Hari Raya Galungan: Sudahkah Kita Menang?

JAKARTA. Bulan Juni ini memang memberikan makna tersendiri untuk membangkitkan nasionalisme kita. Awal Juni lalu (1/6) dimana rasa kebangsaan kita digugah dengan semangat lahirnya Pancasila. Tentu dengan semangat tersebut dapat mereflesikan kesadaran kita dalam berbangsa dan bernegara. Tidak itu saja, diakhir bulan ini juga, bagi umat Hindu sebuah kemenangan pun dirayakan. Kemenangan dharma (kebenaran) melawan adharma (kebatilan). Perayaan ini dikenal dengan hari raya Galungan yang jatuh pada 27 Juni esok.

Kemenangan ini tentu harus dimaknai sebagai sebuah proses refleksi dimana kita mampu untuk mengendalikan diri atas perbuatan-perbuatan yang tidak sesuai dengan ajaran dharma. Hal ini disampaikan Wayan Sudane, Presidium Pimpinan Pusat Kesatuan Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia (PP KMHDI) hari ini (26/6) di Jakarta. Perayaan ini, lanjutnya, harus benar-benar memberikan pemaknaan untuk memenangkan \’pertempuran\’ selanjutnya agar kita tetap memiliki sifat kedewaan (dewa sampad). “Jangan sampai kita dikuasai oleh sifat-sifat keraksasaan (asura sampad),” tandasnya.

Hal senada juga disampaikan I Gde Dharma Nugraha, Ketua Pimpinan Daerah KMHDI DKI Jakarta, bahwa perayaan ini untuk memberikan pemaknaan dalam diri yaitu kemenangan diri kita sendiri dalam memerangi sad ripu yang ada dalam pribadi kita masing-masing. Ia mencontohkan bagaimana kita harus mengendalikan kama (hawa nafsu), lobha (ketamakan), krodha (kemarahan yang melampaui batas), mada (kemabukan yang membawa kegelapan pikiran), moha (kebingungan), dan matsarya (iri dengki yang menyebabkan permusuhan).

Kemenangan ini tentu harus dapat diimplementasikan dalam kehidupan bermasyarakat maupun berbangsa dan bernegara. Masih banyaknya tuntutan masyarakat terhadap pemerintah seperti penegakkan hukum, permasalahan HAM, pengusutan tindak korupsi, dan masalah-masalah lainnya menandakan bahwa kita belum mampu untuk memenangkan dharma ini. Wayan Sudane menegaskan bahwa kita memang perlu untuk melakukan refleksi dan pengendalian diri menuju dewa sampad. Dengan demikian nasionalisme kita dalam berbangsa dan bernegara tidak dikuasai oleh asura sampad. Sebuah pertanyaan yang patut kita renungkan seperti yang disampaikan Gde Dharma, sudahkah kita menang melawan sad ripu yang ada dalam diri kita sendiri? Kalau belum, mari kita melawannya. [Redaksi]

Komentar Anda