PEREMPUAN HINDU DI PANGGUNG SARASAMUCCAYA

 

Abstrak

       Perbedaan peran laki-laki dan perempuan yang didasarkan atas perbedaan jenis kelamin dengan mengekpose asumsi kelemahan biologis dan rasio adalah semata untuk menguatkan posisi status quo kekuasaan laki-laki atas perempuan. Konstruksi peran perempuan dengan landasan yang patriarkhis adalah menindas perempuan. Penindasan ini dalam bentuk praktis lahir sebagai subordinasi, kekerasan terhadap perempuan, beban kerja ganda serta marginalisasi dalam setiap ruang kehidupan.

       Sebagai sebuah konsep yang mengingkari kemanusiaan dengan mengijinkan penindasan atas manusia yang lain maka perlu adanya usaha untuk mengembalikan konsep gender sebagai konsep peran yang tidak terikat pada jenis kelamin-pun memberikan penghargaan yang sama terhadap kedua peran gender.  Perempuan harus dapat memilih perannya sendiri, tidak dalam batasan yang patriarkhis tetapi dalam keluasan nilai kemanusiaan. Sikap diskriminatif terhadap perempuan dan feminitas harus diganti dengan sikap yang apresiatif sehingga kesetaraan gender dapat terwujud secara holistik.

      Pertanyaan selanjutnya adalah lewat mana sosialisasi kesadaran gender ini akan dilakukan. Kita sudah sampai ditepi jurang ketidak sadaran gender yang kronis(Chronic gender inconciousnes) karena ideologi patriarkhy telah menempuh semua jalan yang tersedia untuk mengukuhkan posisinya, budaya, negara, agama maka lewat semuanya juga kita membangun wacana baru yang lebih memanusiakan. Tulisan ini menawarkan sebuah dekonstruksi wacana atas peran perempuan dan eksistensi perempuan Hindu dalam kitab Sarasamuccaya, dengan menempatkan perempuan dengan perspektif kemanusiaan sebagai pengamat dari sebuah teks yang patriarkhis     

 

Key words

Analisis Gender atas Peran dan Eksistensi Perempuan Hindu dalam Kitab Sarasamusccaya

 

KESADARAN GENDER, SEBUAH BINGKAI 

Menggunakan analisis gender sebagai sebuah kacamata untuk melihat konstruksi sosial yang ada, bisa dipastikan membawa konsekuensi yang mengejutkan bagi sebagian orang.

Perlu dipahami bahwa dalam perspektif kesadaran gender, kesetaraan hak perempuan bukan satu-satunya prinsip yang diperjuangkan. Mengingat dengan berbicara tentang hak perempuan tanpa melakukan pembongkaran terhadap hegemoni patriarkhis, sekali lagi telah membuat perjuangan perempuan berpusar dalam medan ilusi. Ketertindasan perempuan adalah fakta tak terpungkiri dan merupakan bagian yang tak terpisahkan dari realitas sosial kita. Penindasan ini sistemik. Terkait dengan pemahaman itu,  pembahasan  selanjutnya hendaknya dipahami sebagai bagian integral dari proses sosialisasi kesadaran gender yang komprehensif dan menyeluruh.

 

***

 

Berbicara mengenai perempuan, adalah berbicara mengenai konstruksi ketidakadilan tertua yang pernah ada di muka bumi. Bahkan sebelum ketidakadilan kelas lahir.

 

Sebagai contoh terdekat adalah penggunaan kata ‘perempuan’ untuk melabelisasi kaum ini.  Kata ‘perempuan’ berasal dari kata ‘empu’ yang berarti merawat atau mendidik. Implikasi linguistiknya perempuan adalah satu-satunya pihak yang memiliki kewajiban untuk merawat dan mendidik! Kaum ini telah dibebani tanggung jawab moral untuk merawat dan mendidik umat manusia, tanpa mereka pernah meminta  diserahi tanggungjawab seberat itu.

 

Pelekatan stereotype-stereotype seperti diatas, membuat perempuan teralienasi dalam posisinya. Mereka tidak pernah memilih untuk berperan dalam posisi yang mereka jalani. Peran, posisi dan fungsi itu telah dipilihkan untuk mereka oleh masyarakat yang patriarkhis. Pelekatan-pelekatan itu  membuat perempuan tidak menyatu dengan dirinya,  sebagai manusia yang memiliki kehendak bebas. Ini adalah kejahatan terhadap kemanusiaan.

