakukan adalah sebagai berikut :
  • Mengenakan kain putih, kampuh kuning, dan selempang semara ratih, sebagai simbol ratu dari Dewa Semara dan Dewi Ratih (Lontar Semadhana).
  • Memakai benang pawitra berwarna tridatu (merah, putih, hitam) sebagai simbol pengikatan diri kepada norma-norma agama.
  • Mencicipi sad rasa (enam rasa), yaitu rasa :
  • Pahit dan masam, sebagai simbol agar tabah menghadapi peristiwa kehidupan yang kadang-kadang tidak menyenangkan.
  • Pedis, sebagai simbol agar tidak menjadi marah bila mengalami atau mendengar hal-hal yang menjengkelkan.
  • Sepet, sebagai simbol agar taat kepada peraturan/norma-norma yang berlaku.
  • Asin, sebagai simbol kebijaksanaan, selalu meningkatkan kualitas pengetahuan karena belajar.
  • Manis, sebagai simbol kehidupan yang bahagia lahir dan bathin sesuai cita-cita, yang tentunya akan diperoleh jika mampu menghadapi pahit getirnya kehidupan, berpandangan luas, dan disiplin, serta senantiasa waspada dengan adanya sad ripu dalam diri setiap manusia.
  • Natab banten, tujuannya memohon anugerah Brahman/Hyang Widhi, agar apa yang menjadi tujuan melaksanakan upacara tercapai.
  • Metapak, mengandung makna bahwa :
    • Kewajiban orang tua terhadap anaknya dimulai sejak berada dalam kandungan ibu sampai menjadi dewasa secara spiritual sudah selesai.
    • Ucapan terima kasih si anak kepada orang tuanya karena telah memelihara dengan baik, dan memohon maaf atas kesalahan-kesalahan anak kepada orang tua, sekaligus memohon doa restu agar selamat dalam menempuh kehidupan di masa datang.
  • Sembahyang, dalam wujud memuja Brahman/Hyang Widhi.


Rangkaian upacara Ngenteg Linggih Pura Agung Giri Kertha Bhuwana masih dilanjutkan dengan Nutug karya, Ngelukar piranti/sarana perlengkapan karya (dibongkar) tanggal 18 Juli 2008 mendatang. Serta upacara Nutug karya 3 (tiga) bulan dan Nutug Karya 6 (enam) bulan yang jatuh pada tanggal 20 September 2008 dan 3 Januari 2009.

Tamat

Komentar Anda