Anggrek Masih Bertaring

Pesona anggrek memang tak bisa dipandang sebelah mata. Disaat anthurium (gelombang cinta) tiba-tiba muncul menjadi ”primadona” di ranah bisnis flora nusantara, tak serta merta meruntuhkan semangat pebisnis anggrek dalam menjalankan bisnisnya. Menurut Novianto, salah satu pebisnis anggrek di kota Batu, Jawa Timur prospek bisnis anggrek selalu stabil. Jenis anggrek yang banyak membuat orang tidak pernah bosan. “Warna yang beragam juga membuat orang tidak jenuh,” ungkapnya.

Terbukti, usaha Kebun Anggrek Soerjanto Orchid miliknya mampu bertahan selama 21 tahun bahkan telah membuka satu kebun lagi di Purwodadi tahun 2000 silam. Di kediaman sekaligus kebun anggreknya, akhir Desember lalu (22/12), Novianto menuturkan bahwa awalnya bisnis ini dari hobi sang ayah tahun 1958. Awal tahun 71-72, anggrek dijadikan usaha sampingan, waktu itu masih di Surabaya. Lalu pada tahun 1984 dari Surabaya memutuskan pindah ke Batu, cari udara segar. “Di tahun 1986 barulah aggrek menjadi usaha utama sampai sekarang,” tutur pria yang akrab disapa Novi ini.  

Ketertarikan Novi pada anggrek lantas mendorongnya untuk mengikuti beasiswa fellowship training, semacam practical training selama setahun di Belanda. ”Disana saya mempelajari ilmu bukan budidaya. Kebetulan  negara kincir angin itu juga menggunakan rumah kaca utnuk membudidayakan anggrek,” jelasnya. Memang, kebun anggrek miliknya di bilangan Panglima Sudirman IX-3, Batu tersebut hanya menggunakan paranet untuk membudidayakan anggreknya.

Walau cantik, anggrek rupanya sangat ringkih jika kelebihan cahaya atau air. ”Anggrek butuh naungan (paranet) untuk memenuhi intensitas cahaya. Anggrek yang genusnya beda, intensitas cahayanya juga beda. Jenis dendrobium membutuhkan 50% cahaya, jenis cattleya juga 50%, phalaenopsis hanya butuh 30% dan jenis vanda 75 hingga 100%. Jika berlebih, anggrek bisa terbakar,” ujar Novi sembari tertawa. Anggrek juga rentan busuk jika kelebihan air. ”Saat musim hujan, saya menggunakan tudung plastik agar anggrek tidak basah oleh air untuk menghindari busuk,” tambahnya.

Faktor lain yang juga harus diperhatikan adalah kelembaban udara yang harus selalu dikisaran 60%, temperatur dan unsur hara (pupuk). Bibit anggrek diperolehnya melalui hasil persilangan antar anggrek yang telah menembus pasar nasional antara lain Bali, Surabaya, Sulawesi dan Kalimantan. ”50% pasar ada di Bali,” ungkap Novi yang justru enggan berusaha di Bali, walau prospek pasarnya lumayan. Novi malah tertarik pada pasar Indonesia Timur, walau diakuinya kendala besar siap menanti. ”Potensi pasarnya besar, sayang sulit dijangkau. Transportasinya lama padahal tidak baik bagi anggrek yang hendak dipasarkan kesana,” keluhnya.

Tak hanya pasar nasional, anggrek-anggrek Novi juga akan segera merambah pasar internasional. ”Tapi anggrek yang dipasarkan adalah jenis dendrobium yang merupakan spesialis alam Indonesia karena 70% plasma nutfahnya ada di Indonesia, tentu saja limited edition,” terangnya. Jika memasarkan anggrek silang diakuinya akan kalah bersaing apalagi berhadapan dengan Hawai atau Thailand, pasti kalah telak.

Anggrek yang ditawarkannya berkisar antara 15 ribu hingga jutaan rupiah. ”Kami memberi range nilai 60 hingga 90 untuk menilai anggrek yang unggul agar sesuai harga,” ujar Novi. Tak kurang ribuan jenis spesies dari 4 genus memenuhi kebun anggrek milinya untuk dipilih. Belum lagi anggrek koleksi yang merupakan anggrek alngka dan anggrek yang mengalami muatsi turut meramaikan kebun seluas 1800 meter persegi tersebut. Novi yang juga tergabung dalam perhimpunan Anggrek Indonesia (PAI) rupanya memiliki satu keinginan yang amat mulia. ”Bersama PAI, suatu saat kami ingin mengembalikan anggrek ke habitat asal,” tutupnya.(Rindra)

Komentar Anda