Nasib Soeharto dan Kaum Muda

Oleh:  Indra Jaya Piliang
Analis Politik dan Perubahan Sosial CSIS, Jakarta

Tahun 2008 diawali dengan keresahan akibat banjir dan bencana alam. Dan kita malah mempersalahkan demokrasi. Tentu lebih banyak orang yang sibuk bertahan hidup dalam keadaan sulit ini dengan mencari makan seadanya, demi sesuap nasi, sehelai makanan, dan tenda tempat berteduh. Hanya saja kesibukan mayoritas penduduk itu menjadi kehilangan arti, ketika tanda waktu pemilihan umum 2009 telah dihitung mundur. Kompetisi politik berlangsung dalam situasi bencana.

Namun, teriakan kaum muda terus bertahan. Adian Napitupulu, dedengkot yang disegani dalam aksi mahasiswa 1998, tergeletak lemah dalam keadaan lapar. Adian mogok makan dengan tuntutan penuntasan reformasi. Kawan dan lawan Adian yang lain sudah banyak yang bergabung dengan rezim hari ini, sekalipun juga sebagian masih bertahan di luar lingkaran kekuasaan.

Terlihat gema dari tuntutan segelintir kaum muda itu hanya menampar angin. Semakin banyak kalangan tua yang bolak-balik ke Rumah Sakit Umum Pusat Pertamina untuk menjenguk Soeharto. Orkestrasi politik untuk pemutihan proses peradilan Soeharto kembali berbunyi nyaring. Ada yang meminta pengampunan, pemaafan, sampai peluang-peluang lain yang disediakan oleh dunia politik, perundang-undangan dan hukum. Padahal, dengan permintaan pengampunan dan pemaafan itu berarti Soeharto sudah dinyatakan bersalah. Kalau Soeharto diampuni atau dimaafkan, tanpa diketahui kesalahannya, sama saja dengan membicarakan soal-soal kosong melompong.

Tanpa harus terseret dengan masalah-masalah perseorangan kaum muda harus bisa mencarikan jalan bagi diri sendiri. Kalau diperhatikan situs www.soehartocenter.com, terlihat sekali Indonesia yang tua terhampar di depan mata. Kita seolah melihat Indonesia lama dan purba dalam foto-foto yang ditaruh, juga dari kalimat-kalimat yang disusun. Sejumlah cerita dalam "Mati Ketawa Cara Daripada Soeharto" di internet juga menyimpan kekonyolan yang bisa disebut lucu pada zaman ini, tetapi sesungguhnya serius dan menakutkan pada masa lalu. Tidak terlihat adanya semangat muda dalam zaman "purba" Soeharto itu.

Saya pada akhirnya sadar bahwa sudah banyak yang berubah selama sepuluh tahun terakhir ini. Perubahan yang dicoba untuk dikendalikan, tetapi terus sulit diikuti satu demi satu. Kehidupan politik tidak lagi seragam. Pidato-pidato membosankan jarang dijadikan rujukan. Beragam upacara kebesaran kehilangan nyawa. Sulit melihat ada duplikasi yang persis sama antara masa kini dengan zaman Soeharto itu. Kalaupun ada yang sama barangkali dari aspek kebulatan tekad para tokoh lama yang tidak jauh dari lingkaran kekuasaan Soeharto di masa lalu itu.

Kalaupun ada korupsi di zaman ini saya tidak terlalu yakin jumlahnya jauh lebih banyak daripada yang dipraktekkan di masa lalu itu. Dulu uang negara hilang tanpa ketahuan, sekarang ketahuan, tapi sulit dibuktikan. Sudah banyak pejabat yang masuk penjara karena korupsi, sesuatu yang sulit ditemukan di masa lalu. Zaman Soeharto tidak hanya memperlihatkan satu Soeharto, tetapi juga Soeharto-Soeharto lain yang menjadi pejabat, mulai dari menteri, gubernur, bupati, sampai kepala desa. Seorang aparat Babinsa begitu ditakuti di kampung saya pada zaman itu. Zaman yang memperlihatkan manusia-manusia kloning "daripada Soeharto".

Sikap Kaum Muda

Jadi, bagaimana kaum muda menyikapi ini? Dalam banyak diskusi yang saya ikuti di pelbagai daerah, terlihat sekali anak-anak muda sekarang tidak lagi paham akan apa yang terjadi di masa lalu. Mereka mengalami amnesia sejarah yang parah. Maka, mereka mulai juga mengutuk demokrasi, mencibir kalangan politikus, lalu mempertanyakan tentang kesejahteraan rakyat yang sulit didapat. Yang diketahui oleh anak-anak muda adalah zaman sulit di masa kini dan zaman yang baik di masa lalu.

Bangsa ini memang sudah dididik oleh Muhammad Yamin dan kawan-kawan untuk mengidolakan masa lalu, sehingga ketika zaman beranjak terlihat masa lalu lebih baik daripada zaman kini yang berantakan dihajar tsunami. Kesadaran sejarah yang rendah telah mendorong pragmatisme menjadi pilihan, lalu terkurung dalam kekinian. Anak-anak muda yang amnesia itu menjadi unsur pengkritik yang masif atas kekuasaan.

Namun, terdapat perbedaan signifikan dari potret kaum muda kini dengan yang dulu. Kalau ada anak-anak muda pemberang di masa lalu mereka menghadapi tekanan keras, bahkan masuk penjara. Tetapi, kalangan anak muda pemberang kini paling hanya muncul dalam aksi-aksi demonstrasi yang bersifat simbolik. Dengan mudah mereka juga bisa langsung beralih menjadi pendukung seseorang apabila mendapatkan keuntungan politik dan finansial. Rezim yang lunak membuka peluang untuk kompromi dan negosiasi.

Oleh karena itu, saya benar-benar tidak yakin kalau kalangan anak-anak muda kini masih memiliki kekuatan. Kompromi dan negosiasi telah melumpuhkan mentalitas mereka. Pragmatisme hanya menyediakan kekhawatiran atas bidang pekerjaan yang hendak diraih. Era liberalisasi politik dan ekonomi telah membuat setiap orang mengejar kepentingan pribadi masing-masing. Dengan kebebasan, kesempatan dan peluang apapun terbuka lebar. Pilihan untuk menjadi profesional semakin kuat, ketimbang terus bergelimang dengan persoalan abstrak atas nama idealisme dan ideologi.

Untuk persoalan Soeharto kaum muda yang terlibat untuk mengkritisi hanya terdiri dari stok lama, yakni generasi aktivis kaum muda yang pernah merasakan kegetiran pada zaman Soeharto. Penyikapan dari kaum muda generasi kini sulit didapat. Diskusi soal Soeharto bagi mereka adalah pekerjaan yang membosankan. Kebosanan melemahkan perjuangan. Seiring dengan itu, jumlah pengkritik Soeharto juga berkurang drastis, terutama ketika satu per satu mereka terserap ke dalam sistem politik dan kenyamanan sebagai aktivis.

Soeharto dan kaum muda pengkritiknya jelas menjadi orang-orang yang kesepian. Waktu telah membilas kemarahan hanya menjadi nada sumbang yang ditinggalkan para pendukung. Kalaupun ada yang harus dilakukan tampaknya hanya dengan mengupayakan agar Soeharto-Soeharto baru tidak hadir sebagai langkah terakhir. Sebagai pembentuk dan pemilik zaman tugas itulah yang terpampang di depan mata kaum muda, terutama ketika pemilu semakin dekat dan hawa otoritanisme terselubung mulai terasa.

Sumber: Suara Pembaruan
http://www.suarapembaruan.com/last/index.html

Komentar Anda