HIDUP ADALAH SEBUAH PROSES

Oleh : I Ketut Wita *
 
Seorang rekan bertanya kepada saya, apa sih yang ingin kamu capai? ,Saya sedikit tertegun dan bingung menjawabnya. Karena jujur saja, banyak sekali keinginan yang belum tercapai, dan keinginan itu semakin lama semakin banyak bermunculan yang akhirnya mengalir dalam setiap gerak saya.Mungkin tidak hanya saya yang mengalami hal seperti ini, dan tanpa kita sadari, kita akan semakin terbawa oleh keinginan-keinginan itu, baik berupa harta maupun kama, dengan sedikit yang mengarah ke dharma dan tujuan akhir yaitu moksa. Dalam konsep hindu percaya bahwa hidup tidak hanya satu kali, bisa berulangkali sesuai dengan karma yang kita dapatkan dari kehidupan kita tedahulu, dan sesungguhnya jiwa(atman) tidak bisa mati, yang mati adalah badan kasar kita, sangatlah salah jika kita hanya mengejar keinginan  yang hanya bisa dinikmati pada kehidupan saat ini.
 
Hidup adalah suatu proses seperti halnya air dari gunung menuju laut, air dari gunung berasal dari air laut yang menguap menjadi mendung, mendung turun menjadi hujan. Hujan yang  jatuh itulah yang menapaki lereng gunung terus menuju sungai, tidak ada sungai yang alami lurus menuju laut, sungai berliku-liku melalui berbagai daerah terus menuju laut. Proses alam itu berdasarkan hukum Rta yang diciptakan Hyang Widhi
 
Memahami hidup adalah suatu proses sangat penting untuk membangun sikap hidup yang benar dan tepat guna. Memahami hidup adalah sebuah proses seorang akan bersikap seimbang saat melihat atau berada pada suatu kebaikan dan keburukan, kebahagiaan dan kedukaan
 
Sukhasyanantaran dukhasyanantaran sukham
Cakrajagatah sarwa wartate sthatarajanggaman

(Sloka tantra )
 
Kedukaan datang setelah kesukaan, kesukaan mengikuti kedukaan, semua mahluk hidup di dunia mengalami perputaran roda suka dan duka ini
 
Na Prahasyet priyam prapya
No dwijet prapya ca priyam
Sthirabuddhir asammudho
Brahmawid brahmani sthitah

(BG V.20)
 
Ia yang tidak Kegirangan ketika suka dan tidak bersedih dikala duka
Tetap dalam kebijakan teguh iman mengetahui Brahman, bersatu dalam Brahman
 
Dimana ada kehidupan, disitu pasti ada permasalahan. Namun, tahukah Kita bahwa di balik setiap masalah terkandung suatu peluang emas dan kesempatan yang besar untuk maju?
 
Apabila Tuhan ingin menghadiahkan sesuatu yang berharga, bagaimanakah Ia memberikannya kepada Kita? Apakah Ia menyampaikan dalam bentuk suatu kiriman yang indah dalam nampan perak? Tidak! Sebaliknya Tuhan membungkusnya dalam suatu masalah yang pelik, lalu melihat dari jauh apakah Kita sanggup membuka bungkusan yang ruwet itu, dan menemukan isinya yang sangat berharga, bagaikan sebutir mutiara yang mahal harganya yang tersembunyi dalam kulit kerang.\’\’
 
Pernyataan di atas bukan sekedar kata-kata indah untuk menghibur Kita yang sedang kalut menghadapi suatu masalah. Ini adalah perubahan paradigma dan cara berpikir. Keadaan apa pun yang kita hadapi sebenarnya bersifat netral. Kita lah yang memberikan label positif atau negatif terhadapnya. Peristiwanya sendiri mungkin tidak penting, tapi respon terhadap peristiwa itu adalah segala-galanya.\’\’
Semua kesulitan sesungguhnya merupakan kesempatan bagi jiwa kita untuk tumbuh. Sayang, lebih banyak orang yang menganggap masalah sebagai sesuatu yang harus dihindari. Mereka tak mampu melihat betapa mahalnya mutiara yang terkandung dalam setiap masalah. Ibarat mendaki gunung dalam sebuah tulisan, ada orang yang bertipe Quitters. Mereka mundur teratur dan menolak kesempatan yang diberikan oleh gunung.
 
Ada orang yang bertipe Campers, yang mendaki sampai ketinggian tertentu kemudian mengakhiri pendakiannya dan mencari tempat yang datar dan nyaman untuk berkemah. Mereka hanya mencapai sedikit kesuksesan tapi sudah merasa puas dengan hal itu.
 
Tipe ketiga adalah Climbers yaitu orang yang seumur hidupnya melakukan pendakian, dan tak pernah membiarkan apapun menghalangi pendakiannya. Orang seperti ini senantiasa melihat hidup ini sebagai ujian dan tantangan. Ia dapat mencapai puncak gunung karena memiliki mentalitas yang jauh lebih tinggi, mengalahkan tingginya gunung. Orang dengan tipe ini benar-benar meyakini apa yang pernah dikatakan Dag Hammarskjold, \’\’Jangan pernah mengukur tinggi sebuah gunung sebelum Kita mencapai puncaknya. Karena begitu ada di puncak, Kita akan melihat betapa rendahnya gunung itu.\’\’
 
Semua masalah sebenarnya adalah rahmat terselubung bagi kita. Mereka \’\’berjasa\’\’ karena dapat membuat kita lebih baik, lebih arif, lebih bijaksana, dan lebih sabar. Kita baru dapat disebut manajer yang baik kalau Kita mampu memimpin seorang bawahan yang sulit, yang membuat para manajer lain angkat tangan. Kita baru menjadi orang tua yang baik kalau Kita dapat menangani anak yang ! bermasalah, atau pun menantu yang keras kepala, yang melakukan sesuatu melebihi batas kesabaran Kita. Kita baru dapat disebut profesional kalau Kita mampu menangani pelanggan yang cerewet yang sering mengeluh dan banyak maunya. Untuk mencapai kesuksesan Kita perlu memiliki adversity quotient, yaitu kecerdasan dan daya tahan yang tinggi untuk menghadapi masalah.
 
