Eksistensi Pemuda Hindu

Jika seseorang bertanya, apa eksistensi anda sebagai seorang pemuda Hindu?
Pasti setiap orang memiliki jawaban yang beragam, sesuai dengan kemampuan yang dimiliki, lingkungan ia berada, juga kemauannya yang kuat untuk ‘exist\’ menunjukkan jati diri sebagai seorang pemuda beragama Hindu.
Dalam artikel ini, sesuai dengan post_title, saya batasi topik kita dengan 3 (tiga) kata: Eksistensi-Pemuda-Hindu.

  

Dalam pelajaran-pelajaran sejarah kita diajarkan bahwa mahasiswa/pemuda memegang peranan cukup besar dalam perjalanan Negara ini. Pada tahun 1908, 1928 dan 1945, para pelajar dan pemuda bahu membahu mendorong berakhirnya kolonialisme Belanda dan Jepang, melalui 2 cara : intelektual dan mengangkat senjata. Dalam perkembangannya tahun 1966, 1974,mahasiswa mulai mengkritisi kebijakan-kebijakan pemerintah yang banyak merugikan rakyat,dari rezim Orde Lama (ORLA) hingga Orde Baru (ORBA). Eksistensi mahasiswa semakin nyata dengan perjuangannya mengakhiri rezim ORBA, dan menancapkan tonggak Reformasi pada tahun 1998.
Kita boleh berbangga dengan peranan para Pemuda negeri ini. Tetapi jika kita tambahkan satu kata "Hindu" dalam eksistensi Pemuda Indonesia, dimanakah posisinya pada saat-saat menentukan itu?
 
Pemuda adalah harapan bangsa. Ia, agent of change yang diharapkan membawa nilai-nilai positif yang tulus dan independent dalam bersikap. Karena pemuda, khususnya mahasiswa relatif tidak memiliki motif pribadi dalam kekuasaan, jika dibandingkan dengan kelompok usia diatasnya.
Meniadakan atau menghilangkan peranan Pemuda Hindu dalam kehidupan bangsa ini, tentu bukanlah tindakan yang bijaksana. Drs. I Ketut Wiana mencatat, pada tahun 1960-an Gerakan Mahasiswa Hindu Dharma (GMHD), Gerakan Siswa Hindu Dharma (GSHD) ikut juga bersama-sama ormas lainnya menolak ORLA. Meski kemudian kedua organisasi didikan Prajaniti tersebut menjadi underbow Golkar, berpolitik praktis mengikuti pemegang kekuasaan saat itu.
Pada tahun 1980-an muncul dua organisasi pemuda yang tetap ada hingga saat ini, Perhimpunan Pemuda Hindu Indonesia (Peradah Indonesia) dan Ikatan Pemuda Hindu Indonesia(IPHI). Pada tahun 1993, potensi para pemuda Hindu semakin solid setelah para Mahasiswa dari berbagai belahan Indonesia menggagas satu organisasi Nasional, Kesatuan Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia (KMHDI). Disusul kemudian dengan Forum Intelektual Muda Hindu Dharma (FIMHD), dan berbagai organisasi lainnya.
Fenomena maraknya kehadiran organisasi-organisasi nasional ini dapat dipandang sebagai era bangkitnya kesadaran para pemuda untuk meningkatkan kesadaran berorganisasi, pentingnya persatuan dan solidaritas untuk mencapai tujuan bersama, yang dilandasi oleh wawasan intelektual dan spiritual. Pertanyaannya kemudian adalah sejauh mana organisasi-organisasi tersebut mampu berkoordinasi dan berkomunikasi dengan organisasi yang telah ada, al: PHDI, Prajaniti.
Sejarah mencatat pada tahun 1999 di Jakarta berlangsung Pesamuhan Organisasi Hindu Nasional (POHN) yang diikuti oleh organisasi-organisasi yang telah ada saat itu, PHDI, Prajaniti, Peradah Indonesia, IPHI, KMHDI dan berbagai Forum Hindu. Tujuannya adalah sebagai ajang berkoordinasi/komunikasi untuk menyamakan persepsi berbagai organisasi untuk mewujudkan Dharma Agama dan Dharma Negara. Saat itu, para peserta Pesamuhan mendapat pemahaman yang sama, meskipun berbeda sejatinya keberadaan masing-masing organisasi sangat diperlukan, sehingga perlu bekerja sama untuk membangun umat. Seperti misalnya, KMHDI diharapkan mampu mewadahi para mahasiswa di tingkat nasional bekerjasama dengan Unit-Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang telah lebih dulu ada di kampus-kampus, Peradah Indonesia dan IPHI ditataran pemuda, Prajaniti bagi yang kelak ingin berpolitik praktis, dan PHDI sebagai payung umat Hindu Indonesia.
Meski demikian, disadari organisasi-organisasi Pemuda Hindu, sebagai wadah berkumpulnya para pemuda yang memiliki idealisme perjuangan yang sama tidak lepas dari beberapa kendala. Beberapa permasalahan yang umum disetiap organisasi Hindu adalah tentang pendanaan dan krisis kader. Sering kita amati, minimnya dana yang dimiliki sebuah organisasi untuk menjalankan program kerja, ataupun seorang pemuda yang menjadi anggota (bahkan pengurus, pen)di berbagai organisasi sejenis.
 
