Aktivis Tidak Ngambul

Ada sebuah ciri khas dari organisasi-organisasi mahasiswa yang pernah diikuti oleh penulis. Pada setiap level organisasi atau pada setiap kegiatan yang dilaksanakan, selalu terdapat beberapa anggota atau sekelompok anggota yang “ngambul”. Penulis mencoba mendefisikan kata “ngambul “ sebagai suatu tindakan ketidak setujuan terhadap garis kebijakan organisasi yang diwujudkan dengan tindakan yang non-konstruktif. Tindakan ini dapat berupa tindakan yang pasif maupun aktif. Salah satu kegiatan pasif misalnya mogok kegiatan sedangkan kegiatan aktif, seperti melakukan kegiatan penghambatan yang terencana.

 

Kondisi “ngambul” umumnya tidak tercipta dengan sendirinya, ada beberapa faktor yang ikut mempengaruhi terjadinya “bencana” ini. Pertama, karakter pribadi  anggota, Ke-dua, sistem kerja organisasi, Ke-tiga, cara pengambilan kebijakan dalam organisasi dan Ke-empat formulasi penanganan konflik oleh pengambil keputusan. Empat point diatas hanya bagian kecil dari variabel-variabel yang secara teoritis ikut mempengaruhi kondisi “ngambul”, namun dari pengamatan penulis selama ini, empat faktor tersebut mengambil peranan yang sangat besar dalam terjadinya proses “ngambul”. Fokus tulisan ini adalah karakter pribadi penyebab “ngambul”.

 

Karakter pribadi seorang mahasiswa anggota suatu organisasi ditentukan oleh banyak hal, semisal, kematangan psikologis, pengalaman organisasi, keluasan bahan bacaan dan lingkungan interaktif diskusinya. Kematangan psikologis seorang mahasiswa secara umum, berada pada tahap yang disebut dengan istilah “Remaja-Dewasa. Dalam proses peralihan jati diri, kematangan psikologis seorang “remaja dewasa” selalu bergerak antara “kegundahan” seorang remaja dan “kemantapan tindak” seorang dewasa”. Adalah suatu situasi yang sangat wajar apabila dalam proses pencarian jati diri ini, seorang mahasiswa mengalami kegamangan perasaan yan kemudian bermanifestasi dalam bentuk “ngambul”.

 

Namun adalah tidak wajar apabila rasa “ngambul” ini kemudian terpendam dan terakumulasi, sehingga berwujud dalam tindakan jangka panjang. Sesuai dengan karakter remaja yang selalu mengalami perubahan, seharusnya seseorang yang mengambil sikap “ngambul”, segera melakukan tindakan evaluasi pada diri dan lingkungannya, sehingga dengan cepat dapat diformulasikan tindakan-tindakan yang akan meminimalisir efek buruk dari “ngambul”. Dalam banyak kasus, proses evaluasi ini harus dibantu oleh orang kedua. Disini fungsi teman akrab atau pengurus organisasi serta “pe-nua” organisasi mengambil peranan penting, dengan catatan orang kedua ini bukanlah orang-orang yang biasa mengambil sikap yang sama dengan yang sedang “ngambul”.

 

Kegiatan berorganisasi bagi seorang aktifis Hindu, harus dipandang sebagai sebuah perwujudan dari konsep “punia”, dalam pengertian ini, seorang aktifis bukan hanya harus siap mengorbankan tenaga, dana dan waktu bagi organisasi, tapi seorang aktifis juga harus siap untuk mengorbankan “hati” yang diwujudkan dengan bersikap lebih dewasa. Dengan lebih mendewasakan diri, kita dapat berharap bahwa di masa depan Hindu akan memiliki  kader-kader muda yang siap untuk menerima tongkat estafet dari golongan “pe-nua” pada saat ini.

 

Sebuah bayangan negatif yang paling dikuatirkan oleh penulis akan berkembang pada organisasi-organisasi Hindu di masa depan adalah kecenderungan untuk mengembangkan sikap “ngambul” pada sebagian besar anggota organisasi. Semoga ini hanya sebuah khayalan yang tidak akan pernah terwujud, namun demikian, seruan untuk selalu menghindari sikap “ngambul” dengan cara mendewasakan diri dan mengerti bahwa makna dari aktifis adalah “punia” semoga juga selalu ada di hati setiap rekan-rekan yang bergiat di organisasi Hindu.

 

Made Surya Putra

Ketua Departemen Litbang PP KMHDI Periode 1999 – 2002

 

Sumber : Antologi Sastra Digital KMHDI 

 

Komentar Anda

Mungkin Anda Menyukai