Hari Raya Nyepi, Sumbangsih Hindu Bagi Penyelamatan Alam

Dewasa ini, masyarakat dunia ramai-ramai meneriakkan upaya penyelamatan lingkungan. Isu global warming menjadi begitu populer dalam wacana-wacana yang dihembuskan oleh para top leader negara maju maupun berkembang. Global warming atau pemanasan global ini pun ramai diangkat dalam diskusi,seminar dan bahkan terakhir menjadi isu global yang diangkat dalam forum konferensi dunia yang digelar di Bali baru-baru ini.

Nyepi, Kearifan Lokal Bermakna Global

Umat sedharma boleh berbangga mempunyai sebuah warisan nilai religius yang tiada terkira, tiada duanya di segala penjuru. Betapa tidak, di saat bermilyar-milyar orang di dunia ini membicarakan tentang upaya penyelamatan lingkungan, umat Hindu ternyata sudah dari zaman dulu melakukannya.Selain hari raya Nyepi, sebut saja, tumpek bubuh (harmonisasi hubungan dengan tumbuhan) tumpek kandang (harmonisasi hubungan dengan binatang), atau hari raya galungan & kuningan yang menjadi implementasi upaya menjaga  keharmonisan hubungan antara manusia dengan manusia termasuk dengan leluhur, menjadi sederetan dari sekian banyak kearifan Hindu(khususnya di Bali),bagaimana menjaga keseimbangan alam semesta beserta isinya. Khusus untuk hari raya Nyepi, telah terbukti bagaimana indeks pencemaran udara yang biasanya begitu menggila terjadi di kota Denpasar karena emisi kendaraan bermotor, dan industri lainnya, pada saat pelaksanaan catur brata panyepian, dapat ditekan secara fantastis. Begitu pula dalam dunia kedirgantaraan, masyarakat penerbangan dunia begitu menghormati pelaksanaan hari raya ini dengan tidak berlabuh di Bandara Ngurah Rai. Bahkan, pada saat pelaksanaan United Nation Conference for Climate Change di Bali baru-baru ini, peserta konferensi sempat terdiam beberapa menit begitu menyaksikan video prosesi catur brata panyepian diputar dan langsung memberikan applaus panjang begitu pemutaran video selesai. Sempat ada wacana agar Nyepi menjadi hari dunia untuk penyelamatan lingkungan, namun disayangkan wacana itu belum mampu menembus tembok kokoh kapitalis dan unsur mayoritas-minoritas. Hari raya nyepi sebagai bagian dari ajaran agama Hindu bersifat universal dan sangat sesuai dengan konteks kekinian yang menekankan pentingnya penyelamatan lingkungan. Namun sepertinya pemerintah RI terkesan menutup mata, masih memandang Nyepi adalah produk agama minoritas di Indonesia, jadi tidak usah diperjuangkan ke forum-forum PBB. Padahal, esensi penyelamatan alam dalam konsep Nyepi tidak harus mengadopsi total pelaksanaan Nyepi di Bali. Demikian juga  dalam masyarakat Hindu Bali sebagai subyek utama pelaksaaan nyepi ini, masih saja ada oknum yang kurang memahami bagaimana implementasi catur brata panyepian yang baik dan benar. Sehingga tidak mengherankan, banyak ditemui,ada oknum pada saat nyepi malah asyik berjudi, melali ke sanak-saudara, dan bahkan bentrok massa. Sungguh ironis!

Peranan Keluarga & Kesadaran dari Dalam

Implementasi dari ajaran catur brata panyepian terutama yang terkait dengan penyelamatan lingkungan harus benar-benar merasuk secara positif dalam setiap relung kesadaran umat Hindu. Cita-cita mulia agama Hindu yang mendambakan mokshartam jagadhita ya ca iti dharma  harus diakui banyak menemui kendala dari dalam. Namun, hendaknya, kendala yang ada tidak menjadi penghalang bagi pihak-pihak yang memiliki kesadaran untuk terus menegakkan ajaran yang demikian luhur ini. Untuk itu, para pemuka-pemuka agama Hindu, serta tokoh-tokoh masyarakat harus secara intens terjun ke tengah masyarakat melakukan dharma pencerahan kepada umat yang masih dilanda kegelapan. Disisi lain, para tokoh tersebut harus mampu menjadi contoh yang baik sehingga masyarakat tidak ragu untuk mengikuti jejaknya. Pencerahan sejak dini, mulai dari anak-anak, harus digencarkan. Contoh kecil misalnya, bagaimana anak dididik sejak dini membuang sampah yang baik dan benar dan pada tempatnya. Momentum hari raya nyepi dapat dipakai oleh para orang tua untuk menanamkan nilai-nilai kecintaan terhadap lingkungan pada anak-anaknya. Karena pada saat nyepi biasanya para keluarga Hindu berkumpul lengkap sehingga kesempatan untuk bercengkrama dan menanamkan nilai-nilai ajaran dharma lebih banyak. Namun dengan catatan agar para orang tua memiliki pemahaman yang cukup tentang nilai-nilai filososofi keluhuran ajaran catur brata panyepian dalam tataran praktek nyata kehidupan sehari-hari. Selamat Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1930, & Maret 2008. Semoga dunia beserta segala isinya dilimpahkan kerahayuan oleh Sang Maha Pencipta. \"\"

* Fans Setia KMHDI

"Manunggaling Idep Ngulati Kerahayuan, Dharmaning Manusa Mahottama
Sinah Ilang Awidyaning Bhumi"

Komentar Anda