 

Perjuangan perempuan bukan sebatas perjuangan hak untuk mendapatkan pendidikan yang lebih tinggi atau mendapatkan posisi sebagai pemimpin sekalipun. Essensi perjuangan perempuan adalah mengembalikan  hakikat kemanusiaan yang sekian lama sudah terampas dari dirinya. Ketika seseorang memiliki kuasa untuk memilih dan sadar akan konsekuensi pilihannya, ketika itulah ia meng-Ada sebagai manusia.

 

Hilangnya kemanusiaan perempuan, terampasnya eksistensinya sebagai manusia,  adalah bentukan suatu sistem sosial tertentu, yang harus  diwartakan, disiarkan kepada khalayak, dalam usaha membangun pemahaman yang lebih manusiawi tentang Manusia. Tidak hanya tentang Perempuan.

 

 

SEJARAH KETIMPANGAN GENDER

Sebagian orang yang percaya pada kodrat subordinat perempuan dengan berlindung pada justifikasi determinasi biologis,  akan sangat kecewa karena   sejatinya; tidak adanya korelasi signifikan antara kondisi biologis perempuan dengan sifat-sifat yang dilekatkan padanya.

 

Perempuan dan laki-laki memang berbeda secara biologis; pola distribusi lemak, volume otot adalah beberapa diantaranya. Tetapi soal volume otak  sepenuhnya adalah soal sosialisasi. Buktinya, 95%  manusia yang dominan adalah hemisfer kiri dan lebih dari separuh dari bayi yang baru lahir, memiliki otak kiri (pada area wernicke) 50% lebih besar dibanding otak kanannya,  tak pandang bulu jenis kelamin bayi itu. (Guyton et al, 1994) Sebabnya sederhana; dalam kandungan bayi lebih sering menggunakan otak kirinya, untuk mengkoordinasikan fungsi dasar tubuhnya sedang fungsi afeksi –yang dikoordinasi oleh otak kanan–  berkembang dalam tahap selanjutnya lewat sosialisasi.

 

Konsep gender lahir pada konteks yang jauh berbeda dengan adanya kita sekarang. Ketika manusia masih hidup sebagai pemburu,  klasifikasi fisik sangat menentukan distribusi kekuasaan. Sejak saat itu,  pelekatan peran gender pada jenis kelamin tertentu terjadi.

 

Ketika waktu terus bergulir, dan manusia tidak lagi berburu untuk hidup,    seharusnya distribusi kekuasaan tidak lagi  bicara soal klasifikasi fisik.  Perbedaan gender laki-laki dan perempuan, sudah saatnya mati.

Penindasan atas perempuan sudah berlangsung sekian lama dan telah  tertanam secara sistematis  dalam pola pikir masyarakat kita. Ia makin dikukuhkan  oleh legitimasi budaya lokal dan agama, yang selanjutnya berperan besar dalam keajegan konstruksi sosial primitif yang menindas itu.

Proses pencekokan doktrin agama –tanpa telaah kritis,  telah membawa kita ke tepi jurang ketidaksadaran gender yang kronis. Sebuah penyakit mematikan bernama ‘crhonic gender inconsiousness’. Dibutuhkan sebuah terapi sistemik untuk mengeliminasi kesakitan yang kronis.  Proses ini harus  dimulai dengan pembongkaran berbagai stereotype yang telah dilekatkan pada perempuan lewat berbagai media.

 

Pemaknaan kembali teks-teks keagamaan dalam konteks kesadaran gender adalah bagian dari  usaha pencarian makna yang lebih luas bagi teks-teks agama tersebut.

Sebuah kitab suci memuat berbagai ajaran yang diyakini adalah ‘wahyu’  dari Tuhan. Kitab tersebut berisi berbagai tuntunan untuk menjalani kehidupan yang ‘baik’ dan ‘suci’ bagi para pemeluknya. Demikianlah –sebagai sebuah jalan hidup,  setiap teks yang termuat dalam pustaka suci,  tentu harus bersentuhan dengan konteks dimana masyarakat manusia yang meyakininya,  hidup. Teks-teks tersebut tidak pernah lepas dari proses interpretasi sesuai ruang dan waktu dimana ia akan dijadikan acuan.

