DHARMA TULA MALAM CIWA RATRI PD KMHDI NTT

Kupang (17/1) – PD.KMHDI NTT melaksanakan kegiatan Malam Shivaratri dengan yang berlokasi di Pura Giri Kertha Bhuana beralamat di BTN Kolhua Kota Kupang.
Acara dimulai pada pukul 19.30 dan berakhir pukul 05.00 WITA yang dihadiri oleh pelajar,mahasiswa/i, Pemuda Hindu (PERADAH) dengan konsep acara berupa :

  1. Persembahyangan Bersama (Jam 20.00, jam 00.00 dan jam 04.00)
  2. Dharma Tula dengan dua orang pembicara :
        1. A.A.Gede Sayang, materi : Makna Shivaratri dalam era globalisasi
        2. Bapak I Ketut Suarjaya, materi : Konsep Ngayah
  3. Acara Pohon Kalpataru dengan hadiah donatur Buku2 dari Pembimas Hindu NTT dan Majalah2 dari Media Hindu.
  4. Perspektif dan refleksi kegiatan PD.KMHDI NTT

Sesi Dharma Tula
Pembicara :
1.  A.A Gede Sayang Semaraputra
2.  Pak Ketut

Narasumber I  :  Kak Agung
Materi             :  Makna Ciwa Ratri Dalam Era Globalisasi Saat ini.
Kesimpulan  : Malam Ciwa Ratri sebenarnya adalah malam penebusan papa bukan malam penebusan dosa, karena dosa kita atau karma kitalah yang membuat kita bereinkarnasi terus menerus. Pada malam siwa ratri segala kegelapan dalam diri kita bukan hanya secara vertikal (kepada Brahman) tapi juga secara horisontal (dengan sesama dan lingkungan) dan diharapkan kita tidak hanya mementingkan hubungan dengan Sang Brahman saja tapi kita juga harus  memandang kepada sesama karena masih banyak masyarakat dalam lingkngan kehidupan kita yang masih sangat kekurangan khususnya di NTT. Dan pada malam ciwa ratri yang suci ini diharapkan kita bisa dicerahkan dari segala papa.

Narasumber II :  Pak Ketut
Materi             :  Ngayah
Kesimpulan    : Secara filosofi ngayah merupakan aplikasi pengenjawatahan dharma, aplikasi ngayah ini dilihat dari beberapa aspek yaitu empat tingkatan kehidupan yang terdiri dari brahmacari, grehastra, wanaprasta dan bhiksuka. Selain itu dapat dilihat juga dari catur marga. 

Sesi Diskusi
Penanya :
1. Bli made : Penulisan kata Ciwa ratri yang benar
2. Bli gede :  Perbedaan ngayah (pendalaman hati) dan kegiatan ngayah ?
Jawaban :
1. Oleh kak Agung :
 Penulisan yang benar adalah ciwa ratri bukan ciwa latri, ratri berarti malam. Secara internasional ciwa ratri dikenal dengan maha ciwa ratri.
2. Oleh pak Ketut :
 Ngayah sama artinya dengan membantu melakukan suatu kegiatan, konotasinya pada kegiatan.

Penanya :
1. Rudi (Polresta) : Apakah puasa dalam ciwa ratri diharuskan? Dan kurun waktunya?
Jawaban :
1. Oleh kak Agung :
 Dalam ciwaratri kalpa disebutkan bahwa bagi yang mampu dan kondisi fisiknya memungkinkan ia dapat memulai puasa dari pagi hari hingga esok sorenya (36 jam) dibuka setelah selesai persembahyangan tilem.
 Bagi yang tidak mampu melaksanakan ia boleh tidak tidur semalam suntuk sambil mendengarkan dharmatula.
2. Oleh pak Ketut :
 Ajaran Hindu yang fleksibel memberikan kelonggaran bagi umatnya untuk memilih aplikasi dari ajaran-Nya.

Penanya :
1. Mbok Dewi :
 –   Makna upawasa untuk mengendalikan diri kita agar kita dapat mengenal atma
 –   Maksud filosofi dari cerita Lubdaka
Jawaban :
1. Oleh kak Agung :
 Naik pohon maksudnya kita harus  dapat menaiki pohon keinginan kita, memetik daun “Bila” maksudnya setelah kita menaiki pohon keinginan , kita memetik segala indria dalam diri kita (mengendalikan indria kita) dan meleburnya untuk dapat sampai pada Hyang Ciwa sebagai pelebur.
2. Oleh pak Ketut :
 Untuk mempelajari Weda mulailah mempelajari itihasa, dimana cerita lubdaka adalah salah satu itihasa oleh karena itu kita harus memahami makna yang tersirat dalam cerita lubdaka ini. Inti dari upawasa, jagra adalah merupakan salah satu dari 4 tapa yang kita lakukan.
 Inti dari cerita lubdaka adalah orang yang melakukan kebaikan, sekalipun dengan keterpaksaan seperti lubdaka akan dapat menemui lingga ciwa.

Penanya :
1. Bli Odan : Apakah hari raya ciwa ratri dapat diusulkan sebagai tanggal merah ?
 Jawaban (kak Agung) :
 Sejak tahun 1990-an telah diusulkan oleh PHDI agar hari ciwaratri sebagai hari libur, tapi sampai saat ini belum terealisasi. Perlu adanya kerja sama umat Hindu untuk mengusulkan hal itu.
2. Bli Wayan :
 Apakah ketidak dogmatisan Hindu tidak menjadikan adanya kemunduran keyakinan Hindu ?
 Jawaban :
 1. Kak Agung :
 Berdasarkan sloka yang ada dalam kitab Mahabarata, Dharma Raksati Raksita : siapa yang menjaga dharma akan dijaga dharma, siapa yang membesarkan dharma akan dibesarkan dharma dan siap yang telah melecehkan dharma akan dilecehkan oleh dharma. Maka kita harus memegang teguh dharma hingga kita meninggal.
2. Pak Ketut :
Yang penting dalam hal ini adalah ia harus punya tanggung jawab terhadap dirinya dan pasangannya, karena tingkat kehidupan tersebut sangat luas pengertiannya. Tergantung pada diri kita sendiri.

Dokumentasi :

\"Persembahyangan

\"Dekorasi

\"NaraSumber\"

\"Penyerahan

\"Panitia

Komentar Anda