Kemah Pemuda Lintas Agama se-NTT

NTT. Pemerintah Daerah (Pemda) provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) melalui Biro BINSOS NTT bekerja sama dengan Departemen Agama Daerah Kefamenanu, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) menyelenggarakan kegiatan Kemah Pemuda Lintas Agama se-NTT. Kegiatan yang diadakan di Kefamenanu kabupaten TTU pada tanggal 20 – 22 Juni lalu tersebut bertemakan perkemahan pemuda keagamaan menjalin kemitraan dan kebersamaan menuju kerukunan sejati. Adapun ormas-ormas kepemudaan dan kemahasiswaan yang terlibat antara lain: KMHDI (Kesatuan Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia), GMKI (Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia), HMI (Himpunan Mahasiswa Islam), PMKRI (Persekutuan Mahasiswa Kristen Republik Indonesia), Pemuda ANSOR, GAMKI, dan pemuda-pemuda kota Kefa dan So’e dengan jumlah keseluruhan peserta 50 orang.

Acara dibuka oleh Frans Lebu Raya, Wakil Gubernur NTT sekaligus memberikan sambutan bagi para peserta. Dalam sambutannya beliau mengatakan pemuda dan mahasiswa mendapat apresiasi yang lebih dari pemerintah karena pemuda dan mahasiswa berperan penting dalam pembangunan bangsa dan negara. Lebih jauh ia berpesan kaum muda dan mahasiswa harus menghindari adanya upaya untuk menodai kemurnian suatu perjuangan terutama yang berbau SARA, dengan demikian tidak akan mengadu domba kelompok etnis, suku dan agama yang berakibat hancurnya kerukunan hidup umat beragama di wilayah NTT.

Keesokan harinya, 21 Juni sekitar jam 07.00 acara dilanjutkan dengan talk show dan panel bersama para narasumber diantaranya: I Gusti Made Putra Kusuma (Hindu), Rm. Januarius Seran, Pr (Katholik), Pdt. M. J. Karmany. S.Th (Kristen Protestan), Jalaluddin Betham (Islam), H. M Sinaga (TNI AD-TTU), Felysianus Sanga (Budayawan) dan Ben Labre (Bimbingan dan Konseling).

I Gusti Made Putra Kusuma, Ketua PHDI Provinsi NTT yang membawakan materi strategi membangun kerjasama antar pemuda agama menghadapi tantangan masa depan menurut pandangan agama Hindu, mengatakan bahwa membina kerja sama dan kemitraan yang sejati antara pemuda dan mahasiswa Hindu dengan pemuda umat lain adalah dengan memahami apa yang disebut dengan : Wasudaiwa Kutumbaka yaitu seluruh dunia merupakan keluarga yang besar. Selanjutnya Premana yaitu cinta kasih yang tak terbatas pada satu kelompok saja. Ahimsa yaitu tidak menyakiti atau melakukan kekerasan, dan Satya yaitu kejujuran, kesetiaan dan keterbukaan. Beliau juga menyebutkan yang melandasi agar hubungan tetap harmonis diantara manusia adalah Tri Hita Karana yaitu Hubungan harmonis antara manusia dengan Tuhan, hubungan harmonis manusia dengan sesama, dan hubungan harmonis manusia dengan lingkungan.

Sedangkan enurut pandangan agama Islam disampaikan Jalaluddin Betham, Ketua MUI Kota Kupang, menegaskan tiga hal yaitu umat Islam harus menjadi umat yang bijak. Poin selanjutnya, ia menyampaikan agar lebih diimplementasikan pada hubungan manusia dengan manusia baik itu golongan, ras, suku. Terakhir agar melakukan hubungan kerjasama dengan siapa saja tanpa pandang bulu. Tiga poin penting juga disampaikan Pdt. M. J. Karmany. S.Th yaitu pertama, kebersamaan yang rukun itu adalah panggilan. Kedua, pemuda gereja di tiris-tiris gereja seharusnya berada di teras-teras gereja. Dan ketiga pemuda harus dipimpin oleh pemuda bukanlah pemuda dipimpin oleh anak-anak.

Sedangkan Rm. Januarius Seran menyampaikan pandangan agama Katholik tentang peran pemuda. Ia mengatakan bahwa kaum muda tidak diukur dengan umur melainkan dengan kemampuan yang terdapat pada diri kaum muda itu. Menurut beliau ada dua tahap dialog yang harus dilakukan oleh masing-masing agama yaitu saling sapa menyapa, dan saling menghargai serta menghormati.

Sebagai acara penutup dilakukan renungan bersama dengan menyalakan lilin perdamaian serta menyanyikan dan membacakan doa dari masing-masing agama.

(Redaksi KMHDI NTT–K’Gun, Dek Ratna, Kmg Fapet)

Komentar Anda