Pengurus dan anggota koq cuek?

Mungkin ada yang pernah mengalami, ikut sebuah organisasi yang hanya hidup pada hari H kegiatan, sebelum dan setelahnya mati? menyisakan sang Ketua, atau jika yang sedikit beruntung masih ditemani 1-2 pengurus / anggota.
Saya sebagai anggota, mungkin akan berpikir apa yang salah? Penguruskah? Ketua, atau malah organisasinya?
Susah memang kalau ingin mencari siapa yang salah, siapa yang benar. Karena tentu tidak ada yang ingin disalahkan, semua ingin benar. Tetapi solusi harus segera dicari, jika tidak kapal yang tinggal nahkoda ini akan tenggelam atau tinggal layar saja.
Baiknya kita kaji bersama dengan logika, buang jauh-jauh emosi apalagi ego pribadi.
Pengurus, dan anggota yang cuek adalah akibat. Yang perlu kita tahu adalah apa penyebabnya? Berbeda dengan organisasi profesional tempat kita bekerja mendapatkan gaji, sistem reward and punishment dengan ketat bisa diterapkan. Untuk organisasi non profitable tantangannya berbeda.
Cara sederhana untuk mengetahuinya adalah kembali ke konsepan awal. Pada setiap kepengurusan baru, pasti ada analisa organisasi tentang kondisi internal dan eksternalnya, bahasa awamnya karakter organisasi, kondisi lingkungan yang kemudian melahirkan Struktur Organisasi, Job description (penjabaran tugas), Program Kerja (proker), dsbnya. Sekarang coba kita sandingkan jalannya organisasi dengan perencanaan.
Beberapa pertanyaan:
1.      Apakah organisasi berjalan sesuai kondisi alamiahnya?
2.      Apakah struktur organisasi sudah benar?
3.      Apakah job description pengurus berjalan baik?
4.      Apakah proker dilaksanakan tepat waktu, dan berhasil?
5.      Apakah anggota terlibat dalam kegiatan, dan sejauh mana?
Umumnya ada 2 (dua) hal yang menjadi masalah organisasi macet ; 1) teknis, 2) non teknis. Jika organisasi kita bermasalah secara teknis, (suasana internal pengurus, eksternal anggota, alumni masih baik) cukup melakukan pendidikan teknis, melalui Diklat Manajemen.
Yang seringkali membuat macet organisasi adalah faktor non teknis. Apapun jenis organisasi anda wajib membangun suasana akrab, kekeluargaan. Jika suasana akrab, kekeluargaan tidak ada jangan harap organisasi anda akan jalan. Setelahnya baru kita arahkan menjadi professional. Kata professionalitas berorganisasi, bukan hanya milik orang kantoran. Professionalitas berorganisasi bisa kita ciptakan setelah para pengurus tahu Manajemen Organisasi. Mengerti tugas dan kewajibannya, serta bagaimana menjalankan organisasi dengan benar.
Seorang pemimpin ada yang lahir karena bakat alamiah, ada juga karena pengalaman. Tapi jangan pernah melupakan teori, karena dengan buku wawasan kita akan terbuka akan banyak hal. Ada banyak buku-buku tentang Kepemimpinan, Organisasi, Manajemen yang baik untuk dibaca, dan yang tidak kalah penting buku Psikologi.
Pertanyaan-pertanyaan untuk sebab non teknis:
1.      Bagaimana komunikasi antar pengurus?
2.      Apakah ketua bermasalah dengan pengurus?
3.      Apakah ada permasalahan antar pengurus?
Saya meyakini inti dari permasalahan non teknis adalah komunikasi. Pertanyaan lanjutan, bagaimana peran Ketua untuk mengkomunikasikan tujuan bersama, sehingga dapat dipahami kemudian dijalankan oleh teman-teman pengurus? Jika ada permasalahan personal, tidak prinsipil (non organisasi) selesaikan dahulu jangan sampai dibawa masuk ke dalam (organisasi). Setelah pengurus solid, anggota akan mengikuti. Ibaratnya manusia, jika kondisi di dalam tubuh sehat, meski keadaan lingkungan tidak baik, kita tidak akan mudah sakit.
Besar kecilnya permasalahan sangat relatif. Dengan melepas emosi, ego pribadi dan kembali ke tujuan awal, niscaya pikiran kita akan kembali jernih. Sekali lagi jangan mencari benar salah. Carilah solusi.
Orang-orang yang terpilih sebagai pengurus, apapun posisinya, adalah orang yang beruntung. Beruntung karena memiliki kesempatan memimpin, mengekpresikan diri, menggali potensi dan yang paling penting belajar. Jangan takut salah (asal tidak keterlaluan) teman-teman pengurus / anggota akan tetap mendukung anda.
Masalah-masalah yang muncul, jika ditanggapi positif hanya akan mematangkan pola pikir dan mental pengurus. Alumnus banyak membuktikan, pengalaman berorganisasi tidak bisa dibeli dan sangat membantu karir anda kelak di dunia kerja.
Selamat berlayar!
Tude
Komentar Anda