Makna Kemerdekaan : membumikan ideologi KMHDI belum selesai

Makna Kemerdekaan :

membumikan ideologi KMHDI belum selesai

 

 

 

Meriah. Begitu nampak saat melintas disepanjang jalan. Merah-putih berikut dengan hiasan lainnya menghiasi disepanjang jalan. Gerbang-gerbang di pintu masuk jalan hingga gang-gang tertata dengan apik. Lampu kelap-kelip bertebaran di pagar-pagar, pohon-pohon menambah suasana wah pada malam hari. Dirgahayu Republik Indonesia benar-benar dimaknai dengan suasana yang meriah. Hari ulang tahun yang dibanggakan seluruh rakyat indonesia. 61 Tahun usia bangsa Indonesia merdeka. Enam orang Presiden telah dan sedang memimpin negeri yang pluralistik ini. Masing-masing kepemimpinan melahirkan kebijakan yang mungkin dengan kebijakan tesebut berusaha untuk memajukan Indonesia.

 

Terakhir masa reformasi. Delapan tahun bergulir, namun belum ada perubahan kultur bernegara. Hadirnya demokrasi sebagai sistem masih berada dalam tataran ekspresi dan belum menjadi kultur. Itu disebabkan pergeseran pendulum dari sentralistik menjadi desentralistik terlalu cepat (Kompas 14 Agustus 2006). Demokrasi memang untuk mewujudkan partisipasi dari masyarakat. Partisipasi dapat melalui media, forum-forum dan lain-lain. Pemerintah dibagi menjadi eksekutif, legeslatif dan yudikatif. Ada oposisi ada penguasa sehingga proses diharapkan berjalan dengan baik.

 

Merdeka. Sebuah kata yang sekali lagi wah. Benarkah kita sudah merdeka. Berikut KulKul, wartawan KMHDI mewawancarai I Gede Kirtana Yoga, mantan Ketua Departemen PP KMHDI Periode 2003 – 2006.

 

\"\"Kulkul : Apakah makna kemerdekaan menurut Anda ?

Kirtana Yoga : Dalam hemat saya, kemerdekaan memiliki makna yang sangat sakral, mendalam dan luas, mencakup kemampuan, kebebasan serta kemandirian dalam mengolah pemikiran, penyuaraan aspirasi serta bersikap tanpa tekanan pihak luar. Kemerdekaan mesti dipandang minimal dari dua sisi, kemerdekaan individu dan kemerdekaan komunitas, suatu situasi kondisi dapat dikatakan merdeka jika kemerdekaan individu serta kemerdekaan komunitas telah bisa dicapai.

Kulkul : Ditengah globalisasi, imperialisme / kapitalisme masuk pada negara berkembang. dengan demikian masihkah substansi kemerdekaan Indonesia sebagai negara yang independen dan berdaulat dapat kita maknai ?

Kirtana Yoga : Dalam konteks pemikiran saya, arus globalisasi, imperialisme/kapitalis, komunisme dan paham lainnya merupakan sesuatu yang tak bisa dihindari karena Indonesia merupakan bagian dari komunitas dunia internasional, dan yang harus dilakukan oleh  bangsa kita adalah menumbuhkan kepercayaan akan kemampuan bangsa (nations ability). Saat ini yang terjadi dengan bangsa kita adalah krisis kepercayaan dan kemampuan. Ketika kepercayaan dan kemampuan diragukan maka ketergantungan kepada pihak luar dalam hal ini Negara asing menjadi sangat dominan. Dilihat dari sisi kemerdekaan individu, saya merasakan mulai mengalami yang namanya merdeka dan berdaulat namun dari sisi kemerdekaan komunitas, kedaulatan serta keindependenan kumunitas Negara Indonesia masih menyisakan pertanyaan yang amat besar .

Kulkul : Bagaimana dengan nilai-nilai Pancasila sebagai pedoman membangun bangsa. ? masihkah nilai-nilai tersebut dilaksanakan masyarakat.?