Tulisan ini menawarkan sebuah dekonstruksi yang dimulai dari pembongkaran atas teks-teks suci agama, sebagai langkah awal membangun kembali pemahaman kita bersama tentang Tuhan dan Perempuan.

 

SARASAMUSCCAYA DAN TAFSIR YANG HARUS DIDEKONSTRUKSI

Sarasamuccaya adalah sebuah kitab yang berisi tuntunan untuk menjalani hidup. Didalamnya ditulis tentang episode–episode kehidupan manusia. Sebuah teks yang diakui sebagai sebuah kitab suci,  punya legitimasi yang besar untuk ‘mengatur’ kehidupan manusia dan membentuk persepsinya tentang hidup dan apa yang dicari dalam hidup.

Sarasamuccaya adalah sebuah kitab yang lekat dengan umat Hindu. Besar kemungkinan,  pembentukan persepsi yang terjadi –melalui pemahaman atas kitab ini—telah sangat berakar dalam kehidupan umat Hindu, di Bali.

Bagaimana perempuan digambarkan dalam wacana Sarasamuccaya  adalah awal yang penting untuk mengenali citra (imej –) perempuan dalam Hindu Bali. Penelaahan kembali ini adalah langkah awal dari sebuah usaha perumusan solusi  bagi penindasan wacana yang dihadirkan oleh sebuah pustaka suci. Sarasamusccaya harus ditafsirkan secara lebih akomodatif dan berpihak pada kesejatian manusia, tanpa memandang jenis kelamin.

 

Perjuangan perempuan dalam perspektif kesadaran gender –sekali lagi– bukan semata masalah kesetaraan hak laki-laki vis a vis perempuan dalam perangkap ketidakberdayaan sebuah tubuh dengan jenis kelamin tertentu. Perjuangan ini  adalah soal kesempatan menjadi Manusia.

Ini adalah sebuah perjuangan dimana perempuan harus menyadari potensinya  dan memiliki akses untuk maju, memilih sebuah jalan hidup yang merdeka. Sebuah pembebasan. Bukankah Moksa pun adalah sebuah proses pembebasan?

 

SARASAMUCCAYA DALAM SILSILAH KITAB SUCI

Veda adalah kitab suci agama Hindu. Diyakini sebagai kitab suci karena sifat isinya dan diwahyukan oleh Tuhan. Sedangkan kata ‘Veda’ sendiri secara etimologis berarti kebenaran atau pengetahuan suci. Isi dari Veda adalah kebenaran dan pengetahuan suci yang diturunkan oleh Tuhan lewat para rsi.

Sebagai sebuah kitab suci,  maka Veda adalah acuan dasar atau sumber dari ajaran Hindu. Dari kitab Veda (lebih tepatnya kitab sruti–) ditulis kitab-kitab suci lain yaitu kitab Smerti, Itihasa, Purana, Tantra dan Darsana.

(1) Sruti adalah kitab-kitab yang disusun berdasarkan wahyu Tuhan yang didengar atau lewat penampakan Tuhan yang dilihat oleh para Maharsi. Smerti artinya “yang diingat”. Kitab Smerti merupakan penjabaran dari kitab Sruti dalam konteks kehidupan sehari-hari baik dalam tingkah laku pribadi, keluarga, kehidupan bermasyarakat bahkan bernegara. Kitab hukum ‘Manu’  atau ‘Manawa Dharma Sastra’ misalnya, adalah kitab smerti yang sering digunakan sebagi acuan.

Ramayana dan Mahabharata adalah dua kitab (2) Itihasa yang sangat terkenal.  Itihasa sendiri adalah penjelasan tentang ajaran Veda dalam bentuk cerita para raja-raja besar dan maharsi. Berikutnya adalah (3) Purana. Kitab jenis ini berkisah tentang kehidupan para dewa. Lewat kisah para dewa ini terangkum penjelasan tentang Veda. (4) Tantra adalah kitab yang menjelaskan tentang ritual. Lebih tepatnya pemujaan oleh masing-masing sekte. Yang terakhir adalah (5) Darsana yaitu kitab yang memuat ajaran filsafat Hindu. Tentang bagaimana seseorang dapat menemukan kebenaran.

