Agama pribadi

Gandhi, di bulletin Young India menulis: "Semua agama adalah anugerah Tuhan, tetapi bercampur dengan sifat manusia yang tidak sempurna karena agama itu memakai sarana manusia. Agama sebagai anugerah Tuhan berada di luar jangkauan bahasa manusia. Manusia yang tidak sempurna menyampaikan agama itu menurut kemampuan bahasa mereka, dan kata-kata mereka ditafsirkan lagi oleh manusia yang tidak sempurna juga. Tafsiran siapa yang harus dipegang sebagai tafsiran yang tepat. Setiap orang adalah benar dari sudut pandangnya sendiri, namun bukanlah mustahil juga bahwa setiap orang adalah salah".

Einstein (A life;D.Brian; hlm.186)), ketika diminta mendefinisikan agama dan Tuhan mengatakan: "kita dalam kedudukan seperti anak kecil yang memasuki perpustakaan yang sangat luas penuh dengan buku dalam berbagai bahasa. Sang anak tahu seseorang pasti telah menulis buku-buku tersebut. Hanya ia tidak tahu bagaimana. Ia tidak tahu bahasa yang digunakan untuk menulis semua itu. Sang anak sedikit menduga ada sebuah tatanan misterius dalam penyusunan buku-buku itu namun tak tahu apa itu. Sepertinya buat saya tampak bahwa itulah sikap orang terhadap Tuhan betapa pun tinggi intelegensinya" .

Demikian pendapat dua tokoh terkemuka dunia, yang masing-masing berbeda budaya dan teisme, tetapi berkontribusi besar kepada nilai-nilai kemanusiaan. Meski berbeda mereka memiliki beberapa kesamaan, rendah hati, mengakui kelemahan manusia dalam mengungkap rahasia alam, agama dan Tuhannya.

Berbeda dengan pemahaman agama yang kita kenal di kehidupan sehari-hari. Penafsiran agama telah di-final-kan menjadi sebuah arti yang pasti. Kebenaran sejati adalah satu. Tidak ada kebenaran di luar keyakinan itu. Demikian yang sering kita dengar, uraian dari pemegang otoritas agama, penyambung lidah nabi. Yang entah disadari atau tidak, mengiringi laju mesin perang dan kekerasan yang bersembunyi di balik iman/ takwa.

Bagi yang beragama Hindu, pendefinisian mutlak ini tidak ditemukan. Kita mengenal banyak jalan menuju Tuhan. A gam, sanathana dharma, ibu dari agama-agama ini telah melahirkan agama-agama besar seperti Budha, Jain, dan Sikh. Maka banyak sebutan yang kita kenal kemudian. Hindu agama terbesar di dunia, Hindu agama universal dan sebagainya.

Membaca uraian Gandhi dan Einstein diatas, saya meyakini satu hal, Hindu agama pribadi. Dengan semua keterbatasan yang saya miliki. Pengetahuan agama, penguasaan logika yang terbatas, inderawi yang kadang liar dan lemah saya mengamini agama saya pribadi. Kemampuan saya tidak kuasa untuk menerjemahkan semua uraian ulama/pendeta, sebagaimana mereka lantang berwacana, meyakini kebenaran otoritas kitab suci yang selalu dikutipkan. Bahkan membacapun saya sering latah dan gagap, acapkali menyetujui tanpa mengerti. Karena itulah saya mengambil secuil pemahaman Hindu, dan menjadikan secuil yang saya pahami itu sebagai sebuah agama. Apakah saya bidah? Mungkin tidak. Tradisi filsafat Hindu yang saya ketahui tidak mengharamkan perbedaan. Ada Swami yang menjalankan Bhakti Yoga, sementara murid kesayangannya lebih memilih Karma Yoga. Ada yang memilih puja di rumah, ketika lainnya bersembahyang di pura. Toleransi umat beragama, memberikan kepada kita pemahaman mendalam tentang perbedaan-perbedaan . Memberikan kita pandangan yang jauh dari sikap fanatisme.

Dengan segala hormat, inilah agama saya.

Penulis : Tude
Komentar Anda