Diskursus KMHDI

Dalam mewujudkan bakti bagi agama dan negara, Kesatuan Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia (KMHDI) memilih untuk menggunakan cara pendidikan sebagai jalan hidup dan prinsip dasar perjuangannya. Hal ini diwujudkan melalui gerakan kaderisasi yang rasional, sistematis dan terstandarisasi. Visi KMHDI adalah sebagai wadah pemersatu dan alat pendidikan kader mahasiswa Hindu. Sedangkan misinya ialah memperbesar jumlah mahasiswa Hindu yang berkualitas. Adapun entitas jatidiri kader KMHDI secara visioner yakni seorang nasionalis, humanis, religius dan berpikiran progresif. Sebagai sebuah organisasi kader, maka pendidikan atau kaderisasi di KMHDI diproyeksikan untuk membentuk keempat nilai jatidiri tersebut. Dengan penggodokan kader-kader mahasiswa di “kawah candradimuka” KMHDI diharapkan akan lahir calon pemimpin Hindu di masa depan yang berpandangan visioner yang peduli terhadap bangsanya, masyarakat disekitarnya serta umat sedharmanya.

Dalam skala kecil diharapkan nantinya kader-kader KMHDI ini, jika memiliki kelebihan dana, maka ia bukan menyumbangkannya untuk punia pembangunan pura, melainkan punia untuk pengembangan sekolah-sekolah Hindu didaerahnya masing-masing, baik dalam bentuk pembangunan sarana dan prasarana pendidikan maupun dalam bentuk beasiswa. Mungkin banyak yang akan terkejut dan marah mendengar hal ini, namun jika sidang pembaca mengetahui sepak terjang seorang Hasyim Asyarri (kakeknya Gus Dur) menjadikan Jombang yang dahulunya daerah tandus yang dihuni oleh para penjahat, perampok, pelacur, dll, menjadi kota santri yang religius. Maka Anda sekalian akan mengetahui pendidikan pesantrenlah yang menjadi “aktor intelektual” dibalik semuanya. Jalan pendidikan inilah yang membedakan KMHDI dengan organisasi Hindu lainnya di Indonesia.

KMHDI berkeyakinan bahwa pendidikan adalah satu-satunya jalan kebenaran yang akan mampu untuk menjawab segala permasalahan umat di masa depan, bukan dengan jalan hegemoni, cuci otak, manuver politik atau gembar-gembor media massa. Hal ini diilhami oleh jalan satyagraha yang menurut Gandhi adalah satu-satunya jalan untuk memerdekakan India, dan pedagogi of hope ala Paulo Freire, seorang pendidik multikultural asal Brasil, sebagai jawaban atas dehumanisasi pendidikan yang disebabkan iklim kapitalisme barat. Oleh karenanya, semboyan KMHDI adalah Satyam Eva Jayate, kebenaran akan selalu menang. Walau saat ini keberadaannya masih sering disalahartikan, difitnah, dipecahbelah, dan dirongrong kewibawaannya, namun KMHDI yakin jalan pendidikan yang dianutnya sebagai jalan kebenaran suatu saat nanti pasti akan menang.

KMHDI sebagai sebuah organisasi kader, mengutamakan pendidikan bagi kader-kadernya. Tujuan dari pendidikan ini adalah untuk menimbulkan keinsyafan pada diri kader akan hak, kewajiban dan harga dirinya. Hanya kader-kader yang sadar dengan segala apa yang dilakukan, yang akan mampu merubah keadaan. Buruk baiknya nasib sang kader dan langkah-langkah yang akan dijalankannya untuk memperbaiki nasib tersebut harus merupakan pertimbangan dan perbuatan sendiri, dan bukan atas perintah dari luar. Kesadaran harus ditanamkan melalui pendidikan dan organisasi yang berdisiplin. Dengan cara meyakinkan, bukan dengan cara paksaan dan tipuan. Hanya dengan kesadaran sang kader, kekuatan moral dan mental serta kesadaran kader untuk bertanggung jawab penuh atas segala tindakan yang dilakukannya dapat dijalankan.

Tetapi KMHDI juga sadar bahwa sebuah langkah besar harus diawali dengan beribu-ribu langkah kecil. Saat ini yang dapat dilakukan oleh KMHDI adalah mendidik kader-kadernya dalam lingkungan yang kecil, yang suatu saat nanti diharapkan akan mengembangkan diri dalam lingkungan yang lebih besar. Kesadaran untuk berkorban harus ditanamkan, karena tidak ada perjuangan yang tidak meminta korban dan tidak ada korban perjuangan yang terbuang percuma.

Dengan pendidikan, melalui kaderisasi, yang dilakukan KMHDI bagi kader-kadernya, seorang kader diharapkan mampu membentuk jati dirinya yang sejati. Dengan pencapaian jati diri, maka seorang kader akan mengetahui nilai-nilai dasar yang sejati dan inheren yang ada didalam dirinya serta menyadari dengan cara bagaimana nilai-nilai dasar tersebut mempengaruhi dirinya. Kesadaran yang terbentuk, merupakan daya jiwa yang akan menanggapi sesuatu yang tersembunyi dari yang tersirat maupun yang tersurat, dan kesadaran itu harus timbul dari diri sendiri. Dengan mengambil suatu asumsi bahwa seorang manusia terdiri dari tiga jenis kesadaran, yaitu kesadaran teologis, kesadaran filosofis dan kesadaran ruang waktu, maka seorang kader KMHDI akan menjalani suatu proses kaderisasi pada tiga level kesadaran tersebut.

Dengan kesadaran pembentukan kader pada KMHDI, selain berkontribusi bagi pengembangan umat Hindu, secara otomatis kader-kader KMHDI akan ikut memberi kontribusi bagi tanah air tercinta. Dengan pendidikan bagi rakyat, yang sementara ini difokuskan pada kader-kader KMHDI, bangsa ini akan sanggup mandiri dan menentukan nasibnya sendiri tanpa didikte oleh bangsa lain.

Dalam hal ini, KMHDI berkaca pada pernyataan M. Hatta: “Kita harus mengajar para intelektual yang muda-muda, yang pada suatu saat akan menggantikan kita untuk meneruskan cita-cita bangsa ini. Mendidik bangsa ini agar menjadi bangsa yang rasional dan berpengetahuan. Tujuan akhir dari semua ini adalah untuk mewujudkan suatu keadaan dimana diri kita dan kader-kader kita akan menjadi pemikir, pejuang dan pemimpin bagi agama, bangsa dan kemanusiaan. Ini adalah janji kepada tanah air. Ini merupakan soal prinsip. Soal kehormatan suatu bangsa.”

Dengan mewujudkan kualitas kader yang mumpuni, KMHDI sebagai sebuah organisasi kader secara langsung telah ikut dalam pembangunan bangsa. Dalam melakukan kegiatan pendidikan bagi kader-kadernya, KMHDI mengacu pada pernyataan seorang Sutan Sjahrir yang mengatakan “Dengan segala peradaban, semua peri kemanusiaan, agama, etika, yang dikatakan dimiliki oleh manusia, tetap dalam diri kita ada unsur kebinatangan yang membuat semua kebudayaan, perikemanusiaan dan agama menjadi bahan tertawaan. Kita tidak boleh menggunakan idiom irasional yang walaupun lebih mudah untuk memikat rakyat, justru akan menjatuhkan rakyat dalam jurang kebodohan. Kita harus mengangkat kesadaran rakyat banyak dari dunia irasional ke tingkat yang rasional, dan mendidik rakyat untuk berpikir dan berbuat secara rasional pula. Metode perjuangan kita harus rasional, sistematis dan terstandarisasi.”.

Perlu diketahui, corak organisasi KMHDI ditiap daerah amat beragam. Oleh karena itu kreativitas masing-masing daerah sangat diperlukan, mengingat kebutuhan pengetahuan dimasing-masing amat berbeda. Sebagai contoh, di PC KMHDI Surabaya mungkin anda tidak akan menemukan semangat religius yang kental dibandingkan dengan di PC KMHDI Bandar Lampung. Materi-materi kaderisasi yang ada merupakan bentuk standar untuk menjawab kebutuhan umum di tiap daerah. Untuk kebutuhan khususnya, disediakan dalam bentuk muatan lokal yang menuntut kreativitas unsur pimpinan di daerah untuk pengembangannya, termasuk materi-materi pendalaman paham keHinduan.

Materi-materi kaderisasi KMHDI saat ini dibuat untuk mengembangkan keempat unsur jatidiri tersebut. Materi tersebut dibuat bukan untuk menciptakan kader-kader berpikiran picik yang dibutakan oleh fanatisme agama maupun daerah secara sesaat. Selain sebagai umat Hindu, semua anggota KMHDI adalah warga negara Indonesia. Dan sebagai warganegara Indonesia yang baik, sudah sepatutnya mereka juga turut memikirkan dan berkarya terhadap negara mereka. Hanya orang-orang picik yang menganggap materi-materi tersebut sebagai “sampah”.

KMHDI sadar bahwa untuk mewujudkan kader yang mumpuni, program kaderisasi KMHDI harus diarahkan pada pembentukan kader yang memiliki pemikiran yang berkualitas. Untuk itu, kader KMHDI harus mampu mengatasi tiga hambatan besar dalam usaha seorang individu yang ingin mewujudkan dunia kebebasan pikiran. Tiga hambatan tersebut adalah pengkondisian, hegemoni dan ilusi. Pengkondisian adalah suatu pemahaman atas fenomena yang dibentuk secara tidak sengaja oleh lingkungan seorang individu, yang tidak disadari oleh si individu. Pemahaman ini berurat akar dan dapat memanipulasi analisa individu tersebut. Hegemoni adalah suatu pengkondisian yang disengaja bagi seseorang, yang ditujukan untuk suatu maksud tertentu, dengan tidak diketahui oleh si individu itu sendiri. Sedangkan ilusi adalah suatu pemahaman atas suatu fenomena yang seolah-olah nyata dalam ruang pikiran yang telah termanipulasi. Ilusi adalah hasil dari pengkondisian dan hegemoni.

Mengatasi tiga hal tersebut adalah tujuan dari Program Kaderisasi KMHDI. Dengan mengatasi pengkondisian, hegemoni dan ilusi, seorang kader KMHDI diharapkan mampu mewujudkan dunia kebebasan berpikir yang akan meningkatkan kualitas pemikiran sang kader. Peningkatan kualitas pemikiran ini akan berpengaruh secara signifikan terhadap pencapaian kesadaran dalam mewujudkan suatu jati diri “Mahasiswa Hindu Indonesia”. Pada akhirnya, diharapkan dengan kesadaran yang terbentuk dan jati diri yang mumpuni dari kader-kader KMHDI, bakti bagi agama dan negara akan terwujud. Satyam Eva Jayate!

Telah dimuat di Media Hindu Edisi Juli 2007

Komentar Anda

Mungkin Anda Menyukai