Revitalisasi Adat Bali Secara Bijak

Sebuah Nostalgia

Pulau Bali dari sejak zaman dahulu kala terkenal dengan keindahan alamnya dengan daya dukung adat-istiadatnya yang kental menjadikan pulau dewata menjadi salah satu destinasi wisata terkemuka dunia. Wisatawan yang datang ke Bali, harus diakui adalah tidak untuk melihat gedung-gedung bertingkat ataupun beton-beton bertulang, mereka berwisata ke Bali adalah untuk melihat Bali yang Bali. Bagaimana keramahan masyarakatnya, keindahan alam,serta budayanya yang eksotis-artistik.

Bali patutlah mengucapkan angayubagia,puji syukur atas dilimpahkannya berbagai potensi manusia dan alam yang dianugrahkan Sang Hyang Widhi Wasa, betapa tidak, Bali yang sesungguhnya minus SDA seperti pertambangan,ataupun industri berskala besar mampu mencukupi kebutuhannya secara baik terlepas dari kesenjangan yang masih saja terjadi. Kita pun sepakat bahwa selama ini, pilar utama masyarakat Bali, yakni desa pekraman mampu menjadi motor bagi pergerakan pembangunan di pulau dewata.Dengan  bernafaskan Tri Hita Karana,  implementasi Tri Kahyangan dijalankan dengan  penuh  tanggungjawab dengan semangat ngayah.

Desa Pekraman Kini dan Nanti

Seperti kita sadari bersama, betapa serbuan globalisasi demikian derasnya mengalir memasuki sendi-sendi kehidupan masyarakat secara sosial maupun individu. Selama ini desa pekraman mampu menjalankan tugasnya dengan baik membendung efek negatif dari globalisasi tersebut. Namun tidak dapat dipungkiri, kemampuan desa pekraman dengan segala perangkatnya termasuk diantaranya awig-awig desa pekraman sangat terbatas. Kalau tidak diantisipasi sesegera mungkin, bukan mustahil, Bali bisa saja menjadi betawi kedua ataupun living monument yang tinggal kenangan. Bagaimana posisi manusia Bali? Jelas bahwa, diperlukan penyelamatan dari kehancuran yang harus dilakukan oleh orang Bali sendiri,bukan malah melakukan penghancuran dari dalam.Tengok saja, bagaimana, konflik adat terus saja terjadi tiap tahun di Bali. Eskalasi kekerasan yang dilakukan oleh orang Bali atas nama adat menunjukkan tren yang meningkat.Sebut saja, kasus di Tampaksiring,Pengosekan Ubud, Karangasem, dan lain-lainnya. Tradisi mula keto, suryak siu, semestinya dapat digeser dengan kebiasaan yang lebih rasional manusiawi. Masalah internal yang terjadi dalam tubuh desa pekraman di Bali bisa menjadi bom waktu yang sewaktu-waktu bisa meledak dan menghancurkan orang Bali sendiri. Desa pekraman di Bali memang menjadi benteng utama adat istiadat Bali, namun harus diwaspadai dapat juga menjadi penghancur Bali sendiri, kalau tidak dikelola secara baik dan bijak. Kuncinya adalah bagaimana, perangkat aturan yang ada seperti awig-awig mampu menyerap perubahan secara elastis tanpa kehilangan roh-nya yang asli. Sepeti disamapaikan oleh ahli hukum adat Bali Wayan P.Windia, dalam berbagai seminar, bahwa adat istiadat Bali perlu direvitalisasi agar tidak ketinggalan zaman dan ditinggalkan oleh zaman. Saat ini, diperlukan kesamaan visi, misi dan persepsi antara pilar utama propinsi Bali, pemerintah daerah dan jajaran, desa pekraman, sulinggih dan masyarakat untuk bersatu dalam keragaman dan dinamika yang ada untuk menciptakan Bali yang benar-benar shanti.

I Made Dwija Suastana, S.H.
Simpatisan KMHDI

Komentar Anda