Kirtana Yoga : Saya masih percaya pada argumentasi Bung Karno yang mengatakan bahwa pancasila dia gali dari bumi nusantara. Jadi nilai-nilai tersebut tetap lestari sepanjang masa di masyarakat kita. Namun yang menjadi pertanyaan adalah apakah masyarakat kita masih memakai nilai-nilai yang ada tersebut dalam implementasi riil ? Secara formal, semua komunitas masyarakat di Indonesia masih merasa melaksanakan nilai-nilai pancasila tersebut namun dalam pandangan saya, mulai ada gejala kelompok-kelompok yang mengarahkan pancasila hanya sebagai “pembungkus” saja dan dalam implementasinya lebih mengutamakan ego sektoral dengan kecendrungan untuk mengangkat isu-isu primordialisme.

Kulkul : Bagaimana dengan pelaksanaan otonomi daerah, dan demokrasi ?

Kirtana Yoga : Cita-cita otonomi daerah sebenarnya bermula dari kondisi masyarakat kita yang merasakan bahwa pemerintah pusat memiliki otoritas yang sangat dominan terhadap daerah sehingga dalam suatu keadaan dapat mengkerdilkan potensi daerah itu sendiri. Pada awal pelaksanaan otonomi daerah, ada kesan tumbuhnya “raja-raja kecil” di daerah yang sangat susah diatur dengan ego sektoral/daerah yang masih cukup tinggi, perselisihan antara kabupaten/kota yang bertetangga meruncing dengan dipicu oleh pengelolaan sumber pendapatan daerah, Gubernur kehilangan powernya didepan Bupati/Walikota karena otonomi yang diterapkan di tingkat kabupaten/kota membuat posisi Gubernur tidak strategis lagi, Pemerintah pusat merasa sulit mengatur “kenakalan-kenakalan” pihak ekskutif dan legislatif di daerah dan banyak pihak berpendapat otonomi daerah telah kebablasan. Hal ini tidak berlangsung lama, DPR dan Pemerintah melakukan revisi UU Otonomi Daerah, namun yang terjadi sekarang bukannya perbaikan kondisi tetapi penguatan pemerintah pusat terhadap daerah yang sangat besar sehingga tak ayal banyak daerah merasakan kebijakan yang dibuat legislatif maupun ekskutif daerah telah “tersandera” oleh pemerintah pusat dan otonomi terkesan dijalankan setengah hati. Kondisi ini sangat tidak kondusif bagi pembangunan bangsa, saatnya masyarakat berbuat, saatnya DPD menyuarakan aspirasi daerah, saatnya legislatif dan eksekutif Pusat-Daerah duduk bersama menjernihkan masalah otonomi daerah ini yang masih kacau balau dan jauh dari cita cita mulia Otonomi Daerah.

Demokrasi di Negara kita cukup menunjukkan perkembangan walaupun disana sini masih banyak memerlukan pengkajian dan perbaikan, masyarakat kita juga mulai merasakan akan perannya sebagai subjek proses demokrasi itu sendiri. Salah satu perbaikan yang urgent dilakukan adalah penataan partai politik, bagaimanapun partai politik sangat besar pengaruhnya bagi perkembangan demokrasi. Partai harus mengintensifkan pendidikan politik yang sehat dan santun pada anggotanya, partai harus mulai memikirkan metodologi kaderisasi partai yang cocok diterapkan, partai-partai yang masih menonjolkan figur harus belajar untuk mengutamakan profesionalitas kemampuan. Partai harus mampu membuat image positif di masyarakat sehingga tidak seperti sekarang dimana banyak intelektual yang antipati terhadap partai politik karena track record perjuangan, gerakan dan orientasinya yang masih dipertanyakan.

 Kulkul : Bagaimana dengan penerapan ideologi KMHDI ?

