Diklat Jurnalistik Nasional: Kawah Candradimuka Penulis KMHDI

Kader-kader muda KMHDI bertemu kembali di perhelatan tingkat nasional. Mereka yang berasal dari berbagai daerah seperti Palembang, DKI Jakarta, Banjarmasin, Palangkaraya, Jawa timur (Surabaya, malang, jember), Bali (denpasar, Badung, Buleleng), NTB, hingga  NTT, berkumpul pada tanggal 21-23 Desember 2007 untuk mengikuti Diklat Jurnalistik Nasional yang diselenggarakan oleh Pimpinan Pusat Kesatuan Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia (PP KMHDI) bertempat di Balai Pelatihan Bima Sakti, Kota Batu, Jawa Timur.
Peserta yang hadir sekitar  80 orang sangat antusias mengikuti acara diklat. Bahkan kegiatan ini juga diikuti oleh mahasiswa Hindu asal Yogyakarta. Diskusi panel mengawali pembukaan acara diklat dengan mendatangkan pembicara dr. Putu Moda Arsana, Sp.PD, KEMD dengan mengangkat tema Peran Generasi Muda Hindu dalam Dharma Agama & Dharma Negara antara Harapan & Kenyataan.
Hari pertama kegiatan yang bertema Internalisasi Cita-cita KMHDI Bagi Kader-kader Muda yang Berkualitas ini diisi dengan materi ruang yang lumayan padat seperti syarat menjadi jurnalis, kode etik jurnalistik, menulis berita, teknik peliputan, hingga marketing. Hari kedua peserta mempraktekkan materi dengan meliput langsung ke tiga area berbeda yang telah dipersiapkan panitia, yaitu kebun Anggrek Suryanto Orchid, kebun Apel Supaeman sekaligus ketua Parisada Batu. Dan diakhiri dengan lokasi ketiga yaitu Pura Luhur Giri Arjuno. Praktek diakhiri dengan persembahyangan yang diikuti oleh seluruh peserta dan panitia. Hari ketiga, acara diklat ditutup dengan diskusi bersama Agus Sunyoto, penulis buku Rahvana Tatwa dan Syeikh Siti Jenar untuk membagi pengalaman beliau selama menulis buku.
Kegiatan ini merupakan implementasi dari buku Dasar Jurnalistik sekaligus program Kerja Pimpinan Pusat KMHDI dalam hal ini Departemen Litbang bekerjasama dengan Departemen Kaderisasi periode 2006-2008. Harapannya agar diklat ini menjadi kawah candradimuka bagi gerakan KMHDI yang berorientasi pada pendidikan kader yang dapat mengubah pola pikir anggotanya. Pola pikir yang menjadi landasan bagi pola perilaku harus dapat dibentuk dengan upaya dan usaha yang tepat dan kontinyu.
Menurut Wayan Sudane, Presidium KMHDI membentuk mahasiswa Hindu yang berkualitas hanya dapat diwujudkan dengan mengasah pola pikir menjadi lebih berkualitas. Banyaknya faktor-faktor luar (External Factors) yang senantiasa menyeret mahasiswa Hindu kearah yang tidak produktif dan konstruktif. Ambil saja sebagai contoh yang kini sangat merajalela yaitu konsumerisme dan liberalisme yang menyerang setiap hari melalui berbagai media. External factors ini hanya dapat disikap oleh kader yang “sadar”. “Kesadaran ini dapat diwujudkan apabila kader memiliki pikiran yang sadar akan faktor luar tersebut dan sadar akan peranannya di dalam masyarakat yaitu sebagai insan pembangun“ tegas Wayan.
Hal ini juga ditegaskan oleh Dewiyana, Ketua Departemen Litbang PP KMHDI. Menurutnya satu hal yang masih menjadi bayang-bayang menakutkan bagi organisasi ini adalah keberlangsungan cita-cita organisasi. Karena selama kurun waktu tersebut tentunya akan rentan terhadap terjadinya distorsi cita-cita organisasi. Oleh karena itu me-refresh ulang atau flashback bagi kader-kader saat ini adalah usaha yang patut dilakukan. “Jiwa KMHDI yang sangat abstrak namun merupakan motor penggerak organisasi ini seringkali tidak dapat diinternalisasi kepada anggota melalui kegiatan-kegiatan yang telah diprogramkan“ jelasnya.
Disisi lain, kader-kader organisasi harus mampu berkontribusi terhadap masyarakat dalam bentuk apapun demi mempercepat pembangunan masyarakat yang lebih baik. Mungkin terkesan idealis, namun satu hal yang bisa dilakukan adalah dengan menyebarkan informasi yang berguna bagi masyarakat. Karena itu dipandang perlu untuk membentuk kader yang memiliki kemampuan untuk menuangkan pemikiran dalam bentuk tulisan agar nantinya dapat disebarluaskan kepada masyarakat sebagai pemicu perubahan. (dw)
 

Komentar Anda