Kecerdasan tersebut dimulai dari merubah pola pikir dan paradigma Kita sendiri. Mulailah melihat semua masalah yang Kita hadapi sebagai peluang, kesempatan, dan rahmat. Kita akan merasa tertantang, namun tetap mampu menjalani hidup yang tenang dan damai. Berbahagialah jika Kita memiliki masalah. Itu artinya Kita sedang hidup dan berkembang. Justru bila Kita tak punya masalah sama sekali, saya sarankan Kita segera berdoa, \’\’Ya Tuhan. Apakah Kau tak ! percaya lagi padaku, sehingga Kau tak mempercayakan satu pun kesulitan hidup untuk saya atasi?\’\’ Dengan berdoa demikian Kita tak perlu khawatir. Tuhan amat mengetahui kemampuan kita masing-masing. Ia tak akan pernah memberikan suatu beban yang kita tak sanggup memikulnya.
 
Vijnanasaratir yastu manah paragrahavan manah
So dhvanah apnoti tad wisnoh paramam padam

(Upanisad sloka 9)
 
Ia yang mengerti, seperti  kusir atas keretanya dan menguasai kendali atas pikirannya, dia akan mencapai akhir dari perjalanan, tempat bersemayam Yang Maha Tinggi
 
Kita ditantang untuk bekerja tanpa mengenal lelah agar dapat meraih keunggulan dalam pekerjaan kita. Tak semua orang terpanggil untuk menekuni pekerjaan profesional atau spesialisasi; bahkan lebih sedikit lagi yang naik ke tingkat kejeniusan dalam seni dan ilmu; banyak yang menjadi pekerja di pabrik,ladang, dan jalanan. Tapi, tak ada pekerjaan yang tak berarti. Semua pekerjaan yang mengangkat kemanusiaan itu memiliki martabat dan kepentingan, dan harus dilaksanakan dengan keunggulan yang sungguh-sungguh.
  
Kalau seseorang menjadi penyapu jalan, ia semestinya menyapu seperti Michaelangelo melukis atau Beethoven menggubah musik, atau Shakespeare menulis syair. Ia semestinya menyapu jalan begitu baik sehingga semua penghuni langit dan bumi sejenak berhenti untuk berkata, " Di sini hidup seorang penyapu jalan yang hebat, yang melakukan pekerjaannya dengan baik. " Begitu juga sebagai karyawan atau petambak, jika kita jalani dengan sungguh-sungguh dan penuh keikhlasan, niscaya keberhasilanpun akan semakin mendekat, kebahagiaanpun tidak akan jauh.
 
Dimana ada kehidupan, disitu pasti ada permasalahan. Namun, tahukah Kita bahwa di balik setiap masalah terkandung suatu peluang emas dan kesempatan yang besar untuk maju, tergantung bagaimana kita menyikapi, dan bagaimana kita mensyukurinya.
 
Memang terkadang rasa ketidakpuasan, dan besarnya keinginan bisa menjadi motivasi untuk selalu mendapatkan yang lebih, namun ketidakpuasan atau keinginan yang berlebihpun bisa menjadi jurang penghancur perjalanan hidup kita. Sering kita mengeluh, dengan yang kita dapatkan atau apa yang kita capai, dan hal itulah yang menjauhkan kita dari rasa bersyukur
 
Ada dua hal yang sering membuat kita tak bersyukur. Pertama, kita sering memfokuskan diri pada apa yang kita inginkan, bukan pada apa yang kita miliki. Katakanlah Anda sudah memiliki sebuah rumah, kendaraan, pekerjaan tetap, dan pasangan yang baik. Tapi Anda masih merasa kurang.
Pusatkanlah perhatian Anda pada sifat-sifat baik atasan, pasangan, dan orang-orang di sekitar Anda. Mereka akan menjadi lebih menyenangkan. Seorang pengarang pernah mengatakan, \’\’Menikahlah dengan orang yang Anda cintai, setelah itu cintailah orang yang Anda nikahi.\’\’ Ini perwujudan rasa syukur.
 
Hal kedua yang sering membuat kita tak bersyukur adalah kecenderungan membanding-bandingkan diri kita dengan orang lain. Kita merasa orang lain lebih beruntung. Kemanapun kita pergi, selalu ada orang yang lebih pandai, lebih tampan, lebih cantik, lebih percaya diri, dan lebih kaya dari kita.
Hidup akan lebih bahagia kalau kita dapat menikmati apa yang kita miliki. Karena itu bersyukur merupakan kualitas hati yang tertinggi Ada cerita menarik dari seorang rekan  yang mengeluh karena tak dapat membeli sepatu, padahal sepatunya sudah lama rusak. Suatu sore ia melihat seseorang yang tak mempunyai kaki, tapi tetap ceria. Saat itu juga ia berhenti mengeluh dan mulai bersyukur. Bagaimana dengan kita ??
 
Mimbar Hindu pada Majalah MItra Bahari  edisi Mei 2006
(Dikutip dari berbagai sumber)
 
* ) Alumni KMHDI Lampung, kini bekerja di PT Central Pertiwi Bahari – Dept Tax Pondsite
Komentar Anda