Kirtana Yoga : Harus jujur saya akui, bahwa membumikan ideologi KMHDI belum selesai dan masih perlu banyak pengorbanan untuk melakukannya, dalam penelitian organisasi tahun 2005 yang saya lakukan ketika menjabat di Departemen Kaderisasi KMHDI, ternyata ideologi KMHDI baru membumi di kalangan elit-elit KMHDI yang jumlahnya juga masih bisa dihitung, ada beberapa hal yang dapat saya analisis dari kondisi ini :

a.       Ideologi KMHDI yang sekarang, secara informal baru kita miliki pada tahun 1999 dan itupun belum tertuang dalam AD/ART organisasi Secara formal, Ideologi KMHDI yang sekarang baru kita miliki secara sah sejak Mahasabha KMHDI di Mataram tahun 2003 dan dicantumkan dalam AD/ART. Dilihat dari kondisi ini maka masih wajar jika penerapan ideologi KMHDI belum tercapai sesuai dengan cita-cita.

b.      Kader-kader KMHDI masih banyak yang tidak jelas mengetahui tentang pentingnya sebuah organisasi memiliki ideologi. Hal ini menyebabkan proses diskusi tentang ideologi dalam organisasi kita menjadi jalan ditempat sehingga hal mendasar yang harus dijelaskan pada kader adalah : mengapa KMHDI perlu punya ideologi?” hal ini saya coba untuk diimplementasikan dalam TOT Regional KMHDI yang telah dilaksanakan namun masih belum menunjukkan perkembangan yang memuaskan. Dilihat dari kondisi ini, ada tugas dari Pengurus KMHDI diberbagai tingkatan untuk membumikan ideologi KMHDI secara lebih matang.

 

Kulkul : Akankah ideologi KMHDI tetap relevan menjawab tantangan globalisasi ?

 

Kirtana Yoga : Ideologi KMHDI dibuat lentur dan dinamis sehingga akan mampu menjawab tantangan serta dinamika globalisasi jaman. Tetapi yang menjadi pertanyaan besar adalah “apakah kader-kader KMHDI mampu menjawab tantangan globalisasi?”, kemampuan atau kualitas kader dipengaruhi oleh banyak hal, disamping karena kemauan juga dipengaruhi oleh situasi lingkungan/organisasi, Ideologi KMHDI yang dinamis dan lentur tentu tidak akan berguna bagi kader jika tidak dipahami secara komprehensif. Kelenturan dan kedinamisan ideologi KMHDI salah satunya dapat dilihat dari besarnya peluang bagi kader-kader KMHDI untuk melakukan diskusi, pengkajian serta  otokritik terhadap ideologi KMHDI. Dalam pandangan saya, ideologi KMHDI yang kita miliki cukup bisa menjadi pemersatu dan diterima oleh para ideolog-ideolog dengan paham keyakinan yang berbeda sebagai aktivis di KMHDI walaupun tidak menutup kemungkinan suatu saat nanti akan ada pengkajian bahkan perubahan ideologi KMHDI jika hal tersebut merupakan kebutuhan fundamental dari organisasi kita.

Kulkul : Sudahkah KMHDI merdeka ?

Kirtana Yoga : Menanyakan KMHDI merdeka? Saya melihatnya dari dua sisi yakni organisasinya ataukah kadernya.

secara organisasi, KMHDI dari berdiri sampai sekarang telah merdeka, KMHDI cukup berani ketika umurnya masih muda untuk tidak masuk kedalam lingkar tekanan kekuasaan dengan bayang-bayang sebuah OKP yang didirikan oleh pemerintah orde baru ketika itu. Sepengetahuan saya terjun sebagai aktivis KMHDI didaerah ataupun di pusat, tidak pernah organisasi kita melakukan kepentingan kepentingan pragmatis yang berbau kekuasaan belaka dan tekanan penguasa ataupun pihak lainnya, dan mudah-mudahan hal ini tetap terjaga selamanya, sehingga KMHDI mencapai kemerdekaan abadi.

Apakah kader KMHDI sudah merdeka? Ini masih menyisakan pertanyaan bagi kita semua, meminjam pendapat Paulo Friere yang mengatakan bahwa manusia yang bebas (merdeka) adalah manusia yang sadar akan jati diri dan lingkungannya, dan saya pribadi sepakat dengan pijakan ini untuk menilai kemerdekaan kader, sehingga dalam pemikiran saya bahwa kader KMHDI belum merdeka secara utuh namun mulai menuju proses pemerdekaan diri, yang astungkara bisa cepat dicapai jika pengkaderan organisasi bisa tetap berlangsung secara kontinyu dan terarah.

Komentar Anda