HUT KMHDI ke-14: Reorientasi Gerakan KMHDI

Sebagai organisasi skala nasional yang menginjak usia 14 tahun, KMHDI harus diakui sebagai organisasi yang memiliki basis akar rumput kuat. Mengapa demikian? Karena dengan usia yang lebih dari satu dekade tersebut KMHDI turut serta dalam proses dialektikal kebangsaan maupun keumatan. Ini dibuktikan dengan berbagai agenda nasional yang dilakukannya.

Begitu juga dengan agenda-agenda yang dilakukan Pimpinan Daerah maupun Pimpinan Cabang. Dengan tingkatan organisasi yang tersebar di daerah, tentu efektifitas gerakan menjadi prioritas utama. Dengan tingkatan organisasi tersebut, KMHDI berusaha untuk melakukan proses pendidikan melalui sistem kaderisasi yang sistematis untuk meningkatkan kualitas mahasiswa Hindu.

Sejak dideklarasikan 03 September 1993, KMHDI berketetapan hati untuk mengusung nilai-nilai nasionalistik dan independen. Untuk itu semangat yang dikembangkan pun religiusitas, nasionalis, humanis, dan pemikiran progresif. Keempat semangat tersebut tentu menjiwai jati diri setiap kader-kader KMHDI tanpa memilah dan memilihnya karena memiliki substansi yang sama dalam diri sang kader.

Nilai-nilai nasionalis yang dilakukan pun merupakan proses kaderisasi yang bernuansa kebangsaan. Artinya, KMHDI berjuang dan bergerak dalam lingkup kebangsaan yang beranggotakan mahasiswa Hindu. Begitu juga dengan independensinya. KMHDI bukanlah organisasi yang berada dibawah naungan organisasi sosial politik lainnya. Independensi pun akan mewarnai gerakan dan sikap KMHDI terhadap peristiwa sosial politik kebangsaannya.

Harapan yang dicitakan dalam setiap kegiatannya pun bercirikan intelektualitas dan profesionalisme. Tentu ciri ini idealnya mewarnai setiap kegiatan organisasi. Namun tidak dielakan juga masih sering melekat dibenak ketika mendengar intelektual rasanya tidak lepas dari diskusi maupun seminar-seminar. Namun lebih dari itu, intelektualitas dicirikan dengan proses berpikir yang dilakukan secara sistematis dan terukur.

Tidak berlebihan bila dalam kaderisasinya, KMHDI berharap bahwa kader yang berkualitas adalah sosok yang religius, nasionalis, humanis, dan berpikir progresif. Kader tersebut mau berjuang di jalan Hindu untuk mewujudkan kebebasan, keadilan, dan solidaritas. Tentu semuanya untuk masyarakat yang berada di suatu negara yang berdasarkan hukum untuk mencapai demokrasi. Dan terminologi ini selalu ditanamkan pada saat sang kader mulai mengikuti sistem kaderisasi melalui materi-materi kaderisasi.

Kenyataan Semanis Pernyataan, Suatu Keniscayaan

Sebuah gerakan tentu akan memiliki fase-fase dan dinamika didalam prosesnya. Sebagai input, kader tentu belum memiliki keluwesan untuk mengenal organisasi ini. Kemudian hal ini tentu dimatangkan dalam proses kaderisasi baik formal maupun non formal yang dilakukan. Menjelang usianya yang ke-14 tahun ini pun KMHDI terus melakukan gerakan kaderisasi baik eksternal maupun kedalam dirinya sendiri. Misalnya saja penyikapan berbagai isu kebangsaan. Disamping itu juga pematangan kaderisasi disetiap tingkatan organisasi.

Tidak dipungkiri juga bahwa setiap gerakan yang dilakukan pasti menuai hasil dan celaan dari berbagai pihak. Dari belum terbiasanya sebuah perbedaan dilakukan hingga sikap apatis. Dari anti politik hingga ke sikap acuh tak acuh. Ini tidak bisa ditapik lantaran kehidupan sosial kemasyarakatan penuh dengan perbedaan dan perdebatan. Namun harus disadari bahwa hal ini menjadi suatu proses pendewasaan sikap politik masyarakat.

Yang lebih ironis, justru sikap-sikap seperti itu sering datang dari kalangan mahasiswa sendiri yang notabene seharusnya mulai memikirkan perjuangan jangka panjangnya. Mengapa harus jangka panjang? Karena kini tampak menggejala sebuah gerakan dan posisi tawar yang bersifat politis. Sebut saja posisi strategis bangsa ini seperti apa diperebutkan dan siapa yang \’mendalanginya\’.

Sikap-sikap individualistik kini memang tengah terjadi dicampur dengan globalisasi. Individu sering melupakan komunitas untuk membangun kekuatan dan peningkatan kualitas pemikiran. Globalisasi yang terjadi tidak diikuti dengan membangun kekuatan organisasi namun justru kebanyakan dari kita terbawa olehnya. Dalam konteks ini, KMHDI dalam kaderisasinya menekankan untuk melawan hambatan-hambatan seperti pengkondisian, hegemoni, dan ilusi.

Ya, hal-hal seperti ini memang tidak akan cukup disampaikan melalui tulisan singkat ini. Karena pada dasarkan di KMHDI pun diajarkan kaderisasi semacam itu. Ada baiknya kita melihat kondisi kita hari ini. Dan tentu mencarikan suatu formula untuk melakukan suatu orientasi gerakan kedepannya dengan tetap berpegang pada koridor aturan main organisasi. Lalu mungkinkah kenyataan semanis pernyataan? Kitalah yang menjawabnya…

Satyam Eva Jayate…

Komentar Anda