KAPANKAH KITA MULAI ?

Kita sekarang ini hidup di tengah-tengah zaman kali, di mana pada zaman ini kehidupan serba kompleks dan begitu menjelimet. Maka dalam praktek keagamaan diperlukan adanya penyederhanaan, di sinilah diperlukan tukar pikiran, dialog serta diskusi-diskusi dengan para pandita serta tokoh-tokoh agama lainnya. Sehingga dapat ditemukan apa yang perlu dirobah, dipertahankan dan disederhanakan mana yang perlu diberikan pengertian yang lebih mendalam. Nah di zaman kali saat ini yang dianjurkan adalah mengulang-ulang nama Tuhan dan itu harus digabungkan pula dalam setiap upacara-upacara spiritual, upacara apapun nama dan bentuknya karena ini adalah perintah dari Weda itu sendiri. Dalam Upanisad juga dijelaskan bahwa harenam (puji-pujian kepada Tuhan) harus dimasukkan dalam suatu upacara dan yang lainnya dapat di nomor duakan. Inilah yang menurut sastra yang utama yang harus dilakukan. Dan ini perlu duduk bersama dan didiskusikan demi untuk kepentingan dan kerahajengan umat di dunia. Demikian Sri Phada Maharad Bhakti Swarupa Darmodara Swami dalam satu kesempatan di kediaman Brahmana Guna Awatara Dasa di Tabanan belum lama ini. Sri Phada Maharad Bhakti Swarupa Darmodara Swami adalah salah satu tokoh panutan dunia. Beliau sedang gencar-gencarnya menyerukan perdamaian di seluruh dunia. Diawali dari tanah kelahirannya di India, Negara Bagian Manipur, beliau menyerukan arti pentingnya kedamaian dunia dengan mengunjungi berbagai negara.

Mencermati pernyataan beliau maka sudah sangat jelas dan tegas bahwa itu adalah amanat weda yang mesti kita laksanakan sebagai seorang penganutnya tanpa debat. Mestinya dengan kesadaran yang tinggi mulai sekarang kita harus berani melakukan perubahan, penyempurnaan didalam melaksanakan aktifitas kerohanian dengan mengacu kepada amanat weda. Kita harus mampu sedikit saja menundukkan hati kita, ego kita, kesombongan kita arogansi kita untuk mau mendengar terlepas dari siapapun dia. Apakah dia seorang pendeta India, apakah dia seorang pendeta Afrika, apakah dia seorang pendeta Indonesia itu tidaklah terlalu penting, yang paling penting bagi kita adalah mampu membuka wawasan kita bahwa Hindu tidak hanya Bali dengan segala tradisinya, tidak seperti seekor kodok dalam telaga yang merasa diri sudah hebat ternyata diluar sana masih ada danau yang lebih luas, masih ada laut bahkan ada samudra pasifik yang sangat luas.  Kita harus hilangkan pola pikir kerdil bahwa kita lebih baik dari mereka, lebih kaya dari mereka menuju pola pikir sederhana rasional dan universal. Apapun bentuk kegiatan upacara yang kita laksanakan sebagai seorang yajamana kita harus berani menambahi, melengkapi dengan kegiatan japa, bhajan, kiirthanam dan lain-lain, apa lagi ditambah dengan agni hotra itu sangat-sangat baik.

Kehidupan ini dinamis kita tidak boleh takut dengan perubahan yang penting perubahan ini membawa dampak kebaikan atau perbaikan. Dulu tingkat melek hurup masyarakat kita sangat terbatas memang cara yang paling baik pada waktu itu untuk melaksanakan kegiatan agama adalah melalui praktek, gugon tuwon dari para orang tua kita, pinandita maupun pandita, tapi sekarang generasi muda kita sudah hampir semuanya terpelajar maka praktik-praktik seperti itu sudah tidak pas lagi, apalagi buku-buku agama seperti Bhagavad Gita, Bhagavata Puranam dan lain-lain sudah banyak dijual dimana-mana mestinya kita sudah tidak ada kendala lagi untuk dapat melaksanakan ajaran agama secara lebih baik, cerdas dan rasional meskipun kadang-kadang agama tidak bisa diperdebatkan secara ilmiah karena itu menyangkut kepercayaan.

Kita melaksanakan ajaran weda jangan punya perasaan takut, ragu-ragu, malu  ah……. apa nanti kata orang jangan pernah.Tumbuhkan dulu kesadaran yang tinggi, kepercayaan yang kuat, cinta kasih yang luas didalam diri sendiri bahwa apa yang kita laksanakan adalah murni ajaran weda ada dasar sastranya. Tentu terlebih dahulu kita harus memiliki kitab sucinya seperti Bhagawad Gita maupun Bhagavata Puranam dan yang lain-lain. Biarkan mereka berkata apa kita tetap maju menuju pendakian dan tersenyum karena cinta kasih spiritual sudah bersemayam didalam diri kita. Anda boleh pintar baca lontar dengan sastra balinya, pintar bahasa kawi/jawa kuno namun alangkah lebih baiknya pemahaman anda ditambahi lagi dengan membaca Bhagawad Gita, Bhagavata Puranam dan lain-lain. Karena hanya dengan itu yang bisa mempercepat meningkatkan kualitas kehidupan kita, meningkatkan spiritual kita, srada dan bhakti kita disamping selalu melakukan pendekatan dengan para sadhu menuju mokhsartam jagadhita ya ca iti dharma____..astu.

Semoga sinar suciNya selalu menerangi jalan kegelapan dan kebodohan kita semua___Om Tat Sat

Sumber : I Wayan Wisanta ~ Tokoh Umat Hindu Lampung

Komentar Anda

Mungkin Anda Menyukai