     Itihasa sebagai sebuah kitab suci memiliki daya jangkau yang relatif lebih luas dibandingkan dengan kitab yang lain.Kemampuan penetrasi Itihasa  dikarenakan sifat dan isinya yang easy absorbdable (mudah dicerap–).

Personifikasi konflik kebaikan dan keburukan lewat kisah para raja,  membuat setting kisah menjadi realistis, dan  mudah dipahami. Bagaimana kisah Itihasa ini dibawakan juga memiliki andil penting. Hadirnya kisah Mahabharata dan Ramayana dalam berbagai kesenian rakyat,  semakin meneguhkan peran Itihasa. Orang yang menegenal kisah Ramayana dan Mahabharata mungkin tak terhitung jumlahnya.

Apa yang disajikan sebuah Itihasa besar,  seperti Mahabharata –yang ditulis oleh Bhagawan Byasa– telah membangkitkan upaya interpretasi dalam kehidupan yang lebih nyata pada konteks ruang dan waktu tertentu.

Sebagai usaha merangkum dan menyarikan Asta Dasa Parwa dari kitab Mahabharata, Bhagawan Wararucci menulis Sarasamuccaya, berdasarkan wejangan yang disampaikan Bagawan Waicampayana kepada prabu Janamejaya Kitab ini diperkirakan diterjemahkan dalam bahasa jawa kuno pada jaman Majapahit sebagi tuntunan bagi para pandita untuk mengahadapi kehidupan spiritualnya. (Pudja, 1984) Dalam perkembangannya, Sarasamuccaya kemudian tidak begitu populer di tanah Jawa,  tapi menjadi lebih populer di Bali.  Sebagian orang bahkan menyebutnya sebagai Bhagavad Gita-nya orang Bali. Sarasamuccaya adalah bukti bagaimana teks Mahabharata di-Jawa-kan dan di- pandita-kan untuk membuatnya sesuai dengan  konteks ruang dan waktu yang dijelajahinya.

Sarasamusccaya yang kita kenal sekarang adalah sebuah interpretasi kontekstual yang siap dikritisi. 

 

PERAN PEREMPUAN DI ‘PANGGUNG’ SARASAMUCCAYA

Selama ini, proses menjadi Manusia adalah proses yang dimonopoli laki-laki. Maka  kisah-kisah episode besar kehidupan manusia  dalam Sarasamuccaya pun, mengambil  lelaki sebagai aktor utamanya. Perempuan menjadi figuran, yang perannya  terus berganti,  seiring lahirnya sebuah episode baru kehidupan sang lelakon;  lelaki.

 

***

Bagian awal kitab Sarassamusccaya menulis tentang bagaimana seorang anak lelaki tahu tentang perempuan,  dari apa yang diwejangkan padanya.

 ”….Akan guna wanita adalah untuk menjadi istri dan untuk melanjutkan keturunan…” (Sloka 177, Sarassamusccaya)

 

Menjadi istri adalah pilihan yang serta merta juga berarti menjadi penurut dan pasrah.  Apa yang terjadi jika ia tidak menjadi istri yang penurut? Perempuan akan dikutuk, bermetamorphosis menjadi pengganggu dalam proses menjadi manusia yang diperankan lakon lelaki.  Hanya itu pilihan yang ditawarkan Sarassamusccaya. Perempuan tidak punya hak untuk menjalani kehidupannya sendiri. Kaum ini tidak punya hak menjalani prosesnya menuju Manusia,  tanpa harus menjadi hamba atau dicap sebagai ‘pengganggu’.

 

Sejatinya, para lelaki-lah  yang telah menghapus hak perempuan untuk menjadi manusia. Lelaki-lah yang sepantasnya dikutuk sebagai ‘pengganggu’.

 

***

 

Tetapi rupanya, sang anak lelaki (dan perempuan–) sudah terlanjur hidup dalam ilusi tentang ‘perempuan’ dan ‘istri’,  sampai pada saat ia tiba pada episode berikutnya dalam kehidupan. Sarasasamusccaya lalu beralih menceritakan masa Brahmacarya.

