Catur Brata Penyepian, Bagus atau Harus

    Setahun sekali, kita sebagai umat Hindu akan menghadapi satu hari raya yang disebut Nyepi. Konsepnya, di hari ini kita akan membuat dunia ini menjadi sepi, beristirahat dari aktivitasnya yang biasa sembari kita melakukan perenungan. Implementasinya adalah melalui Catur Brata Penyepian (CBP).
    Ada empat bagian yang terkandung disitu namun jika dicermati ternyata banyak juga hal yang tercakup disana. Bagian-bagian tersebut adalah amati geni, amati karya, amati lelanguan, dan amati lelungaan. Kita tidak diperbolehkan keluar rumah, menyalakan "api", menikmati hiburan, dan bekerja. Lha terus ngapain dong? Ya tidak ngapa-ngapain.. Jadi patung seharian? Tentu saja bukan.
    Tulisan ini tidak akan membahas apa yang seharusnya kita lakukan saat Nyepi. Saya cuma ingin kita merenungkan satu hal, apakah Catur Brata Penyepian itu wajib kita lakukan atau hanya sekedar bagus kalau kita jalankan.
    Berbagi pengalaman pribadi, saya telah menjalani sekian banyak hari raya Nyepi, secara saya sudah hidup puluhan tahun. Belum pernah saya mengalami perayaan Nyepi dimana Catur Brata Penyepian tersebut dilaksanakan. Masih terdapat banyak pelanggaran yang saya lihat. Secara umum, saya dapat urutkan dari yang paling banyak dilanggar yaitu, Amati Lelanguan, Amati Geni, Amati Karya, kemudian Amati Lelungaan. Ada beberapa penyebab yang bisa saya simpulkan, yaitu :
    1. Amati Lelanguan.
    Hari Nyepi benar-benar mengistirahatkan umat yang merayakannya. Jadi, untuk menghindari kebosanan, tentu saja mereka mencari hiburan. Hal ini paling sering terjadi, disadari atau tidak. Bahkan ada yang memang sudah sengaja mempersiapkannya sehari sebelumnya. Ini saya alami di Bali dan di daerah rantauan.
    2. Amati Geni.
    Manusia sekarang hampir tidak bisa berbuat apa-apa tanpa "api". Api disini saya maksudkan tidak hanya api si jago merah tersebut namun lebih kepada energi. Jadi, listrik juga akan termasuk disini. Masih ada beberapa, kalau tidak mau disebut banyak, umat yang menggunakan listrik pada hari suci ini, baik dari yang sekedar menyalakan lampu secara sembunyi-sembunyi sampai yang menghidupkan televisi, komputer, dan alat-alat elektronik lainnya. Ini juga saya alami di Bali dan daerah rantauan.
    3. Amati Karya.
    Bekerja susah dihentikan di jaman yang serba cepat seperti sekarang ini. Tuntutan untuk menyelesaikan pekerjaan selalu muncul. Iya kalau Nyepinya hari Jumat, pada Sabtu dan Minggunya kita mendapat jeda. Kalau Nyepinya jatuh di hari Minggu, sementara Senin kita dikejar deadline tugas? Terpaksa Minggu harus dikebut. Ini kebanyakan terjadi di daerah rantauan pada kalangan bernama mahasiswa.
    4. Amati Lelungaan.
    Ini jarang dilanggar karena sekarang (bahkan dari dulu) sudah banyak penjaga. Tapi kalau keadaan mendukung, banyak umat yang melanggar ini juga. Ini sering saya alami di Bali dan pernah juga di daerah rantauan.
    Beberapa dari kita mungkin ada yang pernah mengalami hal itu juga. Atau justru ada yang setiap tahun selalu komplit melaksanakan CBP itu? Untuk saudara yang melaksanakan, saya angkat topi. Tapi permasalahan yang ingin saya angkat bukan itu. Sesuai post_title di atas, sebenarnya kita sebagai umat Hindu wajib atau tidak melaksanakan CBP ini? Apakah CBP ini hanya menjadi sesuatu yang bagus untuk dilakukan? Apakah kita tidak bersalah apabila tidak melaksanakan CBP ini? Saya merasakan masih ada semacam keengganan untuk melakukan hal ini di sebagian umat kita. Saya berpikir, apakah mereka terlalu meremehkan hal ini karena di agama tidak diwajibkan atau karena mereka tidak tahu kalau itu wajib?
    Mungkin akan ada yang berpikir kalau urusan tersebut tidak usah terlalu dipikirkan karena sudah menyangkut kepercayaan. Hindu bukan agama yang memaksa. Semua harus berawal dari kesadaran. Namun kalau semua jawaban begitu, apa yang ada di Hindu hanya akan menjadi bagus untuk dilaksanakan saja. Saya pikir sudah saatnya umat tahu mana yang bagus dan mana yang harus karena itu adalah dua hal yang berbeda. Paling tidak, itu bisa mempertebal Sradha umat dan menghindarkan dari yang namanya "meremehkan" agama. Merasa baik-baik saja untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu, umat dengan gampangnya membenarkan apa yang dilakukannya. Saya tidak menggeneralisasi itu pada semua umat karena kenyataannya masih banyak umat Hindu yang melaksanakan namun fakta yang saya dapatkan dari pengalaman tidak dapat dipinggirkan begitu saja. Mungkin saja kurangnya Sradha yang menyebabkan umat Hindu dengan gampangnya dikonversi dimulai dari hal-hal kecil seperti meremehkan ini bukan?
    Intinya saya menganggap CBP sesungguhnya adalah sesuatu yang harus kita laksanakan. Selain sebagai bagian dari menghormati hari raya kita sendiri, maknanya akan lebih terasa apabila CBP ini kita laksanakan dengan sungguh-sungguh baik bagi diri sendiri maupun lingkungan. Mulai dari diri sendiri, kita bisa menyebarkannya ke umat Hindu yang lain. Atau kita bisa mencoba merayakan Nyepi bersama kerabat yang memang menjalankannya. Saat kita menemukan kepuasan dalam perenungan melalui pelaksanaan CBP ini, saya yakin Sradha kita akan bertambah tebal dan kuat. Karena itu, coba berpikir kalau CBP ini adalah harus dilakukan. Paling tidak, itu bisa menjadi pelecut bagi yang belum terbiasa. Jadi kalau ada yang tidak melaksanakan CBP, katakan saja "Lho, ini kan wajib."
Komentar Anda