Ajaran Gadis-cilik Pengemis

Suatu hari, beberapa tahun lalu, saya duduk menunggu masakan yang saya pesan di sebuah warung, di Pasar Malam Asoka, Denpasar. Karena warung itu memang termasuk warung yang terlaris di pasar itu, saya mesti bersabar.

Saat itulah seorang anak gadis usia empat tahunan menghampiri saya. Ia tampak kumal berpakaian lusuh, layaknya pengemis umumnya. Tapi di mata saya ia tampak lucu dengan tatapan mata polosnya itu. Ia menengadahkan tangan kanannya di hadapan saya, sementara tangan kirinya menggenggam erat lembaran-lembaran uang berwarna merah.

Saat itu, yang terlihat adalah kepolosan dan kelucuan seorang anak-anak seusianya, di mata saya. Tidak adakah rasa iba? Tentu ada; tapi yang mendominasi ketika itu adalah pancaraan kepolosan dan kelucuannya.

Menyambut tangan kanannya yang menengadah itu, sayapun ikut menengadahkan tangan kanan saya seraya tersenyum jenaka menatapnya. Ketika itulah saya kaget luarbiasa. Ia memindahkan semua uang dari tangan kiri ke tangan kanannya dan mengisikannya ke tangan kanan saya yang sedang menengadah menirukannya itu. Saya benar-benar terpana beberapa saat, dan baru benar-benar sadar setelah ia berlalu dari hadapan saya. Saya berusaha mencari-carinya di kerumunan orang-orang; tapi tubuh mungilnya seolah-olah dengan mudah sirna ditelan kerumunan.

Sayapun duduk kembali, memandangi lembar-lembar uang yang diberikan oleh gadis kecil itu. Ada tiga lembar uang kertas seratusan. Status pengemis —entah ia mengetahui itu atau tidak— ternyata tidak berhasil merengut kepolosan dan kemurahan-hatinya.

Sampai sekarang saya tidak pasti apakah gadis kecil pengemis itu memang benar-benar eksis secara ragawi atau tidak. Tapi, setiap saya ke pasar itu lagi, saya tidak melihatnya. Namun ….. kejadian kecil itu sungguh mengajari saya sesuatu yang menggurat dalam di hati —ajaran dari seorang gadis-cilik pengemis.
 

Bali, Kamis, 18 Oktober 2007.

Komentar Anda