 

Ketika sang lelaki kecil meresapi dirinya sebagai anak –yang kehidupannya di muka bumi dihantarkan melalui rahim perempuan– maka ia menemukan gambaran baru tentang perempuan.

 

“Sebab jauh lebih berat kewajiban ibu daripada beratnya bumi karenanya patut dihormati beliau dengan sungguh-sungguh, tanpa ragu-ragu.” (Sloka 240, Sarassamusccaya)

 

Bahkan mereka mengutuk ketidakadilan yang dilakukan terhadap perempuan dengan hukuman yang tidak ringan

 

“Orang yang ditinggalkan oleh ibunya, yang disebabkan karena bermusuhan terhadap ibunya, miskinlah orang itu disebut mengalami duka nestapa, dan hal itu menyebabkan dunia tidak ada apa-apanya, sepi adanya.” (Sloka 247, Sarassamusccaya)

 

Waktu terus bergulir. Sarasamusccaya mengisahkan sang lakon harus mulai menghadapi perkembangan biologisnya sendiri. Seperti pengembara yang tak tahan untuk memetik mawar. Ketika setangkai mawar mulai mengembang, tentunya sangat cantik warna dan bentuk yang ditampilkannya. Ketika seorang pengembara  berhenti untuk memetik dan tergores duri,  salahkah mawar karena berduri? Sungguh menggelikan menyalahkan perempuan untuk kesedihan yang diciptakan sendiri oleh lelaki lewat prasangkanya.

 

Cerita dalam kitab ini mulai bergeser seiring ketakutan laki-laki akan prasangkanya sendiri tentang perempuan. Lelaki telah mengubah sosok perempuan dari imaji tentang ‘Ibu’ yang maha pengasih dan penyayang, menjadi monster yang menakutkan. Karena itu,  mereka harus takut bahkan kalau perlu menghindar.

 

“Sesungguhnya wanita itu tak lain daripada sulap, berbahaya, berwujud kemarahan, cemburu; oleh karena itu dijauhkan oleh sang pandita, sebab tiada bedanya dengan sesuatu yang tidak suci, sesuatu yang menjijikkan, sesuatu yang kotor.” (Sloka 434 Sarassamusccaya)

 

“Alat pada tubuh wanita, yaitu kulit yang berukuran sebesar ‘jejak kaki kijang’,  di tengahnya terdapatlah luka mengaga yang tak pernah sembuh, yang menjadi saluran air seni, darah penuh berisi keringat dan segala macam kotoran; itulah yang membuat orang bingung di dunia ini, kegila-gilaan, buta dan tuli karenanya.” (Sloka 437-438, Sarassamusccaya)

 

 

Perempuan dan alat kelamin di tubuhnya itu,  telah berubah menjadi sesosok musuh maha kuat bagi laki-laki. 

 

Mereka tidak mampu melawan monster yang hadir lewat prasangka mereka sendiri dan mulai membuat dalil-dalil yang sama sekali tidak manusiawi sebagai legitimasi atas pilihan mereka; menjauhkan perempuan dari kehidupan mereka.

 

Menjadi laki-laki adalah menjadi penguasa. Bersentuhan dengan perempuan adalah ketakutan untuk ditaklukkan.

 

”Luka itu digangsir selalu, tetapi tidak ada yang rapuh, tidak ambruk pinggirnya, malahan alat penggangsirnya yang menjadi lemah, hilang kekuatannya, lenyap kekayaannya.” (Sloka 439, Sarassamusccaya)

 

Segala macam hegemoni tentang kenistaan perempuan ditumbuhkan, dibiarkan berakar dan bercabang. Tidak cukup hanya menumbuhkan ketakutan akan apa yang tampak dari fisik perempuan, sang lakon mencari sisi lain yang lagi-lagi sama sekali adalah prasangka.

