Pemanasan Global dan Penghematan Energi

Oleh Ketut S Astawa
staf FT Unud, saat ini sedang mengambil Doktoral CREST (Center Renewable Energy System and Technology) Loughborough University, UK

GLOBAL warming dan high level carbon emission bukanlah sekadar isu, namun sudah benar-benar terjadi. Dalam 10 tahun ke depan, bila trend penggunaan fosil energy dan peningkatan emisi carbon ke atmosfir tetap tidak berubah maka kurang lebih 8-10% luas daratan akan berkurang setiap tahunnya, dan dalam 10 tahun berikutnya malapetaka sudah di depan mata.
 
Peringatan ini paling tidak sudah disampaikan oleh beberapa researcher lingkungan di dunia. Seperti dari Queen\’s University Ontario Canada, yang telah mengamati perubahan es abadi di Arctic (kutub Utara), selama lebih dari 15 tahun terakhir. Tercatat tahun 2007 ini kerusakan paling dahsyat terjadi, yakni suhu di Kutub Utara telah mencapai 22 C dalam bulan Juni-Juli tahun ini, yang mana sebelumnya tidak pernah menyentuh 2 sampai 4 derajat di atas 0 derajat Celcius. Karenanya ini adalah rekor yang sungguh mengerikan. The US Snow and Ice Data Center di Colorado bahkan mencatat pencairan es telah mencapai 4.28 million square kilometer, Ini adalah pencairan es paling ekstrem terutama dalam 3 tahun terakhir, serta kedalaman es di kutub utara ini pun sudah sangat tipis (es sudah mengapung di permukaan).

Catatan-catatan dan data penting seperti ini akan dibawa oleh ahli-ahli dunia pada United Nation Climate Change Conference, 3-14 Desember 2007 nanti. Sehingga bisa dibayangkan bagaimana padatnya agenda pada pertemuan dunia ini. Tidak kurang 180 negara serta bersama-sama organisasi intergovernmental dan nongovernmental dari seluruh dunia akan terlibat dalam perhelatan ini. Karenanya gema konferensi ini sudah sangat kencang di seluruh dunia. Nusa Dua sebagai tempat dilangsungkannya konferensi ini akan menjadi sangat penting artinya, bila dari sini dilahirkan gagasan-gagasan brilian untuk paling tidak menghambat pemanasan global yang artinya mampu mencegah kehancuran milyaran habitat dan biota di dunia.

Hadirnya negara-negara yang tergolong Developing Countries manjadi perlu setelah konsep-konsep pada Kyoto Protocol  lebih banyak menyoroti keterlibatan negara-negara maju dalam hal eksplorasi lingkungan. Dalam meeting ini juga diharapkan akan lahirnya batasan-batasan yang tegas dalam perlindungan dan eksplorasi alam serta pengembangan konsep renewable energy yang lebih luas dan kontinu.
 

\’\’Rumah Hijau\’\’

Sebagai negara dengan bentangan garis pantai terpanjang di dunia, juga sebagai negara yang seluruh wilayahnya di kawasan ekuator, Indonesia bisa memandangnya sebagai hal yang menguntungkan atau bahkan menjadi titik kerugian yang sangat besar. Hal ini disebabkan tingginya irradiance matahari di kawasan ini, yakni rata-rata 200- 250 W/m2 selama setahun, atau 850-1100 W/m2 selama masa penyinaran menjadikan suhu permukaan akan naik lebih tinggi dari daerah lain di dunia. Irradiance yang besar ini bisa dimanfaatkan secara luas menjadi potensi solar energy yang luar biasa atau juga akan menjadi kendala yang sangat besar, sebab dengan tingginya suhu permukaan di kawasan Indonesia, akan dibutuhkan energi yang besar pula untuk menyejukkan setiap areal kerja, baik ruang kantor, sekolah-sekolah, rumah sakit, juga gedung-gedung sampai perumahan. Dr. Ir. Eddy Prianto, CES, penerima Award Persatuan Insinyur Indonesia (PII) 2007 untuk Konsep Rumah Hemat Energy, mencatat hampir 40% energi yang diperlukan sebuah gedung untuk AC, dan 35-38% untuk kebutuhan yang sama pada perumahan. Penggunaan kipas (fan) membutuhkan 18-20% dari total energi untuk gedung-gedung dan perkantoran, serta tidak kurang 20-25% untuk perumahan. Sangat jelas terlihat bahwa iklim tropis yang panas menjadikan energi lebih dominan dibutuhkan untuk kenyamanan beraktivitas pada suatu ruangan. Bila setiap rumah di dunia rata-rata menyumbang tidak kurang 20% carbon emission ke atmosfir maka angka-angka tersebut yang menggambarkan kerusakan alam di dunia, secara tidak langsung adalah kontribusi setiap umat di dunia, termasuk kita di Indonesia.

Dengan mengembangkan konsep \’\’rumah hijau\’\’ kita bisa menekan pemborosan energi di sektor ini dan juga yang lebih penting maknanya, kita bisa menghambat pemanasan dunia (global warming). Konsep rumah hijau mampu menekan penggunaan listrik secara signifikan dengan kenyamanan yang jauh lebih baik. Penataan kawasan pun manjadi rapi, indah dan asri. Juga dikatakan bahwa bangunan gedung atau perumahan yang tidak hemat energi adalah 80% kesalahan desain arsitekturnya.

Ada beberapa aspek penting yang perlu diperhatikan dalam konsep rumah hijau ini pada setiap gedung, perkantoran ataupun perumahan, seperti skala ruangan, jumlah ruang yang terkadang berlebihan, semakin banyak pepohonan dan aliran udara jendela yang benar akan memberikan kenyamanan akan aliran udara yang baik sehingga kebutuhan energi untuk AC dan kipas bisa ditekan. Penerangan dari lampu listrik bisa ditekan bila desain gedung atau perumahan memakai konsep \’\’penyinaran hijau\’\’ yakni cahaya matahari mampu memberi penerangan yang sangat baik pada siang hari sehingga pemakaian listrik untuk kebutuhan ini tidak diperlukan lagi (pemakaian lampu penerangan pada siang hari).

Ada hal yang paling sulit dan berat untuk diterapkan, namun kita harus melakukannya, yakni kebiasaan hidup hemat. Hal ini kita bisa mulai dari diri sendiri mulai dari hal yang kecil seperti mematikan lampu sehabis memakai misalnya, juga mengurangi pekerjaan pada malam hari bila bisa dilakukan pada siang hari seperti membaca, menulis dan lain-lain. Para pimpinan di kantor, guru-guru sekolah, pemimpin umat sampai tokoh-tokoh masyarakat hendaknya memberi contoh bagaimana hidup hemat energi. Untuk praktisi dunia desain dan arsitektur hendaknya memiliki posisi tawar yang kuat di depan klien untuk mampu menciptakan rumah atau gedung tropis hemat energi dan tidak semata-mata mengikuti kehendak klien atas nama kelanjutan projek.

 
Sumber: Bali Post, 8 November 2007

Komentar Anda