Pembunuhan Pendeta Disebut Dalam Seruan Kerukunan Dari Pimpinan Pusat Mahasiswa Lintas Agama

JAKARTA (UCAN) – Pemimpin kelompok mahasiswa dari lima agama di Indonesia menyebut pembunuhan terhadap seorang pendeta Gereja Protestan, ketika mereka meminta masyarakat sebangsa untuk meningkatkan kerukunan dalam pesan untuk Idul Fitri.

Pimpinan Pusat Mahasiswa Lintas Agama, yang terdiri dari ketua-ketua lima organisasi kemahasiswaan, mengeluarkan pernyataan mereka bertanggal 19 Oktober dalam konfrensi pers yang mereka adakan pada hari yang sama di Kantor Pengurus Pusat Muhammadiyah, Jakarta. Pernyataan itu mendesak masyarakat Indonesia untuk menciptakan perdamaian di wilayah-wilayah konflik.

Hubungan antarumat beragama kini mengalami proses ketidakharmonisan yang disebabkan oleh adanya ketidakpercayaan masyarakat dan umat beragama terhadap peran pemerintah Indonesia dan aparat penegak hukum dalam menciptakan rasa aman, damai, dan tentram bagi masyarakat, tulis para ketua mahasiswa itu. Kelompok dan oknum tertentu dibiarkan mencabut hak hidup manusia Indonesia, tegas mereka, sambil mengatakan pemerintah dan aparat penegak hukum tidak mampu menegakkan hak asasi manusia yang cenderung telah menciptakan budaya kematian.”

Mereka menyesal karena pembunuhan bahkan terjadi di saat umat beragama sedang dalam suasana perayaan hari besar umat beragama. Di tengah-tengah umat Islam sedang menunaikan ibadah puasa (Bulan Ramadhan) dan menjelang Idul Fitri, orang-orang bertopeng menembak mati Pendeta Irianto Kongkoli, sekretaris umum Majelis Sinode Gereja Kristen Sulawesi Tengah, tanggal 16 Oktober 2006, kata mereka. Pendeta itu dibunuh di Palu, ibukota Propinsi Sulawesi Tengah, seminggu menjelang perayaan Idul Fitri 24-25 Oktober.

Ada indikasi, tambah mereka, konflik di daerah Poso, barat daya Palu, adalah rekayasa kelompok tertentu untuk kepentingan ekonomi guna memperoleh lahan dan tanah yang dijadikan lokasi untuk investasi bisnis, dengan cara membuat penduduk mengungsi akibat terciptanya suasana yang tidak aman.

Menurut para ketua kelompok kemahasiswaan itu, kesepakatan-kesepakatan Malino yang dilakukan pemimpin agama, tokoh masyarakat, pemerintah, dan aparat penegak hukum tidak membuahkan hasil. Kesepakatan itu mengakhiri konflik komunal dari 1998 hingga 2001 yang menewaskan ratusan orang, namun situasi tetap bergejolak dan peristiwa kekerasan terus terjadi secara sporadis.

Lima ketua organisasi kemahasiswaan itu mempertanyakan apakah masih mungkin terjadi perdamaian dalam masyarakat Indonesia, khususnya daerah konflik seperti di Poso.

Mereka menyerukan kepada segenap masyarakat dan umat beragama untuk terus menciptakan dan memelihara kerukunan dan toleransi antarumat beragama dalam suasana damai, aman, dan tentram.”

Selain itu, mereka mendesak pemerintah, aparat penegak hukum, pimpinan, dan umat beragama agar senantiasa mengakui dan menghormati kerukunan dan pluralitas masyarakat Indonesia.

Berkaitan dengan konflik sektarian di Poso, mereka tidak hanya menyampaikan turut berbelasungkawa atas meninggalnya Pendeta Kongkoli, tapi juga minta pemerintah dan aparat penegak hukum untuk dapat mengembalikan kepercayaan masyarakat dan umat beragama yang merasa bahwa pemerintah dan aparat penegak hukum tidak mampu menuntaskan semua kasus tragedi kemanusiaan yang terjadi, khususnya Poso.

Usutlah secara tuntas semua oknum, aktor, dan institusi yang terlibat dalam semua kasus kekerasan di Poso, khususnya penembakan Pendeta Kongkoli, kata pernyataan itu. Pemimpin mahasiswa itu mendesak pemerintah untuk membentuk lembaga koordinasi nasional untuk menyelesaikan konflik di daerah itu.

Penandatangan pernyataan itu adalah Amirudin, Eddy Setiawan, Emmanuel Tular, Kenly Poluan, dan Wayan Sudane. Mereka masing-masing adalah Ketua Pengurus Pusat dari Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI), Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI), Himpunan Mahasiswa Buddhis Indonesia (HIKMABUDHI), dan Kesatuan Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia (KMHDI).

source : http://mirifica.net/wmview.php?ArtID=3476

Komentar Anda