MEPANDES MASAL SE BANDUNG RAYA

MEPANDES MASAL SE BANDUNG RAYA
Minggu 8 Oktober 2006,
Kehidupan Manusia tidak lepas dari sifat Serakah (Lobha) Hawa Nafsu (Kama), Marah (Kroda), Kemabukan (Mada), Iri Hati, Cemburu, Dengki (Matsarya), dan Kesombongan (Moha).
Keenam sifat yang sejatinya menjadi musuh dalam diri inilah dalam ajaran Hindu disebut dengan Sad Ripu. Jika tak ada upaya mengendalikannya, maka ke enam sifat tadi akan berpeluang besar menyesatkan sekaligus membahayakan kehidupan manusia.
Disinilah perlunya ada usaha untuk mengendalikan sifat di atas baik secara niskala maupun skala. Upaya skala misalkan, orang tua, tetangga dan masyarakat saling mengigatkan atau menghindari prilaku yang mengarah ke sifat Sad Ripu tadi.
Secara Niskala tantunya juga harus dilakasakan dengan suatu upacara keagamaan. Dan dalam hindu salah satu upacara yang dilakukan adalah Mepandes atau potong gigi. seperti yang termuat dalam lontar sebagi berikut:
1.      Pustaka Puja Kalapati, disebutkan perihal pergantian status jenjang hidup orang Hindu, yaitu mapetik (potong rambut) pada usia setelah tiga bulan, magundul pada usia setelah tiga oton dan mepandes (potong gigi) setelah akil balik. Ketiga perubahan status ini memiliki tujuan menghilangkan dasamala dari badan sehingga tercapai kesucian diri.
2.      Lotar Kala Tatwa, dalam lontar ini ada disebut bahwa Sang Hyang Kala baru bisa bertemu dengan ayah dan ibundanya (Batara Siwa dan Dewi Uma) setelag taring giginya dipotong sebagai simbul dasamala badannya di-parisuda.
3.      Lontar Semara Dhana, lontar ini menceritakan tentang Sang Hyang Semara kageseng (kebakar) oleh Ida Batara Siwa karena kemurkaan beliau akibat diganggu saat pertapaan di Gunung Kailasa. Sang Hyang Ratih lantas memohon agar ikut dibakar sebagai bentuk kesetiaan kepada suami. Oleh karena itu dalam upacara potong gigi dipuja Sang Hyang Semara Ratih. Karena akibat godaan Sang Hyang Semara inilah Betara Siwa bertemu dengan Dewi Uma yang natinya akan melehirkan Sang Hyang Ganesha. Ganesha kelak akan mampu menghancurkan raksasa Nila Rudraka dengan potongan taringnya.
4.      Lontar Kala Pati, bahwa simbol pengendalian sad ripu (enam musuh dalam diri), dengan memanggur (metatah) gigi sebanyak 6 buah, terutama bagian atas. Mulai dari taring kanan, empat gigi seri, dan taring kiri.
Menyadari akan pentingnya pengendalian enam musuh dalam diri sekaligus sebagai swadharma orang tua kepada anak-anaknya, masyarakat hindu sebandung raya yang tergabung dalam warga suka duka Dharma kencana, menggelar acara mapandes pada awal oktober ini. Berbeda dengan masyarakat dibali yang cendrung melaksanakan upacara mapandes bersama keluarga, bahkan menyendiri. Warga hindu dibandung justru melakukan secara massal. “Disamping biaya yang ditanggung lebih rendah, Mapandes juga menjadi ajang merajut tali persaudaraan antar warga hindu sebandung raya, “tegas sekertaris panitia pelaksana Mapandes massal tahun 2006, sebandung raya, I Ketut Sudana. Lebih dari 50 warga ikut mengambil bagian dalam acara ini yang berlangsung di Pasraman Pura Agung Wira Satya Dharma Ujung Berung, Jawa Barat ini. Mereka berasal dari berbagai kalangan masyarakat di bandung.
Komentar Anda