 

Segala macam kesedihan sang lakon ditimpakan pada perempuan

 

“Di antara sekian banyak yang dirindukan, tidak ada yang menyamai wanita dalam membuat kesengsaraaan.” (Sloka 424, Sarassamusccaya)

 

“Pendeknya yang disebut wanita itu merupakan pangkal prihatin saja.” (Sloka 425, Sarassamusccaya)

 

Kesimpulan tentang tingkah laku yang buruk yang digeneralisir pada setiap perempuan. Berbagai cerita tentang betapa berdosanya para perempuan mengalir sebagai bagian yang penting dalam lakon episode ini.

 

Bahkan Sarassamusccaya menarik teksnya sendiri tentang keutamaan perempuan sebagai ibu karena sudah tertutuplah kenyataan oleh ketakutan sang lakon lelaki akan pikirannya sendiri.

 

”Jangan tidak berhati-hati, jangan bersenda gurau, bercakap berduaan dengan ibu anda, saudara perempuan anda,  anak perempuan anda karena cepat benar menyusup pengaruh indria (nafsu birahi) itu. Meski sang pandita sekalipun tertarik olehnya.”  (Sloka 442, Sarassamusccaya)

 

    

Waktu terus bergulir dan lakon lelaki itu mulai lelah. Ia  menjadi semakin inkonsisten pada tahap akhir dalam kehidupannya. Mereka dituntut untuk mengambil sikap atas penilaian super-negatif yang mereka ciptakan sendiri,  tentang perempuan. Mereka terjebak dalam lingkaran setan, antara ketakutan dan kebutuhan.

 

Namun, ketika sudah memutuskan mengambil peran sebagai kepala rumahtangga (Wanaphrasta), laki-laki berada pada titik yang paling egois dan inkonsisten,   saat memutuskan meninggalkan istri dan anaknya ke hutan untuk menyepi (Bhiksuka).

 

Setelah menghujat perempuan dengan segala kenistaan, laki-laki malah membebankan tugas untuk menjaga kelangsungan spesies manusia pada perempuan. Pada akhirnya, para lakon lelaki itu akan kembali lahir dari tempat yang mereka tuduhkan ‘kotor’ dan ‘hina’ itu.

 

Menjadi manusia adalah menghormati kehidupan dan lewat jalan itulah kehidupan diantarkan. Hal ini membuat tuntutan  laki-laki agar perempuan mengabdi sepenuhnya pada lakon lelaki,  menjadi sangat berlebihan bagi perempuan. Tapi bagaimanapun juga kitab ini harus ditutup, dan peran perempuan tetap tidak pernah sampai pada satu bentuk yang baku sampai ayat dan sloka  terakhir Sarasamusccaya.

 

***

Dalam Sarassamusccaya,  peran perempuan tidak pernah sampai pada satu kesimpulan. Mereka  terombang-ambing dalam ambiguitas sampai pada akhir cerita. Teks Sarasamusccaya adalah teks lakon lelaki. Perempuan hanya diberi peran sebagai figuran. Peran sebagai pelengkap dalam setiap episode kehidupan laki-laki. Satu saat  dibutuhkan,  saat lain dinistakan. Sarasamusccaya adalah sebuah teks besar yang patriarkhis dan penuh inkonsistensi. 

 

Tetapi apakah perempuan lantas diam begitu saja ditempatkan bagai bidak catur yang sewaktu-waktu dapat dipindahkan tanpa bisa melawan?  Seyogyanya, Perempuan adalah subyek yang dapat memilih perannya sendiri. Bagi para perempuan Bali Hindu yang hidup saat ini,  konteks wacana Sarasamuccaya sudah berubah. Sudah saatnya otoritas wacana ini,  tidak lagi dimonopoli laki- laki.  Sudah saatnya, perempuan  meraih peran dan membangun cerita baru.

 

PEREMPUAN MENGAMBIL PERAN, MEMBANGUN CERITA

Sebuah kitab diyakini sebagai teks suci,  karena isi dan sifatnya yang diwahyukan oleh Tuhan.  Apa pun yang diwahyukan Tuhan, apapun yang suci,  tentunya penuh welas asih.

Hindu adalah agama yang ‘Membebaskan’ setiap pemeluknya. Tak ada pembedaan –apalagi penindasan– di sana. Perempuan –jangan lupa—juga adalah manusia. Maka  ketika ia beragama Hindu,  ia memiliki hak yang sama untuk mengecap kebebasan yang ditawarkan ajaran agama ini.

Komentar Anda