MENGHADAPI MASALAH BAGI SEORANG KADER KMHDI SEBAGAI BAGIAN DALAM PROSES PENDEWASAAN BERORGANISASI

 

Masalah….masalah….masalah lagi…seperti pepatah lama…mati satu tumbuh seribu….selesai masalah yang satu…muncul lagi masalah yang lain….orang-orang bilang, hidup tanpa masalah seperti masakan tanpa garam & bumbu penyedap…akan hambar rasanya….tapi terlalu banyak diberi garampun…gak akan enak dirasakan..so’ jadilah koki yang baik…dalam memasak sehingga santapan kehidupan ini terasa nikmat. (loh??)

 

Masing-masing kader KMHDI di berbagai belahan nusantara memiliki latar belakang budaya,serta karakteristik yang berbeda….sungguh bhineka tunggal ika…begitu melekat di hati sanubari kita. Namun masalah tidak memandang latar belakang, jenis kelamin, tingkat ekonomi, SARA, bahkan usia sekalipun…sebab masalah atau persoalan merupakan satu hal yang tidak akan luput dari hidup manusia. Masalah bisa muncul dimanapun, kapanpun, apapun ,dan siapapun. Menyikapi serta menghadapi setiap permasalahan akan menjadi ‘tantangan hidup’ bagi kader KMHDI yang berpikir positif, namun sebaliknya justru akan menjadi ‘beban hidup’ bagi mereka yang pesimistis dan mudah putus asa.

 

Jika kita cermati, berbagai permasalahan yang sama yang menimpa manusia, akan disikapi secara berbeda-beda. Ada yang begitu panik, kalut, stress, goyah/bimbang, namun ada pula yang menyikapi dengan santai, mantap, tenang, bahkan malah menikmatinya. Hal ini berarti bahwa persoalan yang sesungguhnya bukan terletak pada masalahnya, melainkan pada bagaimana sikap kita terhadap persoalan tersebut. (Abdullah Gymnastiar, 2004)

 

Seorang kader KMHDI harus dituntut mampu menyikapi berbagai masalah yang menempanya untuk menjadi manusia Hindu yang berkualitas. Baik masalah pribadi hingga masalah organisasi yang membutuhkan penanganan manajemen konflik serta kedewasaan dalam bertindak, berucap, serta berpikir sesuai konsep Tri Kaya Parisudha. Survey membuktikan penanganan konflik sangat tergantung pada masing-masing karakter pribadi seorang kader KMHDI dimana ditentukan oleh banyak hal, semisal, kematangan psikologis, pengalaman organisasi, keluasan bahan bacaan dan lingkungan interaktif diskusinya. Itulah sebabnya mengapa terdapat materi Metode Ilmiah dan model berpikir dalam Masa Pengenalan Anggota Baru (MPAB), diharapkan kader-kader KMHDI mampu memahami secara cermat permasalahan yang sedang dihadapinya.

 

Kegiatan berorganisasi bagi seorang aktifis Hindu, harus dipandang sebagai sebuah perwujudan dari konsep “punia”, dalam pengertian ini, seorang aktifis bukan hanya harus siap mengorbankan tenaga, dana dan waktu bagi organisasi, tapi seorang aktifis juga harus siap untuk mengorbankan “hati” yang diwujudkan dengan bersikap lebih dewasa. Dengan lebih mendewasakan diri, kita dapat berharap bahwa di masa depan Hindu akan memiliki  kader-kader muda yang siap untuk menerima tongkat estafet dari golongan “pe-nua” pada saat ini.(Made Surya Putra)

 

Adakalanya masalah yang kita hadapi begitu berat sehingga kita merasa tidak sanggup untuk mengatasinya, pikiran terasa begitu buntu dalam upaya pencarian solusi, usaha yang kita lakukan terasa sia-sia, bahkan bantuan serta pertolongan yang kita harapkan tidak kunjung datang…hingga rasa putus asa pun menjadi momok pada setiap klimaks hadirnya setiap masalah yang menimpa kita. Kalau sudah begitu hanya pasrah dan berserah diri kepada-Nya menjadi jalan satu-satunya. Namun yang menjadi pertanyaan, apakah akan begitu mudah seorang kader KMHDI untuk putus asa serta lemah dalam menghadapi masalah/ persoalan….??? Mudah-mudahan tidak… (hal ini juga berlaku bagi penulis yang banyak masalah:p)

