Penghentian-pikiran?

Bagaimana mungkin bisa ada Pemahaman Diri Jati [atmano darshanam]

bagi orang yang pengetahuannya hanya bergantung pada hal-hal yang kasat-indria?

Para bijak [dhiira] tidak melihat diri mereka sebagai ini ataupun itu,

namun melihat kalau diri mereka tiada terbatas.

Bagaimana mungkin bisa ada penghentian-pikiran [nirodha]

bagi orang-orang bodoh[vimudha] yang memburunya tapi salah-arah?

Sementara hal itu selalu —merupakan hal yang— alamiah saja

bagi sang bijak yang bergembira di dalam Diri-Jati-nya.

 

~Ashtavakra Gita 18.40 – 41


Kedua ujaran Ashtavakra Gita di atas dengan gamblang berbicara prihal Penghentian-pikiran dan Pemahaman Diri-Jati, yang ternyata berkaitan satu-sama-lain. Pamahaman Diri Jati tak mungkin dicapai tanpa Penghentian-pikiran, tanpa penghentian gejolak dan gelora duet pikiran-perasaan. Sementara itu, bagi kebanyakan dari kita, justru kontak-kontak indriawi itulah yang membuatnya kian bergejolak, makin menggelora. Oleh karenanya, pengetahuan yang hanya bergantung pada hal-hal yang kasat-indria, bukan saja tidak bisa diandalkan untuk mereguk Pemahaman Diri Jati, masih terperangkap dan berkubang di kolam keruh, sempit dan dangkal ketidak-sadaran, namun hanya akan memperhebat gejolak dan gelora itu.
 
Di dalam setiap perburuan, perbuaruan apapun, objek yang diburu selalu ditempatkan pada suatu tempat yang jauh, yang tinggi, yang ada di luar sana baik dalam ruang maupun waktu, dimana hanya jika kita berhasil mencapainya, meraihnya, barulah kita bisa menikmati buruan itu bukan? Indria-indria ini memaksa kita untuk beranggapan demikian. Persepsi indriawi inilah yang membuat kita salah-arah hingga tersesat.

Padahal, duet pikiran-perasaan senantiasa terpolakan demikian, terbiasa dengan itu, tak mengenal paradigma lain kecuali itu. Mereka selalu bertumpu pada hal-hal yang kasat-indria. Baginya, sesuatu hanya bisa dianggap nyata kalau bisa dipersepsi secara indriawi. Lalu apa daya?

Sejauh aktifnya duet ini —secara internal— dipicu oleh ingatan, kesan-kesan mental serta —secara eksternal— oleh kontak-kontak indriawi, tampaknya setiap upaya terkait mesti bergerak dalam dua arah ini, ke luar maupun ke dalam. Ke luar dengan menarik diri dari kontak-kontak indriawi, sebelum seseorang mampu mengabaikan begitu saja dan melupakannya begitu saja setiap kontak indriawi yang dialaminya. Inilah yang disebut dengan tapa-brata. Ke dalam, seseorang mesti secara progresif menguras gudang ingatan dari hal-hal tak berguna, yang hanya memicu aktifnya berbagai bentuk pemikan dan perasaan destruktif, kenafsuan dan sejenisnya. Dan inilah yang juga disebut dengan yoga-samadhi.

Singkatnya, tapa-brata dan yoga-samadhi inilah laku spiritual dari mereka yang sedang mendambakan Penghentian-pikiran dan Pemahaman Diri Jati —citta vritti nirodha dan atma-jñana— yang terkait satu-sama-lain itu.
 
Bali, Sabtu, 08 September 2007.

Komentar Anda