Perlu Adanya Keseimbangan

Jakarta. Awal Desember ini dunia tengah diributkan dengan isu perubahan iklim. Hal ini juga terkait dengan diselenggarakannya KTT PBB tentang perubahan iklim (United Nation Framework on Climate Change) di Nusa Dua, Bali. KTT yang diikuti sekitar 190 negara tersebut telah dimulai sejak 3 Desember lalu dan akan berakhir 14 Desember mendatang. Proses perundingan Konferensi para Pihak  atau Conference of Parties (COP) ke-13 ini akan merumuskan cetak biru tentang pemanasan global untuk menggantikan Protokol Kyoto yang masa berlakunya akan habis pada 2012 mendatang.

Perubahan iklim ini terjadi akibat tidak bersahabatnya manusia terhadap alam. Padahal manusia sudah mengambil dan bahkan mengeksplorasi secara berlebihan dengan tidak memperhatikan kelangsungan kehidupan. “Seharusnya alam tetap dijaga keberlangsungannya dan tidak hanya mementingkan kekuatan investasi yang merusak alam,”  jelas Wayan Sudane, Presidium Pimpinan Pusat Kesatuan Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia ketika dikonfirmasi di Jakarta hari ini (5/12).

Selama ini, lanjutnya, kita lalai dan hanya mengejar kepentingan investor untuk mengembangkan maupun mengeruk kekayaan alam. Ironisnya, hal ini tidak diimbangi dengan tindak lanjut untuk memberikan nilai tambah yang positif kepada alam. Akibatnya terjadilah kerusakan dan perubahan iklim yang justru berdampak pada manusia sendiri. Ketika ditanya dengan kearifan budaya yang ada di Bali, Wayan menjelaskan bahwa itu sebaiknya diterapkan pada kehidupan untuk memperoleh keseimbangan yang harmonis. “Ajaran Tri Hita Karana yang ada di Bali merupakan konsep untuk menjaga keharmonisan kepada Tuhan, sesama manusia, dan tentunya kepada alam,” tandasnya. [*oni]

Komentar Anda