“Gerah” Positivistik

Oleh. Putu Ayu Rindra DP.

Sejak duduk di bangku SMA, saya sudah sangat tertarik untuk melanjutkan kuliah di jurusan komunikasi. Sebenarnya, saya lebih dulu tertarik pada jurnalistik dan saya pun mengidentikkan jurnalistik dengan komunikasi. Ternyata saya tidak terlalu meleset, sebab jurnalistik (yang dulu lebih dikenal dengan publisistik) adalah cikal bakal dari ilmu komunikasi. Walaupun tak dipungkiri, jika ilmu komunikasi tak melulu mengarahkan mahasiswanya untuk menjadi seorang jurnalis.


Ilmu komunikasi ternyata tidak se-sederhana yang saya bayangkan. Komunikasi tak hanya sekedar proses penyampaian pesan dari komunikator ke komunikan, tapi juga dapat dijadikan alat untuk perang bahkan untuk menjajah bangsa lain. Maka tak heran jika ilmu ini telah lebih dulu berkembang di negara-negara "besar" seperti Amerika dan Eropa. Indonesia pun turut terkena imbas ini. Perkembangan teknologi dan informasi yang cukup pesat turut menjadi indikator "laris"nya pendidikan komunikasi di Indonesia. Sayangnya, walaupun telah berkembang selama lebih dari satu dekade, pengajaran ilmu komunikasi di Indonesia masih belum "Indonesia sekali", sebab masih bertumpu pada Amerika. Sebagian besar literatur masih "mengimpor" dari Amerika, pakar-pakar Ilmu Komunikasi Indonesia pun masih tergolong minim. Karena cenderung "menganut" Amerika, komunikasi Indonesia akhirnya mengarah ke paradigma positivistik, dibandingkan dengan tiga paradigma lain dari empat paradigma besar komunikasi yakni positivistik, interpretatif, modern dan postmodernisme.

 

Paradigma positivistik yang sangat keilmuan dan empiris membuat ilmu komunikasi menjadi tidak berkembang karena terpaku pada data statistik, sehingga suatu riset kadangkala menjadi "mandeg". Mungkin inilah yang menyebabkan pakar komunikasi Indonesia menjadi minim yang berimplikasi pada literatur yang juga minim (dari pakar komunikasi Indonesia). Sekedar flashback, paradigma positivistik mulai dibangun sejak perang dunia II dimana para ahli komunikasi Amerika meneliti tentang teknik persuasi dan propaganda untuk kebutuhan militer Amerika. Dengan kata lain, akar dari
paradigma positivistik adalah persuasi dan propaganda. Di Indonesia sendiri, propaganda telah muncul sejak tumbangnya orde lama menjadi orde baru. Soeharto sebagai tokoh sentral orde baru cukup berhasil mem-propaganda masyarakat Indonesia selama 32 tahun, yang hingga kini pun masih terasa. Semisal kecil, celetukan sebagai berikut "Enakan di jamannya Pak Harto ya, gak susah, aman, gak ada bencana alam". Inilah fase dimana Indonesia mulai menganut paradigma positivistik yang masih cukup bertahan hingga sekarang. Walau tak dipungkiri, era reformasi pasca orde baru memudahkan akses informasi ke Indonesia. Bebasnya arus informasi ini sangat memungkinkan masuknya paradigma interpretatif, modern dan postmoderisme ke Indonesia yang juga merupakan paradigma yang dianut Eropa.


Beberapa yang cukup "gerah" menyadari adanya muatan kekuasaan yang bermain dalam ilmu komunikasi, yang akhirnya berpengaruh dalam sistem pengajaran ilmu komunikasi di institusi-institusi pendidikan Indonesia, mulai berani "mengkritik". Salah satunya Ignatius Haryanto, yang mengkritik perkembangan ilmu komunikasi di Indonesia yang lebih membela satu paradigma saja yakni positivistik. Nampaknya ia menyadari bahwa ilmu komunikasi di Indonesia menjadi stagnan karena hanya bertumpu pada satu paradigma saja.


Fenomena ini membuat saya "merinding". Jika Indonesia terus menerus menganut Amerika, maka tidak mustahil jika nantinya Indonesia tidak akan memiliki identitas komunikasi-nya sendiri. Hanya bertumpu pada satu acuan atau satu paradigma, menurut saya hanya akan membentuk satu sudut pandang saja. Seharusnya, keempat paradigma yang ada dipelajari secara sama dan equal sehingga dapat memperkaya khazanah ilmu komunikasi Indonesia. Serta tidak menghilangkan karakteristik Indonesia dalam kajian keilmuannya.

Komentar Anda