Jangan Terjebak Pragmatisme

Jakarta, Kompas – Di tengah deraan yang bertubi-tubi terhadap kehidupan berbangsa, seharusnya para pemuda berani mempunyai idealisme. Selain itu, mereka harus memacu diri untuk berprestasi dan tidak terjebak dalam pragmatisme politik demi meraih kekuasaan.

Dalam kondisi seperti saat ini, kata mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Syafii Maarif, Indonesia sungguh membutuhkan pemimpin yang memiliki idealisme, dan para pemuda diharapkan mampu menjawab kebutuhan itu. Apalagi, saat ini, bangsa Indonesia tergagap-gagap untuk memetakan masa depannya.

Namun, ketika dihubungi, Minggu (29/10), Syafii Maarif mengemukakan, satu hal yang harus dihadapi adalah derasnya arus pragmatisme yang dapat melunturkan idealisme tersebut. Umumnya, orang cenderung menggunakan politik sebagai batu loncatan untuk mencapai kekuasaan.

"Ada gelombang besar pragmatisme yang mendorong orang terjun ke dunia politik. Mungkin karena lapangan pekerjaan sedikit, lalu memanfaatkan politik untuk cepat memperoleh sesuatu," tuturnya.

Fase itu, ungkap Syafii, memang harus dilalui, tetapi bukan berarti pemuda hanyut di dalamnya.

Syafii masih yakin ada pemuda yang memiliki idealisme. Gelombang kecil itu, menurut dia, sangat dibutuhkan oleh Indonesia saat ini. Untuk memupuk idealisme itu, pemuda harus betul-betul memahami peta sosiologi dan politik Indonesia.

Dihubungi terpisah, Presidium Kesatuan Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia Wayan Sudane mengungkapkan, harus ada regenerasi kepemimpinan di Indonesia. Menurut Wayan, banyak kalangan muda di Indonesia memiliki kemampuan, baik intelektualitas maupun emosi yang memadai.

Namun, katanya, kadang-kadang komitmen dan idealisme rekan-rekan muda itu pudar karena berbenturan dengan aneka bentuk tekanan.

"Namun, tidak semua begitu, tidak semua lemah, saya salut kepada rekan-rekan muda yang terus mengembangkan kemampuannya meskipun kecil kemungkinan kesempatan yang ada," tuturnya.

Siapa pun setuju bahwa Indonesia membutuhkan pemimpin-pemimpin muda yang berkualitas dan berintegritas.

Moral etika

Noviantika Nasution, praktisi politik, menyatakan, memang sebagian dari politisi Indonesia cenderung menggunakan politik untuk mencapai kekuasaan tanpa kesabaran serta sikap etika moral tinggi.

Akan tetapi, Noviantika yang pernah menjadi bendahara umum PPIP itu memberi catatan, bahwa dunia politik itu sendiri bukan hal yang harus dipandang kotor.

Menurut Noviantika, jika dunia politik dilaksanakan dengan etika moral yang tinggi dan logika atau tahapan politik yang benar, hal itu justru seharusnya bisa membuat negeri ini makmur dan sejahtera. "Karena politik itu adalah suatu cara untuk mengatur kehidupan bersama, " ujar salah satu pendiri Partai Demokrasi Pembaharuan (PDP) ini.

"Dunia politik Indonesia tampak kotor, antara lain karena sebagian pemimpin partai, terutama yang besar, dalam praktik berpartai tidak demokratis, berperangai feodal, mudah terbelit dalam politik uang, dan gemar menciptakan konflik," ujarnya.(JOS/OSD)

 

source :
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0610/30/Politikhukum/3056924.htm

Komentar Anda