Revitalisasi Adat Bali Secara Bijak (2)

REVITALISASI ADAT BALI SECARA BIJAK

Oleh: *I Made Dwija Suastana, S.H.

Masyarakat Bali sejak zaman Mpu Kuturan mengenal sistem desa pekraman yang dalam kehidupan sosial masyarakatnya di implementasikan dalam banjar-banjar yang menjadi penyokong Tri Kahyangan yang ada di desa pekraman. Konsep yang adiluhung ini, sekaligus menjadi pilar utama kehidupan masyarakat Bali yang diwarisi sampai sekarang.

Tidak dapat dipungkiri, kehidupan adat istiadat begitu merasuk dalam setiap sendi-sendi kehidupan masyarakat Bali. Kegiatan ngayah sebagai implementasi dari konsep Kahyangan Tiga,dijalankan oleh masyarakat menurut desa, kala, patra (tempat,waktu, keadaan) yang belaku di desa pekraman masing-masing dan apa yang tertuang dalam kesepakatan krama desa, dituangkan secara tertulis dalam awig-awig desa pekraman. Pengaturannya pun dibuat sedemikian rupa dilengkapi sanksi bagi pelanggarnya. Pada era sebelum tahun 80-an, pertanian menjadi sumber penghasilan masyarakat Bali yang utama. Areal persawahan, membentang sangat luas menghampar hijau dari utara ke selatan, dari timur ke barat. Daerah Kuta dan kota Denpasar dulunya adalah daerah pertanian yang subur, karena mendapat aliran air yang cukup dari daerah hulu. Dengan sistem pengairan tradisional bernama Subak, menjadikan lahan pertanian begitu teratur dan mampu menjadi sumber penghasilan utama masyarakat Bali pada saat itu.

Bagaimana Sekarang?

Sungguh kenyataan yang amat tragis, dewasa ini tata ruang Bali sangat amburadul, tidak ada master plan yang jelas. Beton-beton bertulang tumbuh subur, gedung-gedung bertingkat berkembang biak dengan sangat cepat di Bali. Perlu dicatat bahwa, wisatawan yang datang ke Bali tidak untuk melihat gemerlap beton-beton perkasa ataupun mobil-mobil yang terjebak macet di kota dan di desa. Mereka pasti ingin menikmati Bali yang BALI ( bersih,aman,lestari, indah). Namun, sangat dikhawatirkan, semua itu hanya tinggal kenangan.Melihat kenyataan yang ada, sungguh kekhawatiran yang beralasan. Hal ini ditambah dengan ego sektoral yang menghinggapi \’raja-raja\’ kecil di kabupaten/kota di Bali. Semua berjalan sendiri-sendiri. Desa pekraman yang notabenenya adalah pilar utama Bali pun tidak luput dari penggerogotan. Ironisnya, penggerogotan justru lebih banyak dari dalam. Contohnya, konflik-konflik adat yang hampir tiap tahun selalu saja terjadi, membuat kita bertanya, beginikah orang Bali medesa adat?? Sebut saja kasus di Tampaksiring, masalah ngaben yang ditolak warga di Pengosekan Buluk Babi, kontroversi peralihan nama dari jaba ke gusti dan seabrek kasus lainnya,menjadikan Bali begitu rapuh menghadapi serangan dari luar. Serbuan penduduk pendatang dengan berbagai motif kedatangan menjadikan Bali ibarat gula dikerubuti semut, namun justru cenderung membuat gula nya habis, semutnya tidak pernah mati-mati menyerbu.

Mobilitas orang Bali dewasa ini berjalan dengan sangat cepat, tidak seperti zaman dulu yang mayoritas sebagai petani. Apalagi dengan adanya booming pariwisata mulai era akhir 80-an, menjadikan orang Bali begitu mendewakan gemerincing dolar, dan gemerlap kehidupan modern(suka tidak suka ini harus diakui). Menurut pengamat hukum adat Bali, Wayan P. Windia,mengingat demikian derasnya arus globalisasi dan perubahan pola pikir masyarakat Bali maka merupakan suatu keharusan awig-awig desa pekraman di revisi tanpa mengurangi esensi-nya. Awig-awig sebagai pedoman kunci dalam bermasyarakat di Bali, diharapkan tidak saklek,kaku dalam pelaksanaannya. Sehingga tidak membuat krama adat tersiksa oleh aturannya sendiri. Apa yang disampaikan oleh dosen hukum adat Unud ini sepertinya patut direnungkan dan dilaksanakan sesegera mungkin. Betapa tidak, mengingat berbagai kasus yang terjadi di Bali, lebih banyak dikarenakan oleh kekakuan awig-awig yang ada. Awig-awig yang dipasupati dianggap tidak boleh dirubah, padahal awig-awig itu diadakan untuk kenyamanan kehidupan sosial masyarakatnya. Diharapkan pemerintah daerah Bali beserta jajarannya mampu menjadi fasilitator bagi upaya penyelamatan desa pekraman di Bali yang ditakutkan menjadi Betawi kedua. Upaya sungguh-sungguh semua pihak dalam merevitalisasi desa pekraman di Bali begitu ditunggu demi keajegan warisan budaya satu-satunya di dunia tersebut. Semoga Pikiran yang Baik Datang dari Segala Penjuru!

 

*Penulis adalah fans berat KMHDI

Satyam Eva Jayate!

Komentar Anda