Sistem Pendidikan, Jauh Panggang dari Api


Sistem Pendidikan, Jauh Panggang dari Api

 

 

Masih hangat kasus pengelolaan dana SPMB Vs UMPTN yang meresahkan calon mahasiswa yang mendambakan pendidikan kejenjang perguruan tinggi. Kasus guru yang membocorkan jawaban ujian nasional pada siswa didiknya agar memenuhi standar kelulusan. Maraknya demo menuntut kesejahteraan bagi para guru kontrak yang telah mengabdi bertahun-tahun. Tingginya biaya pendidikan, hingga runtuhnya sebuah gedung sekolah tepat di hari Pendidikan Nasional pada tanggal 2 Mei 2008 lalu. Sayangnya, pemerintah tampaknya masih setengah hati mengurusi bidang yang cukup krusial ini. Indikasi ini paling tidak terlihat dari ketidakseriusan dan ketidakkonsistensian pemerintah menangani berbagai persoalan di bidang pendidikan.


Berbagai kebijakan seperti ujian akhir, kurikulum, dan jenjang pendidikan yang sering berganti dan tanpa melalui proses evaluasi dan kajian yang mendalam tentang dampak apa yang akan terjadi nantinya adalah bukti lemahnya sistem yang diciptakan. Pemerintah belum tanggap sepenuhnya terhadap problematika pendidikan bagi warga negara.


Dari sisi filosofi pendidikan, Indonesia juga belum berhasil merumuskan pendidikan seperti apa yang menjadi model pendidikan di Indonesia. Ditengah globalisasi dan modernisasi, pendidikan Indonesia seperti gagap mengkritisi efek negatif dari globalisasi dan modernisasi. Pendidikan Indonesia semakin jauh dari cita-cita founding father yang termaktub dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa.


Filosofi tujuan pendidikan nasional dalam Undang-Undang Pendidikan Nasional banyak yang menilai sudah ketinggalan jaman karena hanya terkonsentrasi pada aktivitas guru, dosen, atau pendidik. Filosofi yang demikian dianggap akan membatasi kreativitas peserta didik dan pedagoginya cenderung bersifat naratif dan indoktrinatif. Peserta didik ditempatkan seperti obyek penderita atau gudang yang dipaksa menyimpan materi berdasar kurikulum yang diajarkan.


Ruang kreativitas dan aktualisasi diri peserta didik amat kurang sehingga kreativitas peserta didik berkutat pada kiat mencotek atau mengembangkan metode repetisi bahan-bahan. Pendidik lebih aktif dan peserta didik lebih pasif dan membeo. Filosofi pendidikan seperti ini kurang membebaskan peserta didik dan bersimpangan dengan alam demokrasi yang sedang dikembangkan.


Tujuan pendidikan nasional perlu dirumuskan kembali sehingga memuat secara implisit filosofi pendidikan sebagai \’educare\’. Educare berarti membimbing, menuntun, dan memimpin. Filosofi pendidikan sebagai educare ini lebih mengutamakan proses pendidikan yang tidak terjebak pada banyaknya materi yang dipaksakan kepada peserta didik. Proses pendidikan educare lebih menekankan pada aktivitas hidup untuk menyertai, mengantar, mendampingi, membimbing, dan mengkondisikan agar peserta didik memiliki kemampuan untuk lebih berkembang.


Lantas bagaimana dengan model pendidikan di KMHDI sendiri, berkaca pada kondisi riil pendidikan nasional saat ini, kita patut berbangga hati pada Paulo Feire, tokoh pendidikan Brazil yang menanamkan konsep pendidikan \’orang dewasa\’.  Menurut Paulo peserta didik tidak lagi dianggap obyek semata oleh pendidik. Peserta didik sama kedudukkannya dengan pendidik,  dimana keduanya sama-sama menjadi subyek.


Itu berarti adanya semangat para peserta didik di organisasi KMHDI untuk tidak pasif dan hanya menerima pengetahuan secara sepihak dari pelatih namun melalui proses dialektika aktif serta pengalaman berstruktur sehingga penanaman konsep akan lebih mendalam. Hanya saja, sebaik apapun konsep dan sistem yang telah kita miliki jika tidak diimbangi dengan kesadaran penerapan serta implementasi kesadaran berorganisasi maka hanya menjadi  konsep ideal semu belaka yang sangat sulit direalisasikan dalam mencapai visi sebagai wadah pendidikan kader.


Beginilah seharusnya sistem pendidikan dengan melihat dan berangkat dari realitas. Siswa sebagai anak didik tidak lagi menjadi \’bank\’ yang hanya menabung dan menghafal. Saatnya kita melihat realitas pendidikan untuk mencapai peserta didik dan pendidik yang menjadi subjek. Kalau tidak, pendidikan kita memang jauh panggang dari api. Sistem pendidikan dan realitas tidak memiliki keterkaitan sehingga wajar bila ouput yang dicapai tidak tepat.

Komentar Anda