Kesatuan Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia (KMHDI), sejak dini telah menyadari berbagai kelemahan ini. Masalah pendanaan coba diatasi dengan sistem iuran anggota, dan berbagai kegiatan yang menghasikan dana, seperti: berjualan buku/majalah, mengadakan Seminar/Event Nasional. Tetap masih menjadi kendala, tetapi bukan alasan untuk tidak melakukan kegiatan. Kegiatan yang menjadi fokus organisasi ini adalah Kaderisasi, selain tentu juga pelayanan kepada umat melalui program pengabdian masyarakat,al: bakti sosial, tirtha yatra, dharma tula/wacana, dsbnya.. Berbagai program kerja disusun dan dijalankan bertujuan untuk meningkatkan kemampuan berorganisasi anggota, pemahaman agama serta wawasan. Memiliki kader yang humanis, nasionalis, relijius dan berpikiran progresif, demikian cita-cita KMHDI. Dengan mengedepankan proses belajar melalui organisasi, KMHDI berharap para mahasiswa dapat bersatu dan menjadi pemimpin Hindu di masa depan.
 
Untuk mampu berkiprah bukan hanya di internal ke-Hindu-an, KMHDI bergabung dalam Forum Kebangsaan Pemuda Indonesia (FKPI). Tampil sebagai representasi Hindu, sejajar dengan organisasi-organisasi mahasiswa/pemuda dari berbagai agama, al: PMII, IMM dan HMI (Islam), GMKI (Kristen), PMKRI (Katholik), HIKMAHBUDHI ( Budha), dan GMNI (Nasionalis). Eksistensi para pemuda Hindu, khususnya mahasiswa yang tergabung dalam KMHDI ini bisa kita ketahui dari berbagai aktifitas yang telah dilakukan. Menggugat Bali Nirwana Resort karena Pura Tanah Lot dikelilingi lapangan golf, memprotes tabloid IQRO di Surabaya karena menyebutkan “ orang Hindu menyembah patung “, memprotes tabloid Bali Kini di Bali karena memuat foto canangsari mesesari bola golf, menggugat ucapan AM Saefudin yang melecehkan Hindu, demo mahasiswa Hindu menolak Soeharto, berbagai aktivitas nasional sampai yang terbaru mengeluarkan Surat Penyataan Bersama FKPI tentang kerusuhan di Poso dan penembakan pendeta di Palu, oktober 2006.
 
Eksistensi pada akhirnya menunjukkan kepada kita, mengapa segala sesuatu harus ada? Untuk apa? Dan bagaimana ia melakukannya? Eksis adalah sebuah pilihan yang harus dilakukan apabila kita ingin tetap diakui keberadaannya ditengah-tengah masyarakat yang semakin komplek dengan berbagai kepentingan. Dengan eksis kita juga menunjukkan jati diri sebagai pribadi/kelompok.
Memang belum banyak hal yang pemuda Hindu lakukan, secara maksimal memberikan manfaat bagi eksistensi Hindu di Indonesia. Tetapi para pemuda, khususnya mahasiswa telah berupaya dengan segala keterbatasannya. Jikapun ada kekurangan-kekurangan, seyogyanya yang tua lebih arif untuk memberikan pandangan, sebagaimana yang telah ditunjukkan KMHDI turut menyukseskan acara Mahasabha IX PHDI di TMII Jakarta kemarin.
Semoga para pemuda tidak cepat puas diri atas prestasi kinerja yang telah dilakukan, tidak lemah menerima kesalahan, dan mampu berkiprah lebih baik, sejajar dengan pemuda Indonesia lainnya demi kejayaan agama dan negeri ini. Baik secara perseorangan ataupun melalui organisasi-organisasi Hindu. Semoga.
 
Om namaste,
Tude
aagpp.tude@gmail.com
Komentar Anda