Dalam Terang Cahaya Keheningan

Setelah dicari-cari, ternyata tidak ada wanita ideal seperti itu. Bila cantik, putri orang kaya, wanita karier, maka suaminya terpaksa mengisi keseharian dengan mengepel lantai sambil bernyanyi sendu lirik lagu ”diriku tak pernah lepas dari penderitaan”.

Semakin panas

Peradaban manusia serupa. Setiap kelebihan meminta ongkos berupa kekurangan. Keserakahan hanya mau kelebihan, dan berharap kelebihan tidak berubah menjadi kekurangan. Itulah awal kehidupan yang riuh dan penuh penderitaan.

Dulu saat dunia dibuat takut oleh potensi perang bintang di antara dua negara adikuasa, tidak ada tanda-tanda ketakutan akan bom teroris. Kini, ketika ketakutan perang global berhenti, bahkan memasuki hotel pun harus diperiksa petugas keamanan.

Nasib bangsa ini setali tiga uang. Ia terlihat berputar dari satu ketidakpuasan menuju ketidakpuasan lain karena manusianya menolak semua kekurangan. Di zaman Orde Baru, sebagian hak-hak politik dikekang, tetapi di zaman itu harga pangan, papan, dan minyak terjangkau. Di zaman reformasi, kebebasan politik berkibar, siapa pun boleh dikritik, tetapi harus dibayar dengan harga pangan, papan, dan minyak yang kian jauh dari jangkauan. Persis seperti lelucon pemuda yang bingung mencari istri, setiap kelebihan harus dibayar dengan kekurangan.

Di tengah pengapnya peradaban oleh banyak ketidakpuasan, tak terhitung jumlah rapat, konferensi, wacana, seminar, hingga kuliah tingkat tinggi di perguruan tinggi yang mau mencoba mengurai situasi. Dan ternyata, kian diperdebatkan peradaban jadi semakin panas.

Bila ada hasilnya, peradaban akan tambah sejuk. Namun, seperti dirasakan bersama, bumi tambah panas secara fisik, psikologis, dan spiritual. Jika kehidupan manusia ditelusuri, ia ditandai kelahiran dengan tangisan bayi yang riuh, serta kematian plus tangisan orang yang ditinggalkan juga riuh. Bila di tengahnya juga riuh perdebatan dan perkelahian, menimbulkan pertanyaan, kapan manusia sempat berjumpa keheningan?

Menjadi satu dengan alam

Alam sebagai guru bertutur, semua berubah, semua membawa kelebihan-kekurangan. Siang berganti malam, malam berganti siang. Diperdebatkan atau tidak, tetap seperti ini. Memahami dalam-dalam sifat alami inilah yang membukakan keheningan.

Seorang guru yang punya banyak murid di Barat agak terang dalam hal ini. Tahapan memasuki pintu keheningan sebenarnya sederhana. Pertama-tama, belajar dari alam. lalu hidup sesuai prinsip-prinsip alami. Hasilnya, manusia bisa melihat kebenaran di balik alam. Ujung-ujungnya baru bisa menjadi satu dengan alam. Sebelumnya, manusia akan terus berputar dari satu penderitaan ke penderitaan lain.

Ia yang bersatu dengan alam tahu, ada bimbingan, ada kesempurnaan, ada keindahan di sana. Laut, misalnya, ia membawa aneka bimbingan. Sama dengan hidup manusia, ada gelombang tinggi (baca: kaya, dikagumi), ada gelombang rendah (kehidupan orang biasa). Namun, tanpa memandang tinggi-rendah, gelombang mana pun ikhlas dan rendah hati pada bibir pantai. Ikhlas dan rendah hatilah ini yang membuat kematian berhenti berwajah menakutkan.

Siapa yang mengisi kesehariannya dengan keikhlasan dan kerendahhatian akan menemukan alam sebenarnya sebuah perpustakaan agung. Berlimpah pengetahuan dan kebijaksanaan yang disimpan di sana. Perhatikan laut lebih dalam lagi. Di permukaan ia senantiasa bergelombang. Sama dengan hidup manusia. Di kedalaman, tidak ada gerakan, apalagi gelombang. Hanya hening yang melukis keindahan dan kesempurnaan.

Cermati apa yang ditulis Zenkei Shibayama dalam A Flower does not talk: silently a flower blooms, in silence it falls away … pure and fresh are the flowers with dew … calmly l read the True Word of no letters. Bunga mekar tanpa suara, berguguran juga tanpa suara. Tanpa keluhan tanpa perdebatan. Ada kesucian yang menggetarkan dalam bunga yang berhiaskan embun pagi. Dalam bimbingan hening, tiba-tiba terbaca makna tanpa kata-kata. Zenkei Shibayama menyebutnya Scripture of no letters. Tanpa kata-kata. Hanya sebuah hati yang berkelimpahan dalam dirinya!.

Kembali ke cerita awal tentang peradaban yang riuh, dunia sedang dibelit krisis. Namun, saat kata-kata, perseteruan memperpanas suhu panas peradaban yang sudah panas mungkin ini saatnya membaca Scripture of no letters. Ada yang menyebut pengetahuan di dalam hanya membuka diri di puncak keheningan.

Untuk melangkah ke sana, mulailah hidup sesuai hukum alam. Ia yang mengalir bersama alam, tersenyum pada setiap putaran alam tahu sebenarnya tidak ada hukuman. Apa yang kerap disebut sebagai bencana sebenarnya hanya undangan laut untuk menyelam kian dalam. Memasuki wilayah-wilayah tanpa gelombang (baca: tanpa perdebatan) tetapi penuh keheningan.

Sebagaimana ditulis rapi oleh kehidupan para Mahasidha (manusia yang menjadi agung karena melewati banyak rintangan, seperti Jalaludin Rumi, Bunda Theresa, Milarepa, Mahatma Gandhi), awalnya bencana terlihat sebagai cobaan. Namun, begitu dialami, ia memperkuat otot kehidupan. Persis seperti otot fisik yang kuat karena banyak dilatih. Bila begini cara memandangnya, bencana bukannya membawa kegelapan kemarahan, ia membawa cahaya penerang.

Berbekal ketekunan, bencana membuat batin kebal dengan penderitaan. Kekebalan ini lalu membuat manusia bisa menyambut semua dualitas (baik-buruk, sukses-gagal, hidup-mati) dengan senyuman yang menawan. Inilah secercah cahaya keheningan. Ia menyisakan hanya satu hal, compassion is the only nourishment. Dualitas memang lenyap, kasih sayang kemudian membuat kehidupan berputar.

Penulis : Gede Prama
Bekerja di Jakarta, Tinggal di Desa Tajun, Bali Utara

Sumber Kompas
http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/07/12/0042256/dalam.terang.cahaya.keheningan

Komentar Anda