 

Dalam Bhagawad Gita dijelaskan bahwa kebimbangan yang kita rasakan dalam menghadapi permasalahan hidup dikarenakan kita tidak atau belum dapat melepaskan diri dari sifat-sifat Tri Guna yang ada dalam setiap  unsur (Butha). Bahkan jika nanti kita telah menghadap pada-Nya pun, kita masih belum dapat mencapai MOKSA jika kita masih terikat karma baik di kehidupan dahulu, kini, dan masa depan (duuh..kok tambah pusing ya…:)

Mengutip salah satu sloka dalam Bhagawad Gita:

Traigunya wisaya weda

Nistraigunyo bha warjuna,

Nirdwandwo nitya sattastho,

Niryogaksema atmawan.

( Weda menguraikan tentang Triguna, Arjuna, bebaskanlah dirimu dari padanya. Bebaskanlah diri dari dualisme. Pusatkan pikiranmu kepada kebenaran, lepaskanlah dirimu dari duniawi, bersatu dengan Atman).

 

Sifat-sifat Tri Guna (Sattwa, Rajah, Tamah) jika berpadu akan menimbulkan sifat tertentu sebagai ciptaan atau kejadian. Dalam hal ini Krisna mengajarkan pada Arjuna agar membebaskan diri dari ketiga Guna tersebut dan berada dalam keadaan equilibrium (tenang) yaitu sifat Sattwa pada Sattwa, sifat tamah pada Tamah. Selama  ada dalam sifatnya sendiri tidak ada kesan atau perasaan yang berbeda. Dengan berpegang pada suatu sifat orang tidak akan terpengaruh atau terbawa oleh sifat lain yang esensinya berbeda dan dapat saling bertentangan. Pertentangan inilah yang akan melahirkan kecenderungan dan pengembangan yang dapat memperlemah disiplin diri, menyimpang dari sifat yang diharapkan.

 

Ironisnya…manusia terkadang lupa pada-Nya disaat penuh suka cita dan bahagia…namun dilain waktu, ketika kita tertimpa masalah pelik, musibah , tragedy, cobaan bertubi-tubi atau apalah namanya…baru kita ingat bahwa kita “makhluk ciptaan-Nya” yang tidak berdaya, lemah, dan penuh dosa. Jika dianalogikan, manusia mungkin hanya setitik noda atau kotoran yang sekali usap langsung hilang, sangat tidak sebanding dengan kuasa-Nya yang begitu besar. Atau kita baru dapat merasakan betapa kecilnya manusia dibandingkan alam semesta saat usai pendakian dan berdiri di puncak gunung. Saat gembira…kita terlalu hanyut dalam eufhoria kebahagiaan sesaat……sebab mungkin saja itu adalah awal kekalahan dan kesusahan yang akan kita hadapi…sebaliknya saat kita tertimpa musibah atau cobaan hebat…kita cenderung sulit mengambil hikmah di balik musibah itu, hanyut dalam kesedihan dan penderitaan, karena mungkin saja hal tersebut…akan menjadi awal kemenangan kita…astungkara Hyang Widhi Wasa….

 

 

Sloka lain dalam Bhagawad Gita menyebutkan :

Yam hi na wyathayantyet

Purusam purusarsabha,

Samaduhkhasukham dhiram

So’ mritatwaya kalpate.

( Sesungguhnya orang yang teguh pikirannya oh Arjuna, yng merasakan sama antara susah dan senang, orang seperti inilah yang patut hidup kekal abadi)

 

 

Na  prahasyet priyam prapya

No ‘dwijet prapya ca priyam,

         Sthirabuddhir asammudho

Brahmawid brahmani sthitah.

 

(Dia) tidak bergirang menerima suka, dan juga tidak bersedih menerima duka, tetap dalam kebijaksanaan teguh iman, mengetahui Brahman, bersatu dalam Brahman.

 

Adakah kader KMHDI yang telah mencapai tahap/ fase kehidupan seperti itu…??? Mungkin dapat dikatakan belum ada dan belum bisa…Kita semua masih sangat terikat dengan kehidupan duniawi. Tahap brahmacari (menuntut ilmu)yang sedang kita jalani dalam mengemban dharma agama dan dharma negara, akan menjadi proses pendewasaan kader-kader KMHDI dalam menjalani kehidupan sebagai manusia Hindu yang berkualitas.

               

Oleh karena itu, siapapun ia yang ingin menikmati hidup ini dengan sebaik-baiknya, maka ia harus senantiasa meningkatkan kualitas hidupnya dengan meningkatkan ilmu dan keterampilannya dalam menghadapi beragam persoalan. Dengan bertambahnya usia, tuntutan, harapan, kebutuhan, cita-cita serta tanggung jawab, maka kuantitas dan kualitas masalah pun pada umumnya akan terus meningkat. Dalam buku MQ’nya AA’ Gym dijelaskan sejumlah kiat-kiat sederhana yang dapat kita lakukan untuk menghadapi terpaan masalah hidup, sbb:

  1. Kita harus menyadari bahwa kita hanyalah makhluk ciptaan-Nya yang memiliki banyak keterbatasan untuk mengetahui  segala hal yang tidak terjangkau oleh daya nalar dan kemampuan kita, sehingga kitapun harus siap menghadapi akan hal-hal yang tidak sesuai dan diluar keinginan kita. Manusia boleh berusaha, namun Tuhan juga yang memutuskan.
  2. Ikhlas. Hidup terdiri dari berbagai episode yang tidak monoton. Ini adalah kenyataan hidup. Jadi kita harus benar-benar arif dalam menyikapi setiap episode dengan lapang dada, kepala dingin, dan hati yang ikhlas.
  3. Jangan mempersulit diri. Dalam menghadapi persoalan biasanya kita cenderung mendramatisir suasana sehingga selalu hanyut dalam pikiran yang salah. Berpikir positif akan membantu menyelesaikan setiap permasalahan yang menghampiri kita. Yakinlah Tuhan Maha Mengetahui, dan Dia tidak akan menguji hamba-Nya melebihi batas kemampuan yang kita miliki.
  4. Evaluasi diri. Ketahuilah , hidup  ini bagai gaung di pegunungan, apa yang kita bunyikan, suara itu pulalah yang akan kembali pada kita. Konsep karmaphala dalam Hindu, dimana segala yang terjadi pada kita merupakan buah/ hasil dari perbuatan kita sendiri. Kita cenderung menyalahkan orang lain dari kesalahan yang sebenarnya kita perbuat sendiri. Jangan berharap orang lain akan berubah sesuai keinginan kita,jika kita sendiri tidak mau berubah. Jadikanlah setiap masalah sebagai sarana yang efektif untuk mengevaluasi dan memperbaiki diri.
  5. Yakin akan pertolongan Tuhan Yang Maha Esa. Jangan takut akan masalah, justru yang harus kita takutkan adalah ketika kita telah optimal berusaha, namun tetap menemui jalan buntu, hingga kita kemudian berputus asa dari rahmat-Nya. Artinya , setelah usaha yang sungguh-sungguh kita lakukan kita malah makin melupakan kekuasaan-Nya. Janganlah gentar menghadapi setiap permasalahan. Ingatlah teman…..mudah-mudahan setiap masalah yang menghadang kita…..akan menjadi jalan pembelajaran yang semakin mematangkan diri, mendewasakan, menambah ilmu, meluaskan pengalaman,melipatgandakan swadharma, dan menjadikan hidup ini jauh lebih berkualitas…..dalam tujuan hidup kita sebagai umat Hindu, yaitu Moksartam Jagad Hita ya Ca Iti Dharma.

 

N. K. Hanny Dewiyana

Ketua Departemen Litbang PP KMHDI Periode 2006 – 2008

 

Sumber : Antologi Sastra Digital KMHDI 

Komentar Anda