KADERISASI SEBAGAI SEBUAH KEHARUSAN

 

Alam reformasi di Negara kita telah berumur enam tahun lebih, namun ada fakta dilapangan yang sungguh tidak patut ditiru dari beberapa pemimpin kita adalah sikap yang tertutup terhadap segala kritik, saran dan koreksi. Memandang sempit ajakan untuk duduk dalam forum terbuka adalah sikap arogan yang tidak pada tempatnya. Sikap yang sangat kontradiktif dengan adab demokrasi itu sendiri padahal Negara Indonesia katanya mengaku menjunjung tinggi adab demokrasi dalam segala bidang kehidupan bermasyarakat. Sikap yang menunjukkan pemahaman sempit terhadap demokrasi dengan memandang hakikat demokrasi hanya ada pada perangkat/lembaga yang menjalankannya. Ini adalah sikap dan pikiran yang perlu mendapat perhatian dan koreksi secara mendasar yaitu sikap pengingkaran terhadap prinsip yang dijunjungnya.Pengabdian pada masyarakat adalah tugas setiap orang yang sadar akan pentingnya peran, posisi dan potensi dirinya bagi masyarakat. Tak perlu ada lisensi khusus yang diberikan oleh lembaga pemerintahan atau harus mendapat pengakuan dari pemerintah. Siapapun yang memiliki inisiatif untuk berpartisipasi dapat menjalankan fungsinya di tengah masyarakat dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab. Ini adalah prinsip berpartisipasi yang bertanggung jawab..

 

Mahasiswa yang berdemonstrasi menentang kebijakan pemerintah tak perlu izin dari MPR/DPR ataupun Presiden RI dalam menjalankan aksinya. Buruh pabrik yang menentang kebijakan perusahaan tak perlu surat izin dari pihak perusahaan saat berdemonstrasi. Mahasiswa yang Kuliah Kerja Nyata (KKN ) ke daerah pedalaman tak perlu izin dari MPR/DPR atau Presiden RI untuk mengadakan kegiatan pengabdian masyarakat di sana. Jika kekuasaan menjadi alasan untuk membungkam aspirasi dan partisipasi politik setiap individu maupun organisasi, maka ini pertanda bahwa penguasa sudah membunuh demokrasi yang lahir lewat cita cita nasionalismenya. Sadarkah mereka yang melihat maupun yang menjalankannya? Bagaimana kita bisa dibutakan oleh kekuasaan yang kita buat sendiri? Apakah kita tidak belajar sedikitpun dari teman kita sendiri yang sering kita tuduh komunis?

Hal diatas merupakan salah satu pernyataan untuk mewujudkan  kegelisahan yang menjangkiti kita semua terhadap kondisi dunia kemahasiswaan kita utamanya dalam berorganisasi. Kegelisahan yang melihat adanya tanda-tanda kemunduran akal pikiran dalam masyarakat kita, terutama mahasiswa. Secara tak sadar dan perlahan-lahan namun pasti, kita telah dibutakan oleh pemahaman kita yang sempit, kita telah dibutakan oleh kebodohan yang lahir dari sikap tidak peduli terhadap orang lain apalagi komunitas kita sendiri. Kita telah kehilangan pemimpin-pemimpin yang mampu membuka cakrawala berpikir dan mengangkat komunitas kita dari kemunduran dan telah digantikan oleh kebutaan dan sempitnya cakrawala pikiran. Jika dunia kemahasiswaan kita hanya melahirkan manusia yang berpikir seperti mesin ketimbang orang yang kritis dan mampu melihat masa depan, apa kata dunia?

 

Kaderisasi tidak lagi hanya untuk mengurusi pergantian kepemimpinan/kepengurusan organisasi. Kaderisasi bukan hanya untuk menurunkan tradisi kemahasiswaan tanpa ada orientasi untuk masyarakat. Kaderisasi bukan dibuat hanya untuk ajang seremonial penerimaan anggota baru. Kaderisasi tidak boleh hanya menjadi rutinitas tahunan yang penuh kebohongan/kesemuan demi lembaran kertas pertangungjawaban di akhir kepengurusan. Kaderisasi harus membuat perubahan! Kaderisasi harus membuka cakrawala berpikir! Kaderisasi harus menghadapi konflik yang membesarkannya. Kaderisasi harus mampu menjawab tantangan masa depan. Kaderisasi harus mampu menanamkan pentingnya prinsip dalam beraktifitas. Kaderisasi harus mengangkat kesadaran. Jika kaderisasi dibuat untuk membuat kita lupa (bahkan buta) terhadap diri kita dan masyarakat, membuat mabuk kepayang dan ketagihan seremonial/formalitas, maka artinya kaderisasi telah menggali kuburannya sendiri.

 

 

Gede Kirtana Yoga

Ketua Departemen Kaderisasi PP KMHDI Periode 2003 – 2006

 

Sumber : Antologi Sastra Digital KMHDI 

Komentar Anda