Bangkit Indonesiaku, Bangkit Indonesiamu

Bangkit Indonesiaku,

Bangkit Indonesiamu

 

Ketika mendengar kata bangkit maka yang ada dalam pikiran kita adalah suatu hal yang muncul kearah positif dari keterpurukannya atau kondisi stagnan, seperti halnya kalimat ini "Mak lampir bangkit dari tidurnya" yang artinya seseorang yang bernama mak lampir terbangun dari kondisi tidurnya.

Sama halnya dengan bangsa ini yang pada tanggal 20 Mei 2008 akan memperingati hari Kebangkitan Nasional. Tahukah Anda mengapa tanggal itu dipakai sebagai hari peringatannya? Lalu mengapa kita sebagai Bangsa Indonesia harus merayakannya? Mari kita simak jawabannya.

Sekitar 100 tahun yang lalu, tepatnya pada tanggal 20 Mei 1908, berdirilah sebuah organisasi bernama Boedhi Oetomo yang didirikan Dr.Soetomo beserta para pelajar STOVIA (sekolah dokter). Organisasi ini awalnya bergerak dalam dunia pendidikan lalu berkembang dan bergerak di bidang politik. Organisasi ini banyak melakukan perjuangan dalam usaha memerdekakan bangsa Indonesia. Selain itu, Dr. Soetomo sebagai pendirinya juga banyak mengeluarkan tulisan-tulisannya sebagai propaganda untuk menumbuhkan rasa nasionalisme dan keinginan untuk terus berjuang memerdekakan bangsa ini kepada masyarakat kala itu.

Melihat latar belakang peringatan Kebangkitan Nasional yang akan menginjak 100 tahun ini, dapat kita jadikan sebuah motivasi untuk menumbuhkan rasa nasionalisme yang mungkin sudah mulai luntur terkikis oleh arus globalisasi pada sebagian anak bangsa. Apa parameternya? Tanya pada diri anda! Seberapa serius jiwa dan raga anda dalam memperingati hari kemerdekaan? Seberapa hormat jiwa dan raga anda kepada Pancasila dan Sang Saka Merah Putih? Seberapa lantang suara dan hati anda menyanyikan lagu Indonesia Raya? Padahal coba kita lihat beberapa negara maju, sebagai contoh Jepang dan Amerika Serikat. Mereka sangat menghormati simbol-simbol negara yang mereka miliki. Kita lihat Inggris sampai menetapkan lagu kebangsaan "God Save The Queen". Sebegitu besar penghargaan mereka terhadap simbol di negaranya. Maka tidak ada alasan bagi kita Bangsa Indonesia untuk tidak melakukan hal yang sama. Melihat kondisi bangsa saat ini, rasa nasionalisme tidak hanya cukup seperti beberapa hal diatas. Seberapa peduli Anda terhadap segala masalah yang membelit bangsa ini seperti KKN, kerusuhan, hutang negara yang terus menumpuk dan harus dibayar oleh anak cucu kita?

Tunjukkan rasa nasionalisme Anda dengan melakukan hal kecil sekalipun, contohnya stop korupsi. Lihat saja kasus anggota DPR RI, yang terpergok menerima dana gelap, mengakibatkan hilangnya suatu habitat hutan mangroove di kawasan Riau. Mungkin ini hanya contoh kecil, namun berawal dari sikap seperti inilah bangsa yang kaya ini nyaris dicap sebagai negara yang miskin.

Pengaruh arus globalisasi sudah semakin nyata. Semakin banyaknya barang dan jasa yang bersumber dari luar negeri yang semakin nyaman kita pakai. Sebagai contoh kecil, kita sebagai umat Hindu dalam membuat pajegan berlomba-lomba mempercantiknya dengan buah-buah impor (pear newzeland, apel merah thailand, atau pisang cavendish). Pernahkah berpikir bahwa itulah yang akan mematikan para petani lokal? Ketika Danghyang Nirartha membangun Hindu di Bali, salah satu tujuan beliau menerapkan upakara mebanten dan mejejaitan di Bali adalah untuk pemerataan perputaran ekonomi masyarakat. Dengan memakai barang impor, maka perputaran ekonomi pun tidak akan terjadi dan makin terpuruklah bangsa ini.

MERDEKA…!!!!

(merdeka dari penjajahan ekonomi)

 

I Putu Wisnu Merthayoga

Ketua PC KMHDI Surabaya

Periode 2005/2007

Komentar Anda