Kepengurusan baru : hangat – hangat tahi ayam [?]

Beberapa kali saya mengikuti Musyawarah Daerah (Musda), Musyawarah Nasional (Munas), Konggres, Mahasabha, di berbagai tingkatan organisasi. Suasana pada umumnya, meriah, dengan berbagai protokoler, dihadiri para undangan yang terhormat, dan peninjau. Sebaliknya ada juga yang berlansung sangat sederhana, hanya diikuti beberapa orang pengurus yang tersisa, anggota yang masih ada, alumni yang sebetulnya enggan datang, dan simpatisan yang seringkali menjadi penyelamat acara.

Konggres, di berbagai tingkatan organisasi memiliki beberapa agenda utama:
1. Laporan Pertanggungjawaban Kepengurusan sebelumnya
2. Pembentukan Kepengurusan baru dan Strukturnya
3. Penyusunan Garis-garis Besar Program kerja (GBPK)
4. Rekomendasi-rekomendasi

Tak bisa dipungkiri, kualitas kepengurusan sebelumnya sangat mempengaruhi jalannya acara dan kualitas hasil Konggres. Apakah menjadi lebih baik atau tidak.
Tulisan kali ini, fokus membahas Kepengurusan baru.

Kepengurusan baru, sebagaimana apapun yang baru, penuh dengan ide-ide, semangat dan harapan. Sesuatu yang patut di syukuri, setidaknya oleh para pendahulu, karena organisasi masih memiliki kesempatan hidup satu-hingga dua tahun ke depan.
Kepengurusan hasil konggres mengemban amanat rekomendasi-rekomendasi untuk dijalankan, selain GBPK yang belum lagi diterjemahkan menjadi Program kerja (Proker).
Tugas awalnya kemudian adalah melakukan Rapat Kerja (Raker) untuk menyusun proker. Ini merupakan tantangan awal setelah masa bulan madu ( 1 bulan). Kesulitan biasanya mulai muncul disini. Karena setelah 1 bulan, pengurus mulai sibuk dengan posisinya, dan kembali ke kehidupan normal, serta lupa bahwa setelah terpilih mereka memiliki tanggung-jawab lebih dari anggota.
Jika masa kritis ini bisa dihadapi dan Raker dilaksanakan, tantangan berikutnya adalah pelaksanaan. Saran saya, jangan terlalu banyak rapat. Atau yang lebih parah lagi, jangan sampai menunda rapat/membatalkan dengan alasan pengurus sedikit yang datang. Jalankan saja. Dari pandangan awal ini, teman-teman akan bisa melihat komitmen dan kualitas masing-masing pengurus melawan waktu.

Proker sebagaimana namanya, program kerja, wajib dilaksanakan. Keberlangsungan organisasi, kualitas, dan kelak pertanggungjawaban pengurus berawal dari pertanyaan : apakah proker sudah dijalankan?
Pertanyaan berikutnya bagaimana kualitas kegiatan? Menjadi pertimbangan kedua. Saya tidak mengatakan kualitas tidak penting, sangat penting.
Realitas yang sering terjadi, proker tidak dijalankan. Diganti oleh proker insidentil, yang tidak pernah dibayangkan, dan pastinya tidak termasuk dalam perencanaan. Pengurus umumnya berkilah, ini sudah dikoordinasikan. Sah-sah saja, tetapi jika anda punya rencana lalu sering kali berganti-ganti, buat apa anda bikin rencana?

Fokus, itu kata kuncinya. Sedikit rapat, banyak kerja.

Kepengurusan baru, seyogyanya mengambil yang baik dari sebelumya, dengan banyak belajar dan bertanya. Belajar bukan hanya dari keberhasilan, tetapi yang jauh lebih penting belajar dari kegagalan. Kegagalan adalah guru yang baik, asalkan anda tidak ikut gagal.

Semoga fenomena kepengurusan baru, hangat-hangat tahi ayam, yang saya sendiri tidak tahu kenapa bisa dinamakan demikian, tetapi kita tahu bersama apa maknanya tidak terjadi dalam organisasi kita.
Jika ternyata terjadi, tentu kita tidak suka dengan xxx ayam itu bukan